BALI VIRTUOSO GUITAR PERFORMANCE

Pertunjukan Musik Klasik
Minggu, 27 Maret 2016, pukul 19.00 WITA

Setelah menggelar konser gitar dan pertunjukan musik klasik pada tahun 2015 lalu, Bentara Budaya Bali kali ini akan menyuguhkan pegitar klasik Indonesia dan mancanegara. Melalui konser bertajuk “Bali Virtuoso Guitar Performance”, gitaris klasik Lianto Tjahjoputro, Intan Mayadewi, Wayan Astrajaya, dan violinis Robert Brown, akan mempersembahkan komposisi musik gubahan Niccolo Paganini, Franz Liszt, M de Falla, Isaac Albeniz, JS. Bach,dan Schubert. Selain itu, secara khusus akan tampil pula Pagelaran Gitar Kolosal Rakyat Indonesia (PGKRI), melibatkan puluhan gitaris muda .

lianto 2 xxLianto Tjahjoputro, merupakan salah satu gitaris klasik Indonesia yang tinggal di Bali. Lahir di Banyuwangi, 14 Januari 1963, dan belajar gitar sejak usia 11 tahun kepada ayahnya. Ia juga belajar di Yasmi Surabaya kepada para gurunya yaitu Trie, Priadi, Yanto dan Jos Breddie (salah seorang murid Dick Visser di Belanda). Pada tahun 1984 Ia belajar kepada Profesor Eliot Fisk (salah seorang murid Andres Segovia) di Koln, Jerman Barat. Tahun 1991 Ia menang dalam acara Mimbar Juara Indonesia Gitar Klasik (Indonesian Classical Guitar Champion). Namanya juga tercatat dalam ensiklopedi musik internasional “Enciclopedia de la Guitarra”, yang diterbitkan oleh Fransisco Herrera. Di tahun 2008 channel-nya “Virtuoso Guitarist from Indonesia” di youtube cukup banyak menyedot perhatian dunia. Sejak tahun 2009 – 2014, Lianto Tjahjoputro banyak mentranskripsi lagu – lagu yang awalnya impossible atau tidak mungkin untuk dimainkan dengan gitar, diantaranya adalah Campanella karya Franz Liszt, Johannes Passion karya Bach (Herr ünser Herrscher) yang dikerjakan selama 2 tahun, dan Matthaus Passion karya Bach (Kommt, ihr Töchter, helft mir klagen) yang dikerjakan selama 3 tahun.

INTAN FOTOIntan Mayadewi Tjahjaputra, kelahiran Denpasar, 20 Januari 1990, adalah gitaris klasik dan soprano. Wanita dengan gelar Sarjana Sastra ini telah mempelajari gitar sejak kecil dari sang ayah, Lianto Tjahjoputro. Ia pun sudah sering tampil dalam konser – konser antara lain; Pagelaran Gitar Kolosal Rakyat Indonesia (PGKRI) pada tahun 2006, konser gitar klasik di Erasmus Huis (Kedutaan Belanda di Jakarta) pada tahun 2007, konser gitar klasik di Bentara Budaya Bali pada tahun 2015, dan lain – lain . Intan Mayadewi pernah pula belajar gitar dari musisi Jerman, Anna Koch. Pendidikan vokal pertama kali didapatkannya dari Ibu Amelia Manuaba, penyanyi soprano legendaris Bali, lalu Ia mempelajari ilmu vokal lebih dalam kepada Tarik The Tenor, penyanyi opera mumpuni dari University of Arts in Cologne, Jerman. Penampilannya dalam pertunjukan dapat disaksikan di youtube, baik dalam konser live maupun studio. Kini ia merupakan pengajar gitar dan vokal di PKGRI.

Astra Jaya (Dirigen)I Wayan Astrajaya, adalah seorang gitaris dari Bali, Indonesia. Pria yang lahir di Lukluk, 16 Februari 1974 ini belajar gitar pada Lianto Tjahjoputro sejak kuliah hingga ia lulus dengan gelar Sarjana Teknik. Ia telah tampil di beberapa festival gitar, dan juga konser gitar di bawah pimpinan Lianto Tjahjoputro di Bali, Surabaya, dan Jakarta. Ia pernah pula mengikuti masterclass gitar oleh Anna Koch, gitaris asal Jerman pada tahun 2006. Ia beberapa kali mengadakan konser di Bali, antara lain konser gitar di Nirmala Hotel pada tahun 2010, dan konser gitar di Hotel Puri Ayu pada tahun 2014. Hingga saat ini, Wayan Astrajaya adalah salah satu gitaris di PGKRI yang kini sering menjadi dirigen untuk ensemble gitar.

Robert BrownRobert Brown (Putu Merta), lahir di Amerika Serikat dan merupakan lulusan dari Manhattan School of Music dengan gelar Bachelor of Music dan Master of Music. Beliau memiliki pengalaman panjang dan bervariasi sebagai musisi dan pemain orkestra yang pernah bekerja dengan ensemble seperti: the Houston, Atlanta and American symphony orchestras di Amerika Serikat, “Les Arts Florissant” di Paris, “l’Orchestra del Accademia Nazionale di Santa Cecilia “di Roma, dan ” Orchestra of the Age Enlightment “di London dan dengan konduktor seperti; Leopold Stokowski, Sir John Barbirolli, dan Carlos Kleiber. Beliau adalah anggota pendiri dari periode instrumen ensemble Italia “Europa Galante” yang telah mengadakan tur di berbagai negara. Ia telah menikah dengan seorang wanita Bali, dan sekarang ia pun memiliki nama Bali yaitu Putu Merta. Sejak pindah ke Indonesia, Mr. Brown sangat aktif dalam kehidupan musik Indonesia, dan ia juga mengajar biola di Bali.

PGKRI (Pagelaran Gitar Kolosal Rakyat Indonesia), berawal dari ‘Konser 104 Gitar di Surabaya’ yang melibatkan 104 gitaris untuk perayaan Ulang Tahun Surabaya 31 Mei 1984. Lalu pagelaran semacam ini berlanjut lagi untuk Hari Jadi Surabaya, 31 Mei 1988, yang diberi nama ‘Pagelaran Bersejarah Konser Gitar Kolosal Surabaya’ yang melibatkan 200 gitaris dan 70 paduan suara. Setelah menikah dan pindah ke Bali pada tahun 1989, Lianto Tjahjoputro mendirikan Pagelaran Konser Gitar Kolosal Denpasar (PKGKD) pada tahun 1991. Bersama gitaris PKGKD, Lianto Tjahjoputro sering membuat pertunjukan untuk TVRI Denpasar. Tahun 2005, Lianto Tjahjoputro mengubah nama PKGKD menjadi PGKRI atau Pagelaran Gitar Kolosal Rakyat Indonesia.

NEW BUKU KENANGAN

PROGRAM

Solo Guitar: Intan Mayadewi
01. Romance – Niccolo Paganini, 5:51 (Italy, 1782-1840)
02. Hungarian Rhapsodie No 2 – Franz Liszt, 10:57 (Hungary, 1811- 1886)

Duet Guitar: Intan Mayadewi & Lianto Tjahjoputro
03. La vide breve – M de Falla, 4:17 (Spain, 1876-1946)

Solo Guitar: Lianto Tjahjoputro
04. Mathaus Passion BWV 244 (Kommt, ihr Töchter, helft mir klagen) – JS. Bach, 9:42( Germany, 1685-1759)

Duet Guitar & Violin : Lianto Tjahjoputro & Robert Brown
05. Asturias – Isaac Albeniz, 7:15 (Spain, 1861-1909)
06. Caprice 24 – N. Paganini, 9:23 (Italy, 1782-1840)

BREAK TIME (10 minutes)

Solo Guitar: Lianto Tjahjoputro
07. Johannes Passion BWV 245 (Herr ünser Herrscher) – JS. Bach, 9:45 (Germany, 1685-1759)

Duet Guitar & Soprano: Lianto Tjahjoputro & Intan Mayadewi
08. Ave Maria – Schubert, 5:30 (Austria, 1797 – 1828)
09. Erlkonig – Schubert, 4:10 (Austria, 1797 – 1828)

PAGELARAN GITAR KOLOSAL RAKYAT INDONESIA
(PGKRI) melibatkan 20-30 guitarist
Dirigent : Wayan Astrajaya

10. Danza Saraswati – Kitaro, 5:32
11. Bydlo – Mussorgsky, 2:50
12. Io Ti Penso Amore – Niccolo Paganini (Italy, 1782-1840)
– David Garrett, 3:25

KETERANGAN LAGU:

01. Romance – Niccolo Paganini, 5:51 (Italy, 1782-1840)
Romance adalah salah satu lagu karya dari Niccolò (atau Nicolò) Paganini dalam Grand Sonata in A. Awalnya lagu ini diciptakan untuk duet biola dan gitar, tetapi banyak orang yang telah mentanskripsi lagu ini untuk dimainkan di gitar solo.

02. Hungarian Rhapsodie No 2 – Franz Liszt, 10:57 (Hungary 1811- 1886)
Hungarian Rhapsodie No. 2 adalah karya piano solo dari Franz Liszt yang amat sulit dimainkan di piano. Banyak orang mentranskripsi lagu ini menjadi lagu orkestra, diantaranya transkripsi dari komposer Ravel. Sekitar tahun 1980an, seorang gitaris Jepang membuat kejutan dengan mentranskripsi karya ini untuk dimainkan di gitar yang hanya memiliki 6 senar. Hal ini cukup membuat dunia gempar dan tentunya banyak pro dan kontra. Ini adalah salah satu lagu yang awalnya banyak orang berpikir imposible atau tidak mungkin dimainkan di gitar.

03. La vide breve – M de Falla, 4:17 (Spain, 1876-1946 )
La Vida Breve (Hidup itu Singkat atau Hidup yang Singkat) adalah karya opera yang diciptakan oleh Manuel de Falla. Opera ini ditulis antara Agustus 1904 dan Maret 1905, tetapi tidak diproduksi hingga tahun 1913. Walaupun durasinya hanya 1 jam, opera ini jarang dipentaskan sekarang ini. Hanya bagian orkestra-nya yang sering dipentaskan, terutama dua bagian musik yang digunakan sebagai interlude dan tarian yang populer pada konser musik Spanyol.

04. Mathaus Passion BWV 244 (Kommt, ihr Töchter, helft mir klagen) – JS. Bach, 9:42 (Germany, 1685-1759)
Selama masa hidupnya, Bach telah membuat karya musik dari seluruh injil; Mattius, Markus, Lukas, dan Johannes. Anehnya, yang paling terkenal hanya Mathaus Passion dan Johannes Passion. Karya Matthaus Passion makin dilupakan setelah Bach meninggal, bahkan Bach pun kian dilupakan. 100 tahun kemudian, seorang komposer besar, Felix Mendelssohn, mempegelarkan kembali Matthaus Passion yang membuat orang-orang kaget. Mereka tersadar kembali bahwa ada tokoh musik besar dunia bernama Bach yang telah mereka lupakan. Setelah pagelaran ini, orang-orang menyelidiki lebih detail tentang siapa sebenarnya Bach. Demikian juga Lianto Tjahjoputro yang terobsesi untuk membawakan karya mission imposible ini untuk dimainkan di gitar. Lianto Tjahjoputro telah mentranskripsi lagu orkestra ini selama 3 tahun untuk dimainkan di alat music yang mungil, yaitu gitar.

05. Asturias – Isaac Albeniz, 7:15 (Spain, 1861-1909)
Lagu yang awalnya berjudul ‘Leyenda’ ini memiliki arti ‘Legenda’. Leyenda diciptakan oleh Isaac Albeniz untuk dimainkan di piano. Karya ini diberi judul Asturias secara anumerta oleh penerbit Hofmeister (penerbit yang menyajikan hal – hal yang berkaitan dengan musik klasik, didirikan oleh Friedrich Hofmeister di Leipzig, Jerman, pada tahun 1807).

06. Caprice 24 – N. Paganini, 9:13 (Italy, 1782-1840)
Caprice No. 24 in A minor merupakan karya terakhir dari Caprice atau Capriccio (karya musik yang biasanya cukup bebas dalam bentuk dan karakter. Ciri khas Caprice biasanya cepat dan intens). Lagu ini diciptakan menjadi 24 bagian oleh Niccolò Paganini yang aslinya diciptakan untuk biola solo. Secara umum, lagu ini dianggap karya tersulit untuk biola karena menggunakan teknik tingkat tinggi dalam memainkannya. Dalam kesempatan malam ini, Lianto Tjahjoputro akan memainkan lagu ini yang telah diaransemen menjadi duet gitar dan biola, dengan tingkat kesulitan biola 50% dan gitar 50%, dan ada beberapa variasi tambahan di dalam transkripsi ini.

07. Johannes Passion BWV 245 (Herr ünser Herrscher) – JS. Bach, 9:45 (Germany, 1685-1759)
Johannes Passion atau St. John Passion adalah karya oratorio (komposisi musik yang besar untuk orkestra, koor, dan solo) yang diciptakan oleh Johann Sebastian Bach. Pada tahun 2008, Lianto Tjahjoputro mentranskripsi bagian pertama dari Johannes Passion yang berjudul “Herr ünser Herrscher” yang artinya “Tuhan, Engkau Penguasa Kami Semua” dari orkestra & koor untuk dimainkan di gitar tanpa memikirkan kapan transkripsi ini akan selesai. Lianto Tjahjoputro mengerjakannya dengan amat hati – hati, dan transkripsi ini dapat diselesaikan dalam waktu 2 tahun. Karya ini merupakan karya yang berat dan menghabiskan energi yang sangat besar. Karya ini juga menjadi World Premiere Lianto Tjahjoputro selain Matthaus Passion (Bach) yang di-transkripsi setelah Johanes Passion selama 3 tahun.

08. Ave Maria – Schubert, 5:30 (Austria, 1797 – 1828)
Lirik Ave Maria aslinya ditulis dalam bahasa Inggris, yang menjadi bagian dari puisi berjudul The Lady of the Lake, ditulis pada tahun 1810 oleh Sir Walter Scott (1771 – 1832). Puisi ini menceritakan tentang romantisme dari legenda pemimpin Inggris abad ke-5, King Arthur. Pada tahun 1825, komposer Franz Schubert membuat musik doa dari puisi itu menggunakan terjemahan bahasa Jerman oleh Adam Storck. Schubert menyebut karyanya “Ellens dritter Gesang” (lagu ketiga Ellen) dan ditulis sebagai doa kepada Bunda Maria dari seorang gadis yang ketakutan, Ellen Douglas, yang dipaksa untuk bersembunyi.

09. Erlkönig – Schubert, 4:10 (Austria, 1797 – 1828)
Erlkönig (juga disebut “Der Erlkönig”) adalah puisi karya seorang penulis Jerman, Johann Wolfgang von Goethe (1749 – 1832). Puisi itu menggambarkan tentang kematian seorang anak yang diserang oleh makhluk supernatural, Erlking atau Erlkönig. Pada tahun 1815, Franz Schubert menciptakan karyanya, Der Erlkönig, menggunakan puisi dari Goethe untuk solo vokal dan piano. Vokalis membawakan sekaligus empat karakter dalam lagu ini; narator, ayah, anak laki-laki, dan Erlkönig.

10. Danza Saraswati – Kitaro, 5:32
Danza Saraswati merupakan karya seorang komposer New Age dari Jepang, Kitaro, dalam album Mandala tahun 1994. Album Mandala ini mendapat nominasi dari Grammy Award dan Golden Globe Award sebagai album New Age terbaik.

11. Bydlo – Mussorgsky , 2:50 (Rusia, 1839 – 1881)
Bydlo adalah bagian atau gerakan keempat dari karya Modest Petrovich Mussorgsky, Pictures at an Exhibition. Pictures at an Exhibition adalah sebuah rangkaian dalam sepuluh pergerakan yang diciptakan untuk piano pada tahun 1874. Karya ini menjadi komposisi yang paling terkenal dan sering dipamerkan oleh para pianis virtuoso. Lagu ini menjadi dikenal lebih jauh melalui berbagai orkestra dan aransemen yang dibuat oleh para musisi dan komposer, dengan aransemen dari Maurice Ravel yang paling banyak dicatat dan dipentaskan.

12. Io Ti Penso Amore – Niccolo Paganini (Italy, 1782-1840) – David Garrett, 3:25
Io Ti Penso Amore merupakan lagu yang diambil dari karya Niccolò Paganini, Violin Concerto No. 4, pergerakan ke-2. Karya ini kemudian diaransemen sekaligus diberi lirik oleh David Garrett, pemeran utama dalam film ‘The Devil’s Violinist’ yang menceritakan tentang kehidupan Paganini.

Partner :

LOGO PGKRI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s