SEGALA CERITA DI BALIK KULINER

Sinema Bentara
Rabu – Kamis, 30 – 31 Maret 2016, pukul 17.00 WITA

Sebuah film berangkat dari kisah sejarah dan dengan tema besar adalah hal yang biasa. Namun sungguh sebuah ujian tersendiri, bila seorang sutradara dituntut berkreasi menghasilkan karya dari kisah atau kejadian sehari-hari. Dengan kata lain, film-film dengan tema biasa ternyata juga berpeluang menghasilkan karya-karya yang cemerlang sekaligus memberi inspirasi, terbukti memperoleh penghargaan internasional. Misalnya film tentang kisah seorang guru dan puisi dalam ‘Dead Poet Society’ (1989, Peter Weir) meraih banyak OSCAR. Atau film Indonesia Si Mamad (1973, Sjuman Djaya) mengisahkan nasib seorang karyawan kantor kecil yang jujur namun terpaksa korupsi, dibintangi oleh Mang Udel dan Rina Hassim, meraih banyak Piala Citra. Kita juga bisa menyimak kesetiaan seekor anjing ‘Hachiko’ (2009, Lasse Hallström) dan cerita imigran asal India yang berusaha mendirkan sebuah restoran khas negaranya di Prancis, ‘The Hundred-Foot Journey’ (2014, Lasse Hallström) produksi Juliet Blake, Steven Spielberg, dan Oprah Winfrey.

Sinema Bentara kali ini akan menghadirkan film-film yang terilhami dunia seputar kuliner. Ternyata di balik kelezatan sebuah masakan, mencerminkan proses perkembangan, transformasi sosial kultural masyarakat, bahkan bangsa. Bahkan sutradara sohor, maestro sinema Italia, Federico Fellini sangat piawai menghadirkan scene demi scene yang menawan terkait adegan di meja makan atau seputar makanan, mengandung pesan simbolis atau psikologis yang dalam. Simaklah kepiawaian itu dalam film ‘Amarcord’ (Italia, Federico Fellini) produksi tahun 1973 yang meraih Oscar untuk Film Berbahasa Asing Terbaik, dan dinominasikan untuk dua Academy Awards: Sutradara Terbaik dan Penulisan Permainan Latar Asli Terbaik.. Film-film lintas bangsa lainnya, baik cerita maupun dokumenter dapat ditonton bersama juga, di antaranya: Tabula Rasa (Indonesia, Adriyanto Dewo), Comme un Chef (Prancis, Daniel Cohen), The Kamoro (Indonesia, Kalman N. Muller). Amarcord’ (Italia, Federico Fellini) dan Soul Kitchen (Jerman, Fatin Akih).

Program ini bekerjasama dengan Lifelike Pictures (Indonesia) dan Pusat Kebudayaan Prancis Alliance Francaise Bali, dukungan dokumentasi film dari Pusat Kajian Papua (Papua Centre) FISIP Universitas Indonesia, dan Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar.

Sinopsis Film:

TABULA RASA
(Indonesia, 2014, Durasi: 107 menit, Sutradara: Adriyanto Dewo)

Hans adalah seorang pemuda dari Serui, Papua, yang mempunyai mimpi menjadi pemain bola profesional. Namun nasib berkata lain, dan ketika Hans hampir kehilangan harapannya untuk hidup, ia bertemu dengan Mak, pemilik rumah makan Padang (lapau). Makanan merupakan iktikad baik untuk bertemu, dan lewat makanan dan masakan, Hans kembali menemukan mimpi dan semangat hidup.

Film ini meraih penghargaan Festival Film Indonesia (FFI) 2014 untuk Sutradara terbaik (Adriyanto Dewo), Penulis Skenario Terbaik (Tumpal Tampubolon), Pemeran Utama Perempuan Terbaik (Dewi Irawan), serta Pemeran Pembantu Laki-Laki Terbaik (Yayu Unru).
Film ini juga masuk sebagai salah satu dari sembilan film yang direkomendasikan untuk ditonton oleh Bucheon International Fantastic Film Festival (Korea Selatan). Tabula Rasa juga meraih EFX Antipodes Film Award sebagai Best Indonesian Film 2015 dan diputar pada segmen Cinéma des Antipodes di ajang Cannes Cinéphiles, dan diikutsertakan dalam Marché du Film 2015 (Film Market) di kota Cannes, Prancis serangkaian dengan Festival Film Cannes ke-68.

THE KAMORO
(Dokumenter, 2009, Durasi: 40 menit, Sutradara: Kalman N. Muller)

The Kamoro merupakan sebuah film dokumenter yang mengisahkan tentang kebiasaan hidup sehari-hari suku Kamoro. Dalam film ini dihadirkan bagaimana suku Kamoro saling membantu satu sama lain dalam berburu, mencari kepiting atau hewan laut, dan memasak. Suku Kamoro adalah salah satu suku yang berada di Papua, tepatnya di wilayah pesisir pantai Kabupaten Mimika Agats sampai Jita. Suku Kamoro terkenal pandai berburu, dan juga terkenal akan ukiran, nyanyian, topeng-topeng roh dan tariannya.

COMME UN CHEF (Le Chef)
(Prancis, 2012, Durasi: 1 jam 24 menit, Sutradara: Daniel Cohen)
Film ini menceritakan seorang bernama Jacky Bonnot (Michaël Youn) sebagai seorang koki yang selalu ditimpa kesialan. Meskipun dia sangat mencintai dunia masak-memasak, namun dia memiliki karakter yang sangat keras kepala. Hal tersebut membuatnya selalu dipecat dari semua pekerjaan yang berhubungan dengan koki. Sedangkan di tempat yang lain, seorang koki ternama yang bernaman Alexandre Lagarde (Jean Reno) memiliki restoran sendiri. Alexandre sangat terkenal, namun dia terancam karena miskin dengan ide-ide baru. Akankah Jacky dan Alexandre bertemu? Bagaimanakah kisah mereka kemudian?
Film ini telah tayang pada berbagai festival film internasional, di antaranya: Berlin International Film Festival ke-62 (2012); International Film Festival Seattle (2012); Festival de Cine Frances de Malaga 2012 (Audience Award); International Film Festival of San Sebastian (2012); Springs International Film Festival (2014); Florida Film Festival 2014 (Audience Award for Best International Feature); dan Montclair Film Festival 2014.

SOUL KITHCEN
(Sutradara: Fatih Akin, berwarna, 99 menit, 2008/2009)

“Soul Kitchen” di kawasan Hamburg-Wilhelmsburg bukanlah restoran adiboga. Di sanalah Zinos (Adam Bousdoukos), seorang warga Jerman keturunan Yunani, menghidangkan perkedel ikan dengan salad kentang, steak daging cincang ala Hawaii dan pasta panggang kepada para pelanggannya. Kemudian satu persatu hal buruk mulai menimpa hidup Zinos. Pacarnya, Nadine (Pheline Roggan), perempuan cantik dari keluarga kaya, pindah ke Shanghai sebagai koresponden luar negeri, Zinos sendiri terkena cidera punggung, hingga tagihan pajak yang jatuh tempo dan membuat Zinos terpaksa menggadaikan restorannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s