Pameran Seni Rupa “TUTUR NYATUR”

Pameran Seni Rupa
“TUTUR NYATUR”
Pembukaan : Rabu, 16 September 2015, pukul 18.30 WITA
Pameran berlangsung : 17 – 23 September 2015, pukul 10.00 – 18.00 WITA

Pameran seni rupa kali ini menghadirkan karya-karya empat perupa lintas generasi, merujuk tajuk “Tutur Nyatur”. Pada perupa, masing-masing adalah I Wayan Santrayana (50), Wayan Sudiarta (46) maupun I Made Bakti Wiyasa (41) dan Nyoman Wirata (58), sama-sama memiliki latar sebagai pendidik (guru, dosen dan guru kesenian). Keempatnya terbukti mampu melampaui beban profesi sebagai sosok yang patut “digugu” dan “ditiru” melalui berbagai karya rupanya laiknya para seniman yang telah teruji oleh proses panjang penciptaan.

Sebagaimana lazimnya seorang seniman, di dalam fikirannya selalu menggelantung sejuta pertanyaan. Pertanyaan tentang segala hal, entah yang bersentuhan langsung dengan kehidupan pribadinya atau persoalan-persoalan di luar dirinya.

Imade bakri Wiyasa, Jejak Padi 2013, 150x 4 m. arylik on Canvas

I Made Bakti Wiyasa, Jejak Padi 2013, 150x 4 m. acrylik on Canvas

Pertanyaan demi pertanyaan itu pula yang kemudian menjadi kegelisahan kreatif mereka. Karya seni hadir sebagai media untuk menumpahkan keluhan, menyuarakan protes, melemparkan pertanyaan kepada publik atau mencari jawaban atas pertanyaan yang ada. Dengan kata lain sebuah karya seni selalu mengandung narasi pikiran dalam perspektifnya yang sangat plural.

Maka, yang mengemuka adalah sejumlah ikon, buah sublimasi penghayatan sang seniman pada ruang-waktu yang merentang antara masa lalu, masa kini dan sekaligus membersitkan pengharapan akan masa depan; menyiratkan sejumlah pertanyaan, keprihatinan, serta perenungan akan hal-hal yang hakiki.

Tutur Nyatur_Nyoman WirataI Nyoman Wirata sebagai pensiunan guru, perupa sekaligus akrab dengan dunia kepenyairan dan kesusastraan menjadikan karya sastra sebagai sumber inspirasi karya lukisannya. Karya sastra dibaca, disimak , diinterpretasi dan ditempatkannya di cakrawala imajinasi. Sosok figur, benda, situasi hasil resepsinya di dalam jalinan makna tangkapan personalnya kemudian diwujudkan melaui konfigurasi serta susunan elemen visual di bidang gambar. Jadilah karya lukisan Nyoman Wirata tak ubahnya sebuah esai hasil pembacaan terhadap karya sastra yang menjadi sumber inspirasinya

Tutur Nyatur_Wayan SantrayanaI Wayan Santrayana melalui karya yang disiapkannya, sebagaimana dituturkannya bahwa inspirasi karyanya berasal dari dialektika ruang batinnya sendiri. Pertanyaannya tentang hakikat-hakikat hidup dan kehidupan (mungkin merupakan bentuk spiritualitasnya) dijalaninya dengan menjadikan media melukis sebagai altar atau sajadah perenungan dimana jejak-jejak prosesnya terekam pada kanvas berupa aliran garis berirama, berpola bahkan berkoreografi yang kemudian juga meninggalkan jejak berupa suasana bathin yang melingkupi di dalam proses kontemplasinya.

Tutur Nyatur_Bakti WIyasaI Made Bakti Wiyasa nampak sangat menguntai jalinan simbolis dari penggambaran objek-objek sehari-hari. Pikiran asosiatif terhadap objek sarana simboliknya menunjukkan relasi antara konteks persoalan yang dipahami melalui amatan faktual, dengan persepsi personalnya terhadap konteks hasil konstruksi pengetahuan. Pada kesempatan ini Made Bakti Wiyasa seperti hendak menegaskan keterusikan bathinnya oleh persoalan ke-agraris-an yang menjadi ruh kebudayaan Bali, ke-agraris-an yang tampil di dalam keseluruhan tatacara masyarakat bali membangun kebudayaan adi luhungnya. Pada ranah praktik kebudayaan itulah teks-teks hidup bertaburan untuk dipilah dan dimaknai. Bulir padi merupakan teks masyarakat agraris yang coba ditelisik, dimaknai dan didalaminya.

Tutur Nyatur_Wayan Sudiarta (2)Wayan Sudiarta adalah sosok perupa kelahiran Ubud dengan karya-karya khasnya yang sarat dengan memori budaya dan sekaligus kritis membaca ulang pergeseran dan perkembangan sosial-budaya secara visual. Dia membangun narasi-narasi secara personal mulai dari alam bathin dan lingkungan kehidupan nyatanya. Pengalaman dan tafsir-tafsir liar tersebut begitu saja diterjemahkan secara visual yang mengundang beragam makna dan perspektif baru. Wayan Sudiarta sekilas terlihat tumbuh tenang pada ‘akar budaya Ibu’-nya namun dalam kematangan teknis yang teruji justru karya-karyanya penuh gugatan dan kajian kritis pada dunia gagasan, bentuk dan makna dalam spirit kekinian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s