Kolaborasi Seni Multimedia “KALA RAU ING KALANGAN”

Tari, Kidung, Puisi, Wayang dan Multimedia
Kamis, 3 Maret 2016, pukul 19.00 WITA

Memaknai peristiwa Gerhana Matahari Total yang diprediksi terjadi pada 9 Maret 2016 ini, Bentara Budaya menyelenggarakan berbagai acara, berlangsung di empat venue; Bentara Budaya Jakarta, Bentara Budaya Yogyakarta, Balai Soedjatmoko Solo dan Bentara Budaya Bali. Secara khusus, Bentara Budaya Bali mempersembahkan kolaborasi seni multimedia bertajuk Kala Rau Ing Kalangan. Selain mengedepankan garapan tari yang kontemplatif, pertunjukan ini juga menghadirkan kidung, pembacaan puisi, berikut wayang yang dipadukan dengan video art, serta diakhiri suatu pemutaran film dokumenter terkait fenomena angkasa ini.

FOto pertunjukan BBB_foto Dok IB DarmasutaPertunjukan ini terilhami petikan kekawin Adi Parwa, mengisahkan sosok Kala Rau, raksasa yang menyamar menjadi Dewa sewaktu terjadinya pemutaran gunung Mandara Giri untuk memperoleh Tirta Amerta atau air suci keabadian. Dewa Wisnu yang mengetahui penyamaran Raksasa Kala Rau, seketika melepaskan panah saktinya. Kepala terpenggal dan bagian tubuh Kala Rau jatuh ke bumi, kemudian disimbolilasi menjadi lesung. Adapun kepalanya tetap melayang di angkasa, kemudian dipercaya menjadi penyebab terjadinya gerhana –yakni sewaktu raksasa Kala Rau berupaya menelan Dewi Ratih (Dewi Bulan).

Kekuatan matahari dan bulan memang kerap diyakini mempengaruhi kehidupan dan nasib manusia. Tidak heran bila fenomena alam seperti gerhana, atau peristiwa langit semisal meteor, kisah berbagai galaksi, serta lubang hitam jagatraya (black hole) menghadirkan rasa takjub sekaligus keingintahuan. Catatan tertulis tertua mengenai gerhana ditemukan di lempeng tanah bangsa Babilonia, di Ugarit, Suriah. Sejumlah peneliti menyebut gerhana tersebut terjadi 3 Mei 1375 SM. Namun T de Jong dan WH van Soldt di Nature, 16 Maret 1989, menunjukkan kejadian itu 5 Maret 1223 SM. Tak hanya akurat, catatan itu juga menyuratkan pengulangan gerhana yang dikenal sebagai siklus Saros. Di Indonesia, catatan gerhana muncul belakangan, lebih mengemuka untuk gerhana Bulan, sangat jarang untuk Gerhana Matahari. Melalui lembar publikasinya, Asosiasi Ahli Epigrafi Indonesia, 2001, mengungkapkan catatan tertua gerhana Bulan ditemukan di Prasasti Sucen di Temanggung, Jawa Tengah, yakni gerhana 19 Maret 843.

Mitos Kala Rau muncul di Mesir dan India. Dalam mitologi Mesir Kuno ada satu dewa yang paling penting, yaitu Ra (Dewa Matahari), memimpin sebuah perahu yang ditumpangi banyak dewa guna melintasi langit. Bila terjadi gerhana Matahari, diyakini Apep (Dewa Ular Laut yang jahat) telah berhasil menghentikan Ra. Walaupun pada akhirnya Ra berhasil meloloskan diri, dan matahari kembali bersinar seperti sedia kala. Sedangkan Hindu di India meyakini, dua penguasa kegelapan yakni Rahu dan Ketu yang diyakini menelan matahari sehingga terjadinya gerhana.

Peristiwa Gerhana Matahari Total kali ini terbilang penuh makna, bertepatan perayaan Nyepi yang jatuh pada Tilem Kesanga, dimaknai sebagai upaya penyucian atau ruwatan bhuana alit (alam manusia) dan bhuana agung (alam semesta) melalui upacara Tawur Kesanga. Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian melalui upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) diarak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala yang leteh (kotor) di dalam diri manusia juga alam. Pertunjukan kolaborasi ini akan menyampaikan perenungan atas peristiwa Gerhana Matahari Total melalui kolaborasi berikut serangkaian tata gerak terpilih yang bersifat simbolis mistis, sebentuk ritus kekinian.

penampilan I Wayan Purwanto_FOto dok. IB DarmasutaSebagai koreografer dan art director adalah I Wayan Purwanto, pesantian kidung oleh Anak Agung Ayu Made Nuradi dan Gusti Komang Sugiarta, dalang dan pertunjukan wayang oleh I Made Sukadana bersama Ngakan Putu Gargita, Ngakan Made Dedik, A.A. Wisnu, A.A. Dharma Semara, serta Wayan Mawa. Turut mendukung pertunjukan tari dari sekaa Tindak Alit, antara lain: Sri Suhartini, Letsu Phyartini, Jenny Janardhani, Santi Sukma Melati, Eka Swakarma, Titha Witcha Meriartha, Kompyang Aditya, Ngurah Dian Meika P, Agus Adi Yustika, Wayan Sujana. Pada musik adalah Komang Wira Adi dan Tina Puspa Dewi, serta sebagai penata tari Putu Gede Arsa Wijaya, S.Sn. Penata multimedia Dwi Pradita, Vanesa Martida, dan Komang Adi Sumarna. Sedangkan perangkai puisi Frischa Aswarini dan Idayati.

Selain di Bentara Budaya Bali, upaya merespon tema Gerhana Matahari Total ini juga diselenggarakan di Balai Soedjatmoko Solo bertajuk “Kala Hayu, Perkawinan Alam Raya” pada 6 Maret 2016, serta pameran seni rupa bertajuk “Kala Rau” yang berlangsung 11-20 Maret 2016 di Bentara Budaya Yogyakarta.

I Wayan Purwanto, koreografer dan penari, lahir di Singapadu, 17 November 1968. Menamatkan pendidikan di STSI Denpasar (1996). Ia sempat bergabung di Sanggar Tari dan Tabuh Semara Ratih, Ubud, Sanggar Tari “Puri Saraswati” Singapadu dan Yayasan Intan Budaya Negeri, Peliatan, Ubud. Pernah berkolaborasi dengan One Extra Company Dance and Theatre Australia : Dancing Demon (1991), kolaborasi Tari Kontemporer Potret Diri dengan Maestro Noh Jepang Reijiro Tsumura dan Penari Balet Kaori Kagawa (2012), Kolaborasi Tari Kontemporer Pencaharian dengan Yukiko Onishi, Chikako Bando (2012). Ia juga berpentas ke berbagai negara seperti Jepang, Brasilia, Swedia, Inggris, Australia, dll. Pada tahun 2013 ia juga berkolaborasi dengan sejumlah seniman dan penari dalam pertunjukan “A Tribute to Maestro Blangsinga” di Bentara Budaya Bali. Aktif dalam berbagai festival tari dan meraih penghargaan, antara lain: Juara I Tari Kebyar Duduk Pesta Kesenian Bali (1985), Juara I Tari Oleg Tamulilingan Pesta Kesenian Bali Bali (1986), Juara I Festival Remaja Tingkat SMA, Tari Kelompok (1987), Peserta Pekan Penata Tari Karya Cipta Baru Tingkat Nasional (1991), Peserta Indonesia Dance Festival (1993), Festival Seni Tari Mahasiswa Tingkat Nasional (1993), Juara 1 Koreografer Tari Kreasi Anak-anak Nukupari PKB (1996), dll.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s