Sandyakala #49 SEPUTAR SASTRA BALI MODERN : NGURUG PASIH I GEDE PUTRA ARIAWAN

Sabtu, 30 Januari 2016, pukul 18.30 WITA

Dialog sastra kali ini merupakan kelanjutan dari agenda serupa tahun 2015 lalu, yakni membincangkan perihal perkembangan sastra Bali modern dan upaya Yayasan Rancage pimpinan budayawan Ajip Rosidi, terutama terkait upaya medorong lahirnya karya-karya berbahasa Ibu, tak terkecuali bahasa Bali. Diskusi kali ini menghadirkan narasumber sastrawan Bali, I Gede Putra Ariawan (peraih hadiah Sastra Rancage 2015), serta pemerhati sastra I Gede Gita Purnama

Selain mengulas perihal peranan dan posisi Hadiah Sastra Rancage dalam kehidupan sastra berbahasa Ibu di Indonesia, khususnya sastra Bali modern, Putra Ariawan juga akan berbagi proses kreatifnya menulis buku kumpulan cerpen “Ngurug Pasih”.

COVER NGURUG PASIH“Ngurug Pasih” (Menimbun Laut) terbit 2014 (Pustaka Ekspresi) memuat 15 cerpen berbahasa Bali: Ajeg Bali, Kekupu, Museum, Engkebang Bulan, Kado, Kode Alam, Ngurug Pasih, Padine Mentik di Tanah Wayah, Pekak Kaung, Sanggah, Car Free Night, Taluh Semuk, Kaliwat Tresna, JKBM, dan Langsung Sing Langsung. Kelimabelas cerpen ini sebagian besar bertema sosial yang menekankan pada satire atas gejala-gejala sosial masyarakat Bali. Cerpen Ngurug Pasih misalnya, menggambarkan penjualan habis tanah-tanah di Bali untuk villa dan bangunan-bangunan pariwisata. Cerita ini juga menggambarkan adanya peubahan-perubahan nilai akibat globalisasi, antara menjaga kearifan lokal Bali dengan nilai-nilai baru yang akibat hadirnya pariwisata selama ini.

Setelah 17 tahun diikutkan sebagai penerima hadiah sastra Rancage, setidaknya telah ada 20-an sastrawan Bali modern yang meraih hadiah sastra Rancage, baik atas buku yang ditulisnya, maupun atas jasanya dalam pengembangan bahasa dan sastra Bali.

foto diri Putra AriawanI Gede Putra Ariawan, lahir di Desa Banjar Anyar, Kediri, Tabanan, 16 Juni 1988. Merupakan guru Bahasa dan Sastra Indonesia sekaligus pembina Jurnalistik dan Karya Ilmiah di SMA Negeri 1 Kediri, Tabanan. Menekuni proses penulisan kreatif semenjak menempuh studi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Perguruan Tinggi: Undiksha, Singaraja (2006-2010). Melanjutkan studi S2 (2013-2014) di Pascasarjana Undiksha Singaraja, Program Pendidikan Bahasa Indonesia. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, opini, dan artikel pendek pernah dimuat di majalah Ekspresi, Satua, dan Bali Post. Buku perdana yang diterbitkan berupa kumpulan cerpen berbahasa Bali “Ngurug Pasih” (menimbun laut) mendapat penghargaan Sastera Rancage 2015 dari Yayasan Kebudayaan Rancage di Bandung.

Gita purnamaI Gede Gita Purnama, lahir di Denpasar, 29 Oktober 1985. Menempuh pendidikan di Fakultas Sastra Universitas Udayana dan menyelesaikan Program Pascasarjana di Almamater yang sama (2012). Kini aktif sebagai tenaga pengajar di IHDN (Institut Hindu Dharma Negeri) Denpasar, juga sebagai sekretaris Aliansi Peduli Bahasa Bali, sebuah organisasi sosial yang bergerak dalam bidang pelestarian dan pengembangan Bahasa Bali. Sebagai salah satu kontributor pada rubrik berbahasa Bali di Bali Orti (koran Bali Post) dan Media Swari (Pos Bali). Sebagai pembina cerpen bahasa Bali untuk Kota Denpasar dalam ajang Pesta Kesenian Bali (2013-sekarang). Turut menjadi editor serta penulis dalam beberapa buku diantaranya, “Dendang Denpasar Nyiur Sanur” (kumpulan puisi), “Denpasar lan Don Pasar” (Kumpulan puisi), “Wayan Bratha, Seniman Kelas Dunia” (biografi seniman Bali), “Angripta Rum” (Kumpulan cerpen bahasa Bali), “Smara Reka” (kumpulan puisi bahasa Bali)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s