PELUNCURAN NOVEL FRANS NADJIRA DAN WAYAN SUNARTA

Pustaka Bentara
PELUNCURAN NOVEL FRANS NADJIRA DAN WAYAN SUNARTA
Sabtu, 31 Oktober 2015, pukul 18.30 WITA

Pustaka Bentara kali ini akan membincangkan tiga novel terbitan tahun 2015, yakni “Keluarga Lara” dan “Jejak – Jejak Mimpi” (karya Frans Nadjira) serta “Magening” (buah cipta Wayan Sunarta). Ketiganya memiliki latar peristiwa yang berbeda dengan konflik tokoh-tokoh dan jalinan cerita yang mencerminkan proses cipta yang panjang.

Novel Frans Nadjira menguraikan latar konflik di Sulawesi Selatan semasa perlawanan Kahar Muzakkar, sedangkan Wayan Sunarta mengkritisi situasi sosial kultural di Karangasem, wilayah paling timur pulau Dewata. Novel-novel terbitan Kaki Langit Kencana ini akan ditelaah oleh I Made Sujaya, seorang kritikus dan dosen sastra, serta dialihkreasikan menjadi sebentuk pembacaan karya oleh Muda Wijaya dan pertunjukan teater oleh Teater Rubik’z SMAK Harapan, Denpasar. Selain itu, acara juga akan menampilkan musikalisasi puisi oleh Kelompok Sekali Pentas dan pemutaran video dokumenter menyangkut sosok kedua sastrawan ini, garapan Dadi Reza Pujiadi.

Frans fotoFRANS NADJIRA lahir di Makassar, Sulawesi Selatan pada 1942. Mulai menulis puisi dan prosa sejak 1960-an. Belajar melukis di Akademi Seni Lukis Indonesia (ASLI) Makassar (1960). Pernah meluncurkan antologi cerpen berjudul Bercakap-cakap di Bawah Guguran Daun-daun (Denpasar, 2004), antologi puisi Curriculum Vitae di Taman Budaya (Yogyakarta, 2007), dan antologi cerpen Pohon Kunang-Kunang (2010). Sajak-sajaknya pernah dimuat di Harian Bali Post, CAK, Kalam, Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Pedoman Rakyat, Koran Bali, Fajar, Suara Merdeka, Antology Terminal, Laut Biru Langit Biru, Puisi ASEAN, Spirit That Moves Us (USA), On Foreign Shores, Ketika Kata Ketika Warna, The Ginseng, A Bonsai’s Morning, Horison Sastra Indonesia, IAI News (Australia), Jurnal Cerpen, Antologi Ruang Cerpen Rumah Lebah, dan Antologi Pena Kencana 100 Puisi Terbaik Indonesia.

Frans Nadjira lebih dikenal sebagai pelukis profesional baik di Tanah Air maupun di mancanegara. Melukis dengan metode “psikografi” dan berlanjut dengan metode “asosiasi bebas”. Bersama keluarga kecilnya, Frans Nadjira menetap di Denpasar, Bali sembari merenung, menulis puisi dan prosa, serta melukis sebagai napas hidupnya.

wayan sunartaWAYAN “JENGKI” SUNARTA, lahir di Denpasar, 22 Juni 1975. Menamatkan pendidikan Antropologi Budaya di Fakultas Sastra, Universitas Udayana, Bali. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa lokal dan nasional. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit adalah Cakra Punarbhawa (Gramedia, 2005), Purnama di Atas Pura (Grasindo, 2005), Perempuan yang Mengawini Keris (Jalasutra, 2011). Buku kumpulan puisinya: Pada Lingkar Putingmu (bukupop, 2005), Impian Usai (Kubu Sastra, 2007), Malam Cinta (bukupop, 2007), Pekarangan Tubuhku (Bejana Bandung, Juni 2010).

Beberapa karya puisi dan cerpennya pernah meraih penghargaan dalam dunia kesusastraan, di antaranya “Krakatau Award 2002” dari Dewan Kesenian Lampung, “Cerpen Pilihan Kompas 2004”, “Cerpen Terbaik Kompas 2004 versi Sastrawan Yogyakarta”, “Nominator Lomba Menulis Naskah Monolog Anti Budaya Korupsi se-Indonesia 2004”, “Nominator Anugerah Sastra Majalah Horison 2004”, Penghargaan “Widya Pataka 2007” dari Gubernur Bali, “Singa Ambara Raja Award 2008” dari Dermaga Seni Buleleng. Diundang ke berbagai festival sastra nasional dan internasional, antara lain: “Panggung Puisi Indonesia Mutakhir 2003” di Teater Utan Kayu Jakarta, “Ubud Writer & Reader International Festival 2004”, dll. Kini aktif mengelola Jatijagat Kampung Puisi (JKP), sebuah komunitas kesenian di Denpasar.

Pustaka_I Made SujayaI MADE SUJAYA dilahirkan Desa Kusamba, Klungkung, Bali Timur. Kini tercatat sebagai dosen tetap yayasan di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) IKIP PGRI Bali. Selain sebagai pengajar, Sujaya juga jurnalis dan editor lepas di harian warga kota DenPost, menjadi penjaga gawang rubrik sastra dan budaya pada terbitan edisi Minggu DenPost. Tapi, tulisan-tulisannya juga dimuat di Bali Post serta The Jakarta Post. Sempat pula menjadi staf redaksi Bali Orti, lembaran berbahasa Bali di Bali Post Minggu. Dia mengawali terjun ke dunia jurnalistik saat masih duduk di bangku SMP dengan menjadi koresponden tabloid pelajar Wiyata Mandala.

Sejak 2007 mengelola blog seputar kebudayaan Bali, Pojok Bali, yang kemudian sejak tahun 2013 berganti nama menjadi balisaja.com. Buku pertamanya, Sepotong Nurani Kuta: Catatan Seputar Sikap Warga Kuta dalam Tragedi 12 Oktober 2002 yang terbit tahun 2004 menjadi satu di antara sedikit buku mengenai Tragedi Bom Bali yang ditulis jurnalis Bali. Tahun 2007, menerima penghargaan “Widya Pataka” dari Gubernur Bali untuk buku kedua, Perkawinan Terlarang: Pantangan Berpoligami di Desa-desa Bali Kuno.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s