Sandyakala Sastra #45 “Renungan Kebudayaan Budi Darma”

Sandyakala Sastra #45
RENUNGAN KEBUDAYAAN BUDI DARMA
Jumat, 22 Mei 2015, pukul 19.00 WITA

BudiDarmaBudi Darma bukan semata sastrawan, namun juga cendikiawan serta budayawan, yang gagasan-gagasan dan pandangannya disampaikan secara tajam, visioner, tapi sekaligus kontekstual dengan kenyataan kini. Karya-karya cerpen, novel, dan esai-esainya merefleksikan pergulatan panjangnya baik selaku pribadi sehari-hari yang mengabdi di Universitas, hingga meraih jabatan Rektor, maupun sebagai sosok sastrawan cemerlang, dengan imajinasinya yang mengejutkan, bahkan tergolong absurd.

Melalui renungan budaya kali ini, Budi Darma akan berbagi pandangannya perihal fenomena sosial kultural sekarang yang penuh dengan hal-hal paradoks, berikut aneka benturan kepentingan yang seringkali meminggirkan nilai-nilai kebaikan, solidaritas dan kemanusiaan. Akan disampaikan pula pengamatannya menyangkut kecenderungan karya-karya yang diciptakan tanpa satu proses sublimasi dan mendalam, terlahir mengikuti pola kehidupan serba instan yang mengemuka di segala lini belakangan ini sebagai dampak negatif kemajuan teknologi informasi dan digital.

Sastrawan Budi Darma (78) berkeyakinan pengarang yang baik harus mampu mengendapkan dan merenungkan realitas di sekitar hidupnya. Hanya dengan cara begitu, karya-karya yang baik dan menukik bisa lahir. “Dunia digital telah membawa sastra ke arah yang belum pernah dicapai sebelumnya. Pada hakikatnya semua bisa dianggap sastra, hanya mana yang bisa dimasukkan kanon (mahakarya) mana yang tidak. Sastra digital kebanyakan tanpa renungan, seperti juga kalau kita baca di Facebook, lebih banyak instan daripada pengendapan pemikiran,” begitu ujar Budi Darma dalam rubrik Persona, Kompas Minggu, 12 April 2015.

Bagaimana pandangan peraih Satyalencana Kebudayaan Republik Indonesia ini menyangkut kegaduhan politik di tanah air? Apa sumbangsih karya sastra dalam menjernihkan kekeruhan situasi sosial kultural kita yang tercemari oleh beragam tingkah polah para politisi yang “mengkorupsi” kepercayaan rakyat? Sejurus pertanyaan itu, sejumlah keprihatinan lain akan pula menjadi bagian dari renungan budaya kali ini.

Acara ini juga akan menghadirkan pembacaan karya dan alihkreasi cerpen Budi Darma menjadi sebentuk dramatisasi atau bidang seni lainnya, serta pemutaran film dokumenter perjalanan kreatif pengarang novel Olenka ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s