KULDESAK TAMBORA (Pameran, Pertunjukan dan Seminar)

KULDESAK TAMBORA
Pameran, Pertunjukan dan Seminar
Pembukaan : Rabu, 9 September 2015, pukul 18.30 WITA
Pameran berlangsung : 10 – 12 September 2015, pukul 10.00 – 18.00 WITA
Seminar : Kamis, 10 September 2015, pukul 08.00 WITA (peserta terbatas)

Pasang-surut interaksi manusia dengan alam raya—gunung api (giri) dan samudera (bahari)–, adalah pasang-surut peradaban kebudayaan lokal dengan fenomena alam. Saat alam raya menggelar potensi alam dan kesuburan tanahnya, maka pertumbuhan pemukiman dan jejaring sosial politik mekar dan mencapai keteraturan tertentu. Inilah tempora “Jaya Giri Jaya Bahari” itu.

Sebaliknya saat fenomena alam muncul—hujan, banjir-longsor, gempa, tsunami, dan erupsi–, penduduk, permukiman dan peri kehidupan berkerut, berantakan, bahkan musnah. Namun yang juga menakjubkan–begitu bencana berlalu–sebagaimana terus berlangsung hingga hari ini–, mudik-hilir dan pasang-surut manusia dan lingkungan ibarat perasaan “sebel tapi rindu”. Sakit, namun tidak kapok, tidak sampai patah hati. Manusia tidak jera mencinta alam raya. Bahkan sering, penghargaan manusia terhadap alam raya bertambah pasca peristiwa/fenomena alam tadi. Demikianlah, ini juga berlaku pada relasi manusia dengan Gunung Tambora, di Kabupaten Bima, Pula Sumbawa Besar Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang tahun ini diperingati sebagai 200 Tahun Letusan Gunung Tambora. Letusan Gunung Tambora, sebagai letusan gunung api terhebat sejagat terjadi selama lima hari, antara tanggal 10-15 April 1815 silam.

Relasi manusia dengan gunung api di Nusantara, sekaligus menggambarkan keadaan “KULDESAK”, keadaan maju kena mundur kena, yaitu kondisi relasi manusia dan alam yang tidak terpisahkan. Peradaban purba Nusantara—sebutlah megalitikum, dan zaman batu sesudahnya—mencatat perjalanan panjang pemanfaatan dan penghormatan simbol gunung dan batu. Warisan alam Nusantara dengan sendirinya mendorong aktivitas subsisten manusianya tak lepas dari alam tadi : samudara raya yang kaya biota, dan hamparan girisonya yang menghadiahkan mineral beraneka-rupa tak ternilai, dan kesuburan lahan pertanian.

Tambora (sumber sains kompascom)

Di samping itu, letusan gunung Tambora 200 tahun lalu mewariskan juga kepada kita tentang hakikat perubahan yang niscaya melingkupi keberadaaan peradaban kita, mengundang perenungan yang berguna bagi masa depan kita.
Program yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional ini memamerkan 8 aspek yaitu pertama teks-teks lama dan literatur tentang Gunung Tambora, Babad Bima, Syair Kerajaan Bima, dan berbagai publikasi kuna dalam bahasa daerah Bima. Seluruhnya koleksi ilmuwan Dr Maryam, pewaris kerajaan Bima. Kedua, tentang proses letusan yang ditampilkan dalam bentuk infografik dan foto. Ketiga tentang dampak letusan terhadap tiga kerajaan di Tambora. Keempat dampak letusan berdasarkan kajian vulkanologi dari Pusat Geologi (PVMBG) yang ditampilkan dalam bentuk foto dan infografik. Kelima akan mengulas tentang pengaruh letusan ke daerah lain terutama Eropa. Keenam tentang kerajaan Sanggar dengan bukti sejarah serta artefak-artefaknya. Aspek berikutnya adalah keindahan alam dan mitigasi, dan aspek terakhir akan menampilkan potret enam gunung dalam bentuk infografis dan artefak.

Tambora (sumber kompasiana)Selain pameran artefak dan foto-foto kebudayaan Tambora, akan diselenggarakan seminar yang menghadirkan narasumber, antara lain: Henri Chamber Loir (EFEO), Drs. Sonny Wibisono, MA; DEA (Pusat Arkeologi Nasioal), Drs. I Gusti Made Swarbhawa (Balai Arkeologi Denpasar), Ir. Agus Budianto (Badan Geologi, Kementerian ESDM, Bandung), Nahar Cahyandaru, S.Si (Bali Konservasi Borobudur), Ir.Kriswandhono, M. Hum ( ERMIT-Conservation Institute), DR. Salman Faris (Dinas Pendidikan Kebudayaan (Bima-Lombok) dan Hariadi Saptono. Sebagai moderator dan penanggap antara lain; Harry Truman Simanjuntak (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional), Wiwin Djuwita Ramelan (Dep. Arkeologi, Universitas Indonesia), Indio Pratomo (Museum Geologi Bandung), Bambang Eryudhawan (Anggota Tim Ahli Cagar Budaya, Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA)), Harry Widianto (Direktur Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman), dan Daud Aris Tanudirjo (Dep. Arkeologi, Universitas Gajah Mada),

Seminar bersifat terbatas, untuk keikutsertaan harap lebih dini menghubungi : seminar.tambora2015@gmail.com.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s