Sandyakala Sastra #44: Migrasi Bahasa Dalam Karya Sastra

Sandyakala Sastra #44
MIGRASI BAHASA DALAM KARYA SASTRA
Minggu, 12 April 2015, Pukul 19.00 WITA

Pada galibnya, dibutuhkan proses yang panjang hingga akhirnya terbit sebuah buku, terlebih dalam Bahasa Inggris. Sebagaimana penciptaan buku The Story of a Tree karya Sonia Piscayanti. Selain buku kumpulan naskah drama itu, Sonia juga telah menerbitkan kumpulan naskah teater I am Insane (2014), dan antologi puisi dalam bahasa Inggris Are We there Yet (2015). Pergulatan itu dialami pula oleh Ni Ketut Sudiani, selama penulisan novel The Voices of Butterflies, a story from Truro to Sei Gohong (2014) yang memerlukan waktu hingga tiga tahun.

sud

Mengapa seseorang menulis dalam Bahasa Inggris? Pada mulanya boleh jadi adalah keinginan untuk mencoba, seberapa jauh bisa bertahan melakukan pergulatan dengan bahasa yang bukan bahasa Ibu. Pastilah terus terjadi proses ulak-alik kata, hingga akhirnya berhasil menemukan kata penutup cerita.

Menulis langsung dalam Bahasa Inggris ternyata tidaklah cukup hanya berbekal penguasaan kosa kata dan ketaatan akan tatanan grammar. Terlebih jika hendak mencipta sebuah karya sastra, baik puisi, cerpen, maupun novel.

Sesungguhnya, selama proses tersebut, tidaklah terjadi penerjemahan atau interpretasi, semisal dari bahasa Indonesia ke Inggris. Penerjemahan maupun interpretasi seringkali menyebabkan kekeliruan transfer makna yang sejatinya sifatnya sangat kontektual dan kultural.

Penulis dituntut untuk merasakan bahasa, menggunakan idiom, humor, perumpamaan, maupun pribahasa yang sesuai konteks dan tidak bias. Keseluruhan proses boleh jadi tidak jauh berbeda seperti menyusun puzzle, berulang memadukan potongan demi potongan hingga menemukan kepaduan yang utuh.

Selain hal-hal mendasar tersebut di atas, dialog kali ini juga terangkai topik perihal “Migrasi Bahasa”, sebuah tema yang sempat menjadi perdebatan dan polemik di media massa sekitar tahun 1994. Gagasan itu pertama kali dikemukakan oleh sastrawan Radhar Panca Dahana. Tapi apakah sesungguhnya “Migrasi Bahasa” itu? Apakah sekadar proses transfer bahasa satu ke bahasa yang lain, ataukah sebuah migrasi linguistik yang lebih jauh? Ataukah hanya semata fenomena seorang pengarang yang mengekspresikan diri dalam bahasa “internasional” agar segera karyanya diterima sebagai sastra dunia ?

Kedua penulis tersebut akan berbagi pengalaman perihal menulis langsung dalam bahasa Inggris serta latar penciptaannya, berikut memperbincangkan seputar “Migrasi Bahasa Dalam Sastra” seturut pertanyaan-pertanyaan di atas.

Sandyakala_Sonia(1)Kadek Sonia Piscayanti lahir di Singaraja, 4 Maret 1984, dosen sastra di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja. Editor buku dan pendiri Mahima Institute Indonesia dan Komunitas Mahima, sebuah lembaga seni budaya di Bali Utara. Menulis cerpen, prosa dan puisi, naskah drama dan esai yang dimuat di media lokal, nasional dan internasional, di antaranya; Jawa Pos, Koran Tempo, Suara Pembaruan, Jurnal Cerpen Indonesia, The Jakarta Post, dll. Bukunya yang telah diterbitkan; kumpulan cerpen “Karena Saya Ingin Berlari” (Akar Indonesia, Yogyakarta, 2007), buku ajar sastra berbahasa Inggris “Literature is Fun” (Mahima Institute Indonesia, 2012), kumpulan naskah drama berbahasa Inggris “The Story of A Tree” (2014) dan segera terbit buku ajar drama berbahasa Inggris “The Art of Drama, The Art of Life”. Diundang dalam Ubud Writers and Readers Festival, Creative Writing di Griffith University, Gold Coast, Australia (2011 dan 2012), pertemuan penulis se-Asia Pasifik di OzAsia Festival, Adelaide Australia (2013). Menulis naskah dan menyutradarai pementasan hibah seni budaya program Dikti ke Eropa (Belanda dan Prancis, 2014).

Sandyakala_ni ketut sudiani(1)Ni Ketut Sudiani menulis puisi, cerpen, esai dan novel. Alumni Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Udayana ini kini merupakan wartawan di Tribun Bali. Tulisan-tulisannya dimuat di sejumlah media, seperti Kompas Minggu, Media Indonesia, Suara Merdeka, Jurnal Nasional, Bali Post, Jurnal Sundih, Radar Bali dan lainnya. Tulisannya terangkum dalam antologi bersama seperti Buku Kumpulan Esai, Menteri Lingkungan Hidup, Jakarta, 2006, antologi Puisi, “Jalan Angin”, 2006, antologi Puisi “Kota di Utara Peta”, 2007, antologi Puisi “100 Puisi Terbaik’, INTI dpp Jakarta, 2007, buku Biography Kreatif, “Waktu Tuhan (Wianta)”, 2008, antologi Puisi “Kampung Dalam Diri”, 2008, antologi Puisi “Keranda Emas”, 2008, antologi Cerita Pendek, Akademika, 2009 dan antologi Puisi dwibahasa , Indonesia – Prancis “ Warna Perempuan” 2011. Meraih Juara III Journalist Award Bali, mengikuti Youth Forum di Manila, Filipina, 2009; Pertukaran Pemuda Indonesia – Kanada, 2011 -2012, Pertukaran Penulis Muda Indonesia – Australia, 2014, Ubud Writers and Readers Festival, 2014.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s