Sinema Bentara: SOSOK dan POKOK

Sinema Bentara
SOSOK dan POKOK
Minggu – Senin, 29 – 30 November 2015, pukul 17.00 WITA

Selain tak henti menjadi perbincangan dalam sejarah, seringkali kisah tokoh-tokoh, baik Indonesia bahkan dunia, diabadikan dalam bentuk karya sastra non fiksi, fiksi, naskah teater atau monolog, musik, bahkan film. Tokoh-tokoh yang kerap diperbincangkan dan diabadikan kisahnya tersebut, merupakan sosok yang inspiratif sekaligus revolusioner pada masanya. Gagasan-gagasan mereka mampu mengubah cara pandang manusia dan sekitarnya, juga mewarnai perjalanan sejarah dunia.

Karya seni dan sastra yang mengangkat kisah para tokoh tersebut tidak jarang hanya berhenti pada ‘sosok’, bukan ‘pokok’ dari sang tokoh. ‘Sosok’ kehidupan pribadi sang tokoh yang paling personal diangkat dalam layar lebar. Namun sungguhkah ‘pokok’ (gagasan-gagasan idealis) dari sang tokoh telah mampu dihadirkan oleh kreator dalam karya-karya tersebut? Bagaimana sang sutradara menghadirkan ‘sosok’ dan ‘pokok’ secara ideal, sehingga dapat disampaikan dengan apik kepada para penonton?

Sinema Bentara kali ini bekerjasama dengan Sinematek Indonesia dan Alliance Francaisé Bali menghadirkan film-film berjudul Tjoet Nyak Dien (Indonesia, Eros Djarot), Soegija (Indonesia, Garin Nugroho), Coco Avant Chanel (Perancis, Anne Fontaine), dan La Vie En Rose (Perancis, Olivier Dahan).

Selain pemutaran film, kegiatan ini juga akan dimaknai dengan diskusi sinema mengenai tokoh-tokoh yang difilmkan, sekaligus memertanyakan gagasan-gagasan pokok yang inspiratif dan revolusioner dalam film tersebut.

Sinopsis Film :
TJOET NJA DHIEN (Indonesia, 1988, Durasi:150 menit, Sutradara: Eros Djarot)

Sinema_Tjoet Nja DhienTeuku Umar (Slamet Rahardjo) memimpin rakyat Aceh dala memerangi penjajah Belanda, didampingi istrinya, Tjoet Nja Dhien (Christine Hakim) dan putrinya, Tjoet Gambang (Hendra Yanuarti). Teuku Umar tewas tertembak oleh musuh. Tjoet Nja Dhien ganti jadi panglima perang. Setelah mengalami berbagai pertempuran dan pengkhianatan, tubuh Tjoet melemah dan akhirnya buta. Film ini ingin menegaskan bahwa kekuatan iman adalah segalanya.

Film Tjoet Nja Dhien meraih penghargaan Piala Citra serta nominasi di Festival Film Indonesia, 1988; pemenang Festival Film Bandung 1989; Grand Prix de la Semaine de la Critique (Pekan Kritikus Internasional) di Festival de Cannes, Perancis 1989; serta menjadi film Indonesia pertama di festival film internasional bergengsi tersebut.

SOEGIJA (Indonesia, 2012, Durasi: 115 menit, Sutradara: Garin Nugroho)

Sinema_soegija-1Soegija merupakan film drama epik sejarah yang berangkat dari catatan harian tokoh Pahlawan Nasional Mgr. Soegijapranata, SJ. Berlatar Perang Kemerdekaan Indonesia dan pendirian Republik Indonesia Serikat pada periode tahun 1940 – 1949, film ini ber-setting di Yogyakarta dan Semarang. Untuk bisa menggambarkan pengalaman Soegija, film ini banyak menampilkan tokoh-tokoh nyata tapi difiksikan baik dari Indonesia, Jepang, Belanda, sipil maupun militer dalam peristiwa-peristiwa keseharian yang direkonstruksi kembali.

Film ini meraih nominasi Big Screen Award pada Rotterdam International Film Festival (2013) dan mendapatkan penghargaan film terbaik pada Niepokalanow International Catholic Film Festival (2013).

COCO AVANT CHANEL (COCO BEFORE CHANEL)
(Perancis, 2009, Durasi: 105 menit, Sutradara: Anne Fontaine)

Sinema_cocobeforechanelFilm ini berkisah tentang awal perjalanan hidup Coco sebelum ia kemudian menjadi perancang busana terkenal dan menjadi salah satu tokoh penting dalam dunia mode abad ke-20. Coco Chanel terlahir dengan nama Gabrielle Bonheur Chanel dari sebuah keluarga miskin di Saumur, Perancis. Hingga berumur tujuh tahun, Coco harus tinggal di sebuah panti asuhan di mana ia pertama kali berkenalan dengan ilmu menjahit, ilmu yang nantinya akan mengubah seluruh hidup Coco.

Film ini meraih penghargaan film terbaik pada WFCC (Women Film Critics Circle Awards) 2009 dan Oklahoma Film Critics Circle 2009. Musik Terbaik pada Étoiles d’Or, Perancis (2010), soundtrack terbaik pada World Soundtrack Awards 2009, mendapat nominasi pada European Film Award 2009, BAFTA 2010, dan Academy Awards 2010, Desain Kostum Terbaik pada César Awards, Perancis (2010), dsb.

LA VIE EN ROSE (Perancis, 2007, Durasi: 140 menit, Sutradara: Olivier Dahan)

Sinema_La_Vie_en_Rose_posterFilm bergenre musikal-biografi ini mengangkat kisah hidup penyanyi legendaris Perancis, Édith Piaf yang diperankan Marion Cotillard. Diawali dari perkampungan miskin di Paris hingga ke New York yang gemerlap, film ini mengisahkan perjalanan dan suka duka yang dialami Edith Piaf sebagai penyanyi, saat dia bertahan hidup dan tentang kisah cintanya. Dalam perjalanan hidupnya, Piaf berteman dan menjalin cinta dengan orang-orang ternama saat itu, seperti Yves Montand, Jean Cocteau, Charles Aznavour, Marlene Dietrich, Marcel Cerdan, dan hubungan ini membuatnya terkenal di seluruh dunia.

Film ini mengantarkan Marion Cotillard memenangkan Academy Award untuk Aktris Terbaik, Penghargaan BAFTA untuk Aktris Terbaik dalam sebuah Peran Utama, Penghargaan Golden Globe untuk Aktris Terbaik – Film Musikal atau Komedi dan Penghargaan César, menandai pertama kalinya sebuah Oscar diberikan untuk sebuah peran berbahasa Perancis. Film tersebut juga memenangkan Academy Award untuk Tata Rias Terbaik, Penghargaan BAFTA untuk Tata Rias Terbaik, Rancangan Kostum, Musik Film dan lima Penghargaan César.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s