Sinema Bentara PERANG DAN DAMAI

Sinema Bentara
PERANG DAN DAMAI
Kamis – Jumat, 27 – 28 Agustus 2015, pukul 17.00 WITA

Awal tahun 1869, seorang novelis tersohor asal Rusia, Leo Tolstoy menerbitkan sebuah novel bertajuk “War and Peace” yang dikenal sebagai salah satu karya sastra terpenting di dunia dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Karya ‘masterpiece’ sastrawan Rusia tersebut telah dialih-kreasikan oleh seniman-seniman dunia menjadi film, serial televisi, opera, teater, drama-radio, dan komposisi musik; termasuk menginspirasi lahirnya karya-karya baru yang unggul dari para kreator.

Selaras dengan tajuk “War and Peace” atau “Perang dan Damai” tersebut, Sinema Bentara kali ini menghadirkan beragam film fiksi terpilih karya sineas mumpuni seperti: Pedjuang -Usmar Ismail (Indonesia), Tangerines- Zaza Urushadze (Estonia-Georgia), Female Agents- Jean-Paul Salomé (Perancis), Die Brücke am Ibar dan Fünf Patronenhülsen (German), termasuk karya sutradara King Vidor (Amerika/Itali) yang mengangkat novel War and Peace, menjadi sebuah film, diproduksi tahun 1956, meraih berbagai penghargaan internasional, hingga kini dikenang sebagai karya klasik.

Film-film yang dihadirkan tidak semata mengetengahkan kisah seputar perang dan rekonsiliasi menuju perdamaian, namun lebih jauh, mengisyaratkan pesan-pesan humanis yang universal.

Film-film tersebut mencoba hadir sebagai bandingan, sebuah antitesis film-film kini yang cenderung menghadirkan sosok pahlawan-super talenta- berikut peralatan canggih yang menyertainya. Sebaliknya, dengan latar infuturistik, film-film tersebut, menyimpan pesan kemanusiaan, simpati, dan toleransi di dalamnya.

Acara ini sejalan dengan kegiatan memaknai HUT Kemerdekaan RI ke-70, didukung oleh Sinematek Indonesia, Konsulat Kehormatan Republik Estonia di Jakarta, Goethe Institut, dan Alliance Franćaise Bali. Selain pemutaran film, program ini mengagendakan diskusi sinema bersama seniman asal St. Petersburg Rusia, Alla Dulh.

Alla DulhAlla Dulh merupakan seniman kelahiran Leningrad (St.Petersburg), Rusia tahun 1983. Pada tahun 2003, ia sempat mengenyam pendidikan penyutradaraan film di Lumiere Brothers Institute, Lion, Perancis. Ia turut dalam pameran fotografi di Galeri de Lion, Perancis 2003, sebagai Direktur program “Open Cinema Centre”, berpartisipasi dalam Dziga Vertov Festival, “Dom Kino”, St.Petersburg 2003, turut dalam Festival sinema tahunan “Vertikal” project [Vertical Line], Petropavlovskaya Fortress, St.Petersburg. Sedari tahun 2005 hingga sekarang, telah berpameran lukisan di beberapa negara di dunia, semisal: Moksow, Rusia, Jerman, India, dan lain sebagainya.

SINOPSIS FILM
PEDJUANG (Indonesia, 1960, Durasi: 152 menit, Sutradara: Usmar Ismail, Subtitle : Bahasa Indonesia)
Didukung oleh Sinematek Indonesia

Salah satu scene Film PedjuangSekitar tahun 1947, peleton pimpinan Letnan Amin (Rendra Karno) mendapat tugas tugas untuk mempertahankan sebuah jembatan yang sangat strategis. Di balik pasukan itu, berlindung sejumlah pengungsi, antara lain Irma (Chitra Dewi), anak keluarga menengah yang sinis terhadap pejuang kemerdekaan. Antara Amin dan Irma terjalin hubungan kasih diam-diam. Sersan Mayor Imron (Bambang Hermanto) yang urakan juga menaruh hati atas Irma. Ketika Amin terluka, Imron diserahi memimpin pasukan untuk meninggalkan tempat yang sudah dikuasai Belanda itu. Film Pedjuang mendapatkan penghargaan aktor terbaik di Festival Film Moscow tahun 1961 untuk Bambang Hermanto.

TANGERINES (Estonia, 2013, Durasi: 87 menit, Sutradara: Zaza Urushadze, Subtitle: Bahasa Inggris)
Didukung oleh Konsulat Kehormatan Republik Estonia di Bali dan Kedutaan Besar Republik Estonia Jakarta

Salah satu adegan TangerinesFilm ini mengisahkan perang yang terjadi di Georgia, tepatnya di daerah Apkhazeti di tahun 1990. Cerita bermula dari seorang warga Estonia yang bernama Ivo. Ia adalah seorang petani jeruk. Tiba-tiba sebuah pertikaian berdarah terjadi dan menyebabkan beberapa orang terluka parah. Melihat hal itu, Ivo mengajak mereka masuk ke dalam tempat tinggalnya. Ternyata para prajurit yang terluka tersebut adalah pihak musuh. Inilah yang ditekankan oleh para relawan anti perang. Ketika mereka sedang terluka dan terpaksa harus berlindung di wilayah musuh, apa yang mereka rasakan? Apa yang akan mereka lakukan ketika mereka berteduh di dalam rumah musuh yang seharusnya mereka bantai?

Film ini berhasil masuk nominasi dalam Oscar 2015 untuk kategori Best Foreign Language Film, film terbaik, sutradara terbaik, dan Audience Poll pada 29th Warsaw Film Festival, Special Award pada Mannheim-Heidelberg, dan Audience Award pada International Film festival Mannheim-Heidelberg 2013, serta Film Terbaik pada Bari International Film Festival.

FEMALE AGENTS (Perancis, 2008, Durasi: 108 menit, Sutradara: Jean-Paul Salomé, Subtitle : Bahasa Indonesia)
Didukung oleh Alliance Franćaise Bali

Female AgentsLouise Desfontaines (Sophie Marceau) adalah anggota French Resistance. Ia ditugaskan untuk menyelamatkan seorang agen Inggris yang ditangkap Jerman. Untuk menjalankan tugas berat ini, Louise merekrut Suzy Desprez (Marie Gillain), Ga lle Lemenech (D borah Fran ois), Jeanne Faussier (Julie Depardieu), dan Maria Luzzato (Maya Sansa). Awalnya misi ini berjalan lancar, namun segera setelah misi ini tuntas, Louise mendapat tugas baru yang jauh lebih berbahaya. Louise dan timnya harus berangkat ke Paris untuk menghabisi Kolonel Karl Heindrich (Moritz Bleibtreu) yang ternyata telah mengetahui rencana Inggris untuk mendarat di Normandy.
Film ini meraih penghargaan Kostum Terbaik pada César Awards-Perancis tahun 2009; nominasi pada Seattle International Film Festival 2008; dan Palm Springs International Film Festival 2009.

WAR AND PEACE (Amerika/Italia, 1956, Durasi: 208 menit, Sutradara: King Vidor, Subtitle: Bahasa Indonesia)

War and PeaceFilm ini diangkat dari novel karya sastrawan Rusia, Leo Tolstoy berjudul sama. Film ini difokuskan pada tokoh mengisahkan tentang hubungan yang kompleks antara Natasha, Pierre, dan Andrei, berikut pematangan kepribadian mereka dengan latar belakang peristiwa sejarah invasi Napoleon.

Film ini meraih nominasi Sutradara Terbaik, Sinematografi Terbaik, dan Kostum Terbaik pada Academy Awards USA 1957, mendapat penghargaan Film Asing Terbaik pada Golden Globes USA 1957, sinematografi terbaik pada British Society of Cinematographers 1956, Aransemen musik terbaik pada Italian National Syndicate of Film Journalists 1957, Film Asing Terbaik pada National Board of Review- USA 1956.

Die Brücke am Ibar (Jembatan sungai Ibar) (Jerman, 2012, Durasi : 85 menit, Sutradara: Michaela Kezele, Subtitle: Bahasa Indonesia)

Kosovo 1999. Konflik menahun antara warga Serbia yang beragama Kristen-ortodoks dan warga Albania yang sebagian besar beragama Islam akhirnya meluas menjadi perang. Pada bulan Maret, NATO turun tangan dan membom negara itu untuk mengakhiri pertempuran. Judul film ini dalam bahasa Jerman DIE BRÜCKE AM IBAR (judul internasionalnya MY BEAUTIFUL COUNTRY) mengacu kepada topos lama yang sangat intensif digunakan di dunia film: Jembatan sebagai tempat lintas batas yang sering berbahaya (seperti dalam banyak film perang), tetapi juga sebagai tempat yang, seperti dalam mitos zaman antik, melintasi sungai menuju alam baka. Bahaya muncul justru dari orang-orang yang mengaku patriot. “Kata ayahku, kau haram jadah Albania,” seorang bocah laki berkata kepada anak perempuan di taman bermain. Keduanya sama sekali tidak tahu apa artinya. Tetapi mungkin seperti itulah awal mula kebencian rasial.

Fünf Patronenhülsen (Lima Selongsong Peluru) (Jerman, 1959/60, Durasi : 87 menit, Sutradara: Frank Beyer, Subtitle: Bahasa Indonesia)

Semasa Perang Saudara Spanyol di barisan Brigade Internasional: Komandan Wittig asal Jerman bersama segelintir kameradnya diminta mengamankan gerak mundur batalionnya melewati garis musuh. Setelah mengalami luka parah ia menyerahkan secarik kertas kepada para kameradnya. Kertas itu konon berisi rencana pergerakan pasukan Franco. Demi keamanan, ia merobek kertas itu dan memasukkan potonganpotongannya ke dalam lima selongsong peluru. Agar tugas mereka terlaksana, kelima anak buahnya harus membawa potongan kertas masing-masing ke markas pasukan mereka. Hampir semuanya berhasil mencapai tempat tujuan, hanya untuk menemukan bahwa apa yang disebut sebagai rencana musuh itu justru dibuat untuk menyelamatkan mereka. Kertas itu hanya bertuliskan: “Tetap bersatu!”

Jadwal Pemutaran Film:

Kamis, 27 Agustus 2015
16.00 WITA | Pedjuang (Usmar Ismail)
18.30 WITA | Female Agents (Jean-Paul Salomé)
20.40 WITA | Die Brücke am Ibar (Michaela Kezele)

Jumat, 28 Agustus 2015
15.30 WITA | War and Peace (King Vidor)
19.00 WITA | Diskusi Sinema
Narasumber: Alla Dulh
19.30 WITA | Fünf Patronenhülsen (Frank Beyer)
21.00 WITA | Tangerines (Zaza Urushadze)

Partner:
Logo_Goethe-InstitutHonorary Consul of Estonia AF Bali 02 a 220px-Sinematek_Indonesia_logo.svg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s