PELUNCURAN BUKU “BADRIYAH” KARYA AYU WEDA

Pustaka Bentara
PELUNCURAN BUKU “BADRIYAH” KARYA AYU WEDA
Pembacaan Karya, Pertunjukan Musik & Tari
Jumat, 8 April 2016 pukul 18.30 WITA

pustaka-cover badriyahSebuah kumpulan cerpen karya Ayu Weda, bertajuk “Badriyah”, diluncurkan pada acara Pustaka Bentara kali ini. Buku ini merangkum 12 cerita pendek, diterbitkan oleh Gambang Buku Budaya, dengan editor Cok Sawitri. Buku kumpulan cerpen “Badriyah”banyak berkisah tentang perempuan, sosial-politik, dan kemanusiaan.Cerita-cerita menunjukkan bagaimana subjek keluar-masuk dunia objektif yang diungkapnya, antara dingin dan emosional, terharu dan bingung, kritis dan lebur silih berganti, dalam pergulatan untuk mendapatkan kejernihan dan pencerahan di dunia yang amburadul.

Subjek atau tokoh dalam buku ini beredar di antara para menteri, kiai, pengusaha, intelektual, dan seniman, semuanya dari kelas atas, yang memberi janji tersingkapnya berbagai dunia yang selama ini hanya terpandang dari kejauhan. Pada saat yang sama, melalui kepiawaian berceritanya, pengarang juga memiliki kepedulian dan perhatian kepada mereka yang tidak mendapat tempat dan tidak tercatat. Buku ini layak diapresiasi.

Pada acara peluncuran kali ini akan tampil sastrawan, penari, pemusik dan komposer, yang masing-masing melakukan respon kreatif atas cerpen yang terangkum dalam buku “Badriyah” ini. Antara lain; pembacaan puisi oleh Zawawi Imron, monolog Ayu Laksmi, komposer Gde Yudane, pertunjukan Arja Siki oleh Cok Sawitri, pertunjukan musik oleh Sawung Jabo dan Anak Angin, Tabanan, Boping Suryadi, tari kontemporer oleh Jasmine Okubo, dan lain-lain.

Pustaka _Ayu WedaI Gusti Made Ayu Wedayanti, lahir di Singaraja-Bali, 1 September 1963. Akrab dikenal sebagai Ayu Weda. Dari SMA Negeri 1 Singaraja Bali ia melanjutkan kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Jurusan Sosiologi, Universitas Airlangga angkatan 1983, tamat 1989. Pada era 1980-an dikenal sebagai Lady Rocker, telah menghasilkan beberapa album. Selain itu, dia juga dikenal sebagai pemerhati seni, sosial budaya, dan ssatra sejak masa kuliah hingga sekarang. Aktivitas yang banyak dijalani adalah sebagai artis, event organizer, serta aktivis kemanusiaan dan lingkungan.

Ayu Weda juga pernah menjadi finalis Puteri Remaja Indonesia tahun 1981 yang diselenggarakan Majalah Gadis. Juara tiga dan penampil terbaik pemilihan Bintang Radio dan Televisi tingkat nasional tahun 1980 bersama grupnya Ayu Sisters.

Zawawi ImronD. Zawawi Imron, lahir di desa Batang-Batang, KabupatenSumenep, dia mulai terkenal dalam percaturan sastra Indonesia sejak Temu Penyair 10 Kota di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada tahun 1982. Sejak tamat Sekolah Rakyat, dia melanjutkan pendidikannya di Pesantren Lambicabbi, Gapura, Semenep. Kumpulan sajaknya Bulan Tertusuk Ilallang mengilhami Sutradara Garin Nugroho untuk membuat film layar perak Bulan Tertusuk Ilallang. Kumpulan sajaknya Nenek Moyangku Airmata terpilih sebagai buku puisi terbaik dengan mendapat hadiah Yayasan Buku Utama pada 1985.

Pada 1990 kumpulan sajak Celurit Emas dan Nenek Moyangku Airmata terpilih menjadi buku puisi di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Juara pertama sayembara menulis puisi AN-teve dalam rangka hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-50 pada 1995. Beberapa sajaknya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Belanda dan Bulgaria.

D. Zawawi Imron banyak berceramah Agama sekaligus membacakan sajaknya, di Yogyakarta, ITS. Surakarta, UNHAS Makasar, IKIP Malang dan Balai Sidang Senayan Jakarta. Juara pertama menulis puisi di AN-teve. Pembicara Seminar Majelis Bahasa Brunei Indonesia Malaysia (MABBIM) dan Majelis Asia Tenggara (MASTERA) Brunei Darussalam (Maret 2002). Selain itu dia juga dikenal sebagai Budayawan Madura.

Pada tahun 2012 dia menerima penghargaan “The S.E.A Write Award” di Bangkok, Thailand, The S.E.A. Write Award adalah penghargaan yang diberikan keluarga kerajaan Thailand untuk para penulis di kawasan ASEAN. Selain itu pada tahun 2012, di bulan Juli, dia juga meluncurkan buku puisinya yang berjudul “Mata Badik Mata Puisi” di Makassar, kumpulan puisinya ini berisi tentang Bugis dan Makassar

Hingga kini, Zawawi Imron masih setia tinggal di Batang-batang, Madura, tanah kelahiran sekaligus sumber inspirasi bagi puisi-puisinya. Karya-karyanya antara lain : Semerbak Mayang (1977), Madura Akulah Lautmu (1978), Celurit Emas (1980), Bulan Tertusuk Ilalang (1982; yang mengilhami film Garin Nugroho berjudul sama), Raden Sagoro (1984), Nenek Moyangku Airmata (1985; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K, 1985), Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), Lautmu Tak Habis Gelombang (1996), Madura Akulah Darahmu (1999), Lautmu Tak Habis Gelombang (2000), Sate Rohani dari Madura: Kisah-kisah Religius Orang Jelata (2001), Soto Sufi dari Madura: Perspektif Spiritualitas Masyarakat Desa (2002), Jalan Hati Jalan Samudra (2010), Mata Badik Mata Puisi (2012).

Ayu LaksmiAyu Laksmi, dilahirkan di Singaraja-Bali, 25 November 1967 dengan nama I Gusti Ayu Laksmiyani, proses kreatifnya dijalani secara otodidak sejak usia dini. Bakat yang ada di dalam dirinya, ditempa dan dibentuk kembali tanpa henti. Laksmi konsisten mengasah talenta dalam dunia seni suara yang kini berhasil disajikan dalam sebuah seni pertunjukan. Bali tetap dipilih sebagai tempat berproses: belajar sendiri dari literatur dan diskografi musik. Mengenali, menghayati, mengalami, mencoba, adalah proses penempaan yang tak pernah usai, bahkan masih dilakukannya hingga hari ini.

Tak hanya sebatas musik, Laksmi juga merasa tertantang untuk menekuni bidang seni lainnya. Ia pernah bermain dalam film Under the Tree garapan sutradara Garin Nugroho, juga terlibat dalam film Ngurah Rai (Dodid Wijanarko) dan Soekarno (Hanung Bramantyo). Di panggung teater, ia pernah menjajal kemampuannya dalam lakon Gandamayu bersama Teater Garasi dan 3+1 Perempuan Patah Hati bersama Cok Sawitri, Dayu Ani dan Aryani Willems.

Cok SawitriCok Sawitri, lahir di Sidemen, Karangasem, Bali, 1 September 1968, Cok Sawitri adalah penulis perempuan bernama lengkap Cokorda Sawitri, kelahiran Karangasem, Bali. Selain sebagi aktivis teater, Cok juga menulis beberapa artikel, puisi, cerita pendek dan juga aktif dalam aktivitas budaya sosial sebagai pendiri Forum Perempuan Mitra Kasih Bali di tahun 1997 dan Kelompok Tulus Ngayah di tahun 1989. Cok tercatat sebagai salah satu dari penasehat The Parahyang untuk majelis Desa Pekraman atau desa adat di Sidemen, Karangasem, Bali. Ia juga aktif dalam organisasi yang bergerak dalam bidang perempuan dan kemanusiaan sampai grup-grup teater di Bali. Karya-karyanya lebih banyak berbasiskan kearifan lokal, kembali ke akar budaya Bali sebagai “Ibu”-nya.

YUDANEI Wayan Gde Yudane, lahir di Kaliungu, Denpasar, menghasilkan karya musik konser, teater, instalasi maupun film. Meraih penghargaan Melbourne Age Criticism sebagaiCreative Excellent pada Festival Adelaide, Australia (2000) berkolaborasi dengan Paul Gabrowsky; Penghargaan Helpman sebagai Musik Orisinal Terbaik, Adikara Nugraha dari Gubernur Bali sebagai Kreator Komposisi Musik Baru (1999). Tampil di Festival Jazz Wangarata, Australia (2001), keliling Eropa dengan Teater Temps Fort, Grup France and Cara Bali, juga Festival Munich dan La Batie. Karyanya: musik film ‘Sacred and Secret’ (2010), Laughing Water and Terra-Incognita, dan Arak (2004), serta sebagainya.

Sawung JaboSawung Jabo, terlahir dengan nama Mochamad Djohansyah (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 4 Mei 1951), adalah seniman dan musisi kondang Indonesia yang dikenal dengan keterlibatannya dalam hampir segala bentuk kesenian baik itu bermusik, teater , melukis, dan juga tari. Sawung Jabo dikenal dalam konsepnya yang menggabungkan elemen musik Barat dan Timur, khususnya Jawa. Dia paling dikenal melalui keterlibatannya dalam grup musik “Swami” dan “Kantata Takwa” bersama musisi-musisi kenamaan Indonesia lainnya pada akhir tahun 80-an dan tahun 90-an seperti Iwan Fals, Jockie Suryoprayogo, dan juga sponsor mereka, pengusaha Setiawan Djodi. Merekalah yang melahirkan lagu-lagu terkenal yang bertemakan sosial dan politik seperti “Bento”, “Bongkar”, “Hio”, “Kuda Lumping”, dan “Nyanyian Jiwa”. Lagu-lagu tersebut menjadi populer setelah dimainkan dalam konser akbar Kantata Takwa di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, 23 Juni 1990. Proyek musik Kantata tersebut kemudian diabadikan dalam film “Kantata Takwa” (2008) arahan sutradara Eros Djarot dan Gotot Prakosa. Sawung Jabo dikenal produktif dalam melahirkan karya seni atau terlibat dengan para seniman dari bermacam daerah seperti Surabaya, Yogyakarta, Solo, Bandung, Sidoarjo, Jember, bahkan sampai negara Australia. Dalam pentas di Bentara Budaya Bali kali ini, ia didukung oleh Anak Angin Tabanan.

Jasmine OkuboJasmine Okubo, gadis kelahiran Jepang yang lahir di Turki kemudian menginjakkan kaki ke Bali pada saat usianya 3 tahun Jasmine tinggal di Bali bersama keluarganya. Jasmine memang begitu fasih menari Bali. Barangkali ia telah mematahkan mitos bahwa tak ada orang selain orang Bali sendiri yang mampu menemukan feel-nya saat menari Bali.

Tahun 2005 juara menari Oleh Tamulilingan. Sempat tergabung dalam sanggar Tedung Agung khususnya Sekaa Gong Bina Remaja di Ubud. Sering juga Jasmine ikut ngayah di pura-pura. Tari Bali telah dipentaskannya di berbagai belahan dunia seperti Seattle (AS), Hawaii (AS), Jepang dan Turki. Kini ia sedang menekuni tari kontemporer yang telah menginspirasi dirinya, dari seluruh perjalanan dan pelajaran yang ia raih selama ini.

One response to “PELUNCURAN BUKU “BADRIYAH” KARYA AYU WEDA

  1. Ping-balik: Ayu Weda – Little Talks Ubud·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s