Pameran Visual Bol Brutu Yogyakarta ABHAYAGIRI: SITUS-SITUS MARGINAL DI PEGUNUNGAN

Pembukaan : Minggu, 7 Februari 2016, pukul 18.30 WITA
Diskusi dan pemutaran dokumenter : Minggu, 7 Februari 2015, pukul 20.00 WITA
Pameran berlangsung : 8 – 20 Februari 2016, pukul 10.00 – 18.00 WITA

Pameran visual kali ini adalah sebuah upaya untuk mengapresiasi situs-situs purbakala yang termarjinalkan dan belum mendapatkan apresiasi semestinya. Bol Brutu atau Gerombolan Pemburu Batu dari Yogyakarta, melakukan napak tilas ke berbagai pegunungan untuk melacak jejak-jejak petilasan dan candi-candi yang belum terungkap.

Pameran Karya Bol brutu  (3)

Dengan penjelasan yang lebih teknis, marginalitas dapat dibatasi di sini sebagai kondisi petilasan yang yang relatif masih terpinggirkan atau tersingkirkan. Dimensi spasialnya terutama dilihat dari lokasinya yang relatif masih sulit dijangkau atau jaraknya yang jauh dari pusat, entah itu pusat ekonomi, politis, ataupun pusat-pusat perkembangan arus-utama yang lain.

Logo BOL BRUTUKelompok Bol Brutu atau Gerombolan Pemburu Batu, pada pameran kali ini menampilkan karya-karya visual terpilih hasil napak tilas tersebut. Sebagai peserta adalah sejumlah kreator yang lintas bidang (perupa, akademisi, peneliti, pengamat sosial budaya), antara lain : Kris Budiman, Putu Sutawijaya, Apriadi Ujiarso, Boen Mada, Cuk Riomandha, Darwi Made, Edy Hamzah, Ida Fitri, Linggar Saputra Wayan, Ninuk Retno Raras, Nur Cahyati Wahyuni, Vembri Waluyas, Wahyu Wiedy Aditantra.

Adapun pameran ini merujuk tajuk “Abhayagiri”, yang bermakna ‘gunung atau bukit yang damai’, meminjam nama Situs Ratu Boko di Yogyakarta—sebagaimana disebutkan dalam sebuah prasasti bertarikh 792 M yang mengungkap peristiwa pembangunan sebuah bangunan suci di atas bukit, Abhayagiri Vihara, oleh Rakai Panangkaran. Dengan demikian, frasa selengkapnya dapat dimaknai sebagai ‘vihara di atas bukit yang damai, bebas dari bahaya’. Melalui logika metonimik, substansi vihara ini dapat kita ganti dengan candi atau situs kepurbakalaan; sementara giri, tepatnya: abhayagiri, di sini mewakili kawasan atau suasana pegunungan.

Bol Brutu adalah sebuah kelompok yang bermula sejak tahun 2009, ketika Kris Budiman, Cuk Riomandha, Ery Jabo dan Putu Sutawijaya bersama-sama napak tilas ke situs sejarah Kyai Sadrach di Purworejo, Jawa Tengah. Pada Maret 2010, kemudian resmi bernama “Bol Brutu” yang merupakan akronim dari Gerombolan Pemburu Batu. Bol Brutu telah menyelenggarakan berbagai pameran seperti How Brutu Are You, Bergana Boleh Saja yang digelar di berbagai kota, serta merilis buku Arca dan How Brutu Are You.

Serangkaian pameran juga akan diselenggarakan diskusi dan pemutaran film dokumenter.

Profil Peserta Pameran :

Apriadi Ujiarso
Lahir 25 April 1965. Lulusan dari Jurusan Sastra Nusantara, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (1984-1991), sejak 2013 hingga saat ini masih melanjutkan studinya di S-2 Arkeologi, minat Studi Museologi di kampus yang sama. Beberapa dari dosennya kini bahkan belum lahir ketika dia sudah kuliah pertama kalinya di UGM. Berperan aktif sebagai ayah dan ojeg bagi Duma dan Adhra. Suami Ibu Nehik ini menjabat sebagai Acting Coordinator di Sakala Syndicate Yogyakarta. Berkacamata hitam dengan rambut hampir menyeluruh putih adalah ciri-ciri utamanya.

Edy Hamzah
Seorang lelaki kelahiran Kudus, tigapuluh-an tahun yang lalu. Mempunyai kesukaan mengintip dari balik viewfinder kamera, terutama bebatuan heritage. Pernah melakukan perjalanan teramat mengesankan, mblusuk dari Yogyakarta – Surabaya naik motor matic bersama Cuk Riomandha. Singgah di setiap situs di kota/tempat yang dilewati, termasuk naik ke satu bahu Pegunungan Penanggungan, Jawa Timur. Hidupnya semacam Ninja Hatori; Naik gunung, masuk hutan, lewati lembah. Tak lupa pula terkadang nyebur rawa-rawa.

Feintje Likawati
Petinggi Taman Jiwa yang masyur dengan sambal matahnya ini lulus pada 1987 SMSR Yogyakarta dan 1991 FSR ISI Yogyakarta Jurusan Seni Lukis. Mengoleksi batik dan encim yang cihuy tiada tara. Bercita-cita menjadi pengemudi yang baik, sehingga bisa bolak-balik Muntilan–Yogyakarta tanpa repot mencari supir lagi. Hobinya tertawa dan minum kopi.

Ferry Riyandika
Lahir 7 Februari 1988. Lulusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Malang. Sekarang aktif bekerja di SLB Ngudi Hayu Srengat Kabupaten Blitar. Jika ingin bersilaturahmi, sila kontak lewat riyandikaferry@yahoo.co.id & ferry.070288@gmail.com.

Ida Fitri
Seorang mahasiswa yang lahir pada bulan September, dituakan di kelasnya karena menang usia. Pada saat ini hari-harinya banyak diboroskan di hadapan yang mulia berlembar buku pelajaran. Telah berbulan-bulan didera desakan ujian tesis yang terus mengejar dan menekan. Sedang corong radio Sonora FM hanyalah benda tak beruntung karena harus diomeli saban hari olehnya. Senang nge-jazz dan bermain-main dengan hastakarya. Menjadi manusia yang berguna bagi keluarga, bangsa dan agama adalah cita-cita mulianya.

I Made Darwi
Lahir di Badung, 21 Agustus 1965. Pendidikan S1, Arkeologi Universitas Warmadewa. Hobi touring motor, bersepeda, jogging, dan fotografi. Minatnya jelajah purbakala Indonesia. Sekarang menekuni pekerjaan sebagai guru sejarah di SMA Kutapura Kuta. Alamatnya ada di Jalan Tegal Wangi Gang Lotring Nomor 6 Kuta, Bali.

Kris Budiman
Hingga saat ini masih seorang laki-laki, entah esok hari. Demi sesuap nasi, pensiunan Bol Brutu ini hampir setiap hari mondar-mandir dari/ke Sekolah Pascasarjana UGM atau ke tempat lain demi tuntutan yang tak perlu dituntut. Baru saja menerbitkan disertasinya dengan judul “Ajang Perseteruan Manusia”. Dahsyat, kan? Ia seringkali berdoa, semoga karyanya tak dijadikan kitab suci bagi para teroris. Amin.

Linggar Saputra Wayan
Lahir di Kuta, 14 Juni 1968. Ia lulusan Teknik Arsitektur Universitas Warmadewa Denpasar. Memiliki hobi jalan dan makan. Sekarang lebih banyak memotret acara budaya.

Ninuk Retno Raras
Pemilik Sanggar Omah Sikep ini lahir di Kediri, 26 Januari 1962. Jiwa mudanya jangan ditanya, selalu membara. Seorang penulis cerpen dan puisi, dengan sajen yang tak lain dan tak bukan adalah segentong kopi. Menyukai segala jenis musik. Hobinya bermain sambil bernyanyi dengan sepeleton kucing, memotret dan menghitung kunang-kunang.

Nur Cahyati Wahyuni
Nama bekennya Cik Hwa. Nama penanya N.C. Wahyuni. Mengikuti saran primbon, ia berprofesi sebagai tenaga perpustakaan. Bukan fotografer sejati, karena ternyata ia masih suka difoto. Ia menulis buku “Bangga Jadi Pustakawan” bersama teman-temannya yang lain. Pencinta sambal matah Taman Jiwa. Menyukai susu dan cokelat, serta mix and match busana. Perempuan berkawat gigi ini pandai bermain kartu dan mungkin suatu saat ingin berlatih kelihaian terbang bersama sapu.

Putu Sutawijaya
Lahir 27 November 1970, suka memotret semenjak kuliah dan bergaul dengan para brutuis. Alhamdulillah, sekarang telah menyelesaikan studinya di Institute Bolbrutu Indonesia, dengan nilai tertinggi dan ternyempluk. Kesukaannya bermain kuas dan melototi kanvas.

Teguh Jos RedDot
Tenar dengan nama Teguh Joyosentiko. Lahir 23 April 1991. Pemusik favoritnya Pat Matheny, mungkin ini sebabnya dia rada medheni. Namun jangan khawatir dia baik hati. Makanan favoritnya adalah yang enak dan halal. Soal bagaimana ramuannya, silakan di-improve seturut genjrengan gitar saudara.

Transpiosa Riomandha
Lebih kondang dengan nama Cuk Riomandha, adalah seorang etnofotografer dan pegiat Bol Brutu. Ia kini sedang belajar kembali di Magister Antropologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Hiperaktif juga di Etnoreflika dan Sekolah Pagesangan. Seringkali terlalu obsesif pada semangkuk mie ayam, sebungkus gandos rangin, dan segelas es jahe. Tinggal di Yogyakarta Utara bersama seorang istri yang manis dan dua orang putrinya yang juga manis. Pertanyaan yang muncul adalah: entah kapan sang cuk ini ketularan manisnya. Mungkin hanya Tuhan yang tahu.

Vembri Waluyas
Bekerja secara berkala dan serabutan, tapi tetap stabil dan mintilihir di Lembaga Swadaya Masyarakat. Sementara ini tinggal di Timika, Papua, dengan mimpi membuat kisah tentang orang-orang lokal melalui foto-fotonya. Cita-cita yang ciamik ini dikembangkan dengan cara seksama sembari menunggu masa libur sang istri, Pipin, yang mengajar di Lanijaya, pegunungan tengah Papua.

Wahyu Wiedy Aditantra
Tantra Sipit panggilannya. Lahir di Wonosobo. Menyukai candi sejak kecil, apalagi candi yang ada di gunung, jadinya bisa sambil hiking. Pesannya pada kerabat sekalian kalau naik gunung, wajibkan mempersiap diri semaksimal dan se-masyuk mungkin. Jika tidak, ya, “Tunggu, Bro,” akan terus diulang, semacam mantera pemanggil raga. Kini ia bercita-cita menjadi tua dan dewasa, serta menjalani hidup dengan penuh sukacita.

Yeni Mada
Perempuan berzodiak cancer, lahir nun di pedalaman Kalimantan. Suka sekali makan kemudian melamun tanpa ingin berpikir apa pun. Tahun ini ia merencanakan jungkir balik, sebab ditugaskan menjadi ‘intel’ perbatasan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s