MAHENDRADATTA: JEJAK ARKEOLOGIS DAN SOSOK HISTORIS

Pameran, Diskusi, dan Pemutaran Film
MAHENDRADATTA: JEJAK ARKEOLOGIS DAN SOSOK HISTORIS
Peninggalan Sosial-Kultural sepanjang Bedahulu – Pejeng hingga Kintamani
Pembukaan Pameran: Jumat, 29 April 2016, Pukul 18.30 WITA
Pameran berlangsung: 30 April – 7 Mei 2016 , Pukul 10.00 – 18.00 WITA

Peninggalan-peninggalan kerajaan Bali Kuno atau kerajaan Bali pra Majapahit, banyak ditemukan di daerah dataran tinggi dan sepanjang daerah aliran sungai, terutama Pakerisan, Petanu, Tampaksiring, Pejeng, hingga Bedulu (Gianyar) dan juga di sekitar wilayah Kintamani, Bangli.

Banyak tinggalan arkeologi di wilayah tersebut, mencerminkan kepercayaan masyarakat Bali yang menganut agama Hindu, pada beberapa teks lontar sering disebut sebagai Agama Tirtha, dimana air merupakan unsur penting dalam setiap ritual keagamaan. Sejumlah candi yang dapat ditemui pada wilayah itu, semisal: Candi Gunung Kawi, Candi Kerobokan, Candi Kelebutan, dan Candi Jukut Paku.

Sosok Gunapriya Dharmapatni atau yang dikenal sebagai Mahendradatta, sebagai istri Raja Udayana, banyak disebutkan pada prasasti Bali, antara lain prasasti Serahi tahun 993 M dan prasasti Buahan tahun 994 M, serta prasasti Pucangan tahun 1041. Sedangkan sosok Mahendradatta mengemuka dalam lontar, antara lain lontar Mpu Kuturan. Pernikahannya dengan Prabu Udayana melahirkan beberapa putra: Marakatta dan Anak Wungsu yang menjadi penerus wangsa ini di Bali, sedangkan putranya yang lain, yakni Airlangga, kelak bertakhta dan mendirikan Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur.

Pada beberapa prasasti, nama Gunapriya Dharmapatni kerap disebut lebih dulu sebelum suaminya, Raja Udayana. Hal ini mencerminkan kedudukan terhormat Mahendradatta, keturunan wangsa yang kala itu berkuasa, yaitu Wangsa Isyana, yang pendahulunya adalah Mpu Sindok atau Maharaja Isyana. Mpu Sindok memiliki putri bernama Sri Isyanatunggawijaya yang bersuamikan Sri Lokapala, memiliki putra Makutawangsawardhana. Sedangkan Mahendradatta merupakan putri dari Makutawangsawardhana.

Bentara Budaya Bali bekerjasama dengan Balai Arkeologi Denpasar menghadirkan Pameran tinggalan benda historis dan arkeologis. Eksibisi ini tidak hanya akan menampilkan sosok Mahendradatta dalam prasasti yang telah didokumentasikan pada foto-foto terpilih, namun lebih jauh merangkum pula temuan-temuan benda peninggalan Kerajaan Bali pra Majapahit lainnya dalam bentuk replika maupun foto seputar arca, prasasti, sarkopagus, hiasan perak, nekara, dan sebagainya. Sementara para perupa yang tergabung dalam komunitas perupa Tampaksiring akan memamerkan sket-sket hasil berkarya on the spot di situs-situs sejarah tersebut. Demikian juga para fotografer, antara lain: Ida Bagus Darmasuta, Agus Wiryadhi Saidi dan Phalayasa, akan menampilkan foto-foto terpilih yang merangkum sosok perempuan dalam tinggalan historis dan arkeologis, serta figur-figur masa kini cerminan dinamika perubahan yang terjadi.

Adapun para perupa dari Komunitas Perupa Tampaksiring atau Amarawati Art Community, antara lain: I Made Suwisma, Jro Mangku Nyoman Sutrisna , I Wayan Gede Suwahyu, Jro Jiwatman, I Made Bayak Muliana, I Putu Edy Asmara Putra, I Made Sudarsa, Ngakan Ketut Parweka, Ida Bagus Sudana Astika, Ida Bagus Asmara Wirata(Gus Chenk), Ida Bagus Dewangkara(Gus Apeng), I Nyoman Suarnata (war), I Made Renaba, Pande Wayan Suputra, I Made Kartiyoga, I Wayan Arinata, Dewa Gede Suputra, I Made Adi Putra Sentana, Ngakan Putu Agus Artha Wijaya, I Wayan Gede Kesuma Dana, I Made Ardiana, Ni Komang Atmi Kristia Dewi, Ni Komang Kartika Tri Dewi, Damar Langit Timur, I Nyoman Kandika.

Eksibisi kali ini merupakan kelanjutan dari peristiwa serupa tahun lalu, yakni Pameran Arkeologi Situs Tambora – kerjasama Bentara Budaya dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, di Bentara Budaya Jakarta dan Bentara Budaya Bali.

Kegiatan ini selaras upaya penyebarluasan hasil penelitian dan kajian, utamanya Balai Arkeologi Denpasar sebagai transfer of knowledge, khususnya untuk generasi muda. Sejalan visi membangun Rumah Peradaban, yakni sebuah program unggulan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi se-Indonesia yang bertujuan menyampaikan nilai-nilai yang terkandung dalam tinggalan arkeologi kepada masyarakat luas sekaligus menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya pelestarian. Serangkaian pameran ini diselenggarakan pula diskusi dan pemutaran film dokumenter.

Partner :

Logo Rumah Peradaban]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s