Pameran Seni Rupa “Asam Garam Bentara”

Pameran Seni Rupa
ASAM GARAM BENTARA
Pembukaan : Minggu, 29 Maret 2015, Pukul 18.30 WITA
Pameran berlangsung : 30 Maret – 7 April 2015, Pukul 10.00-18.00 WITA

asam garam

Budaya bahari telah sangat lama terabaikan di dalam kehidupan bersama kita. Bahkan ekstrimnya, bagi sebagian besar masyarakat laut terasa begitu jauh. Laut hanya ada di foto wisata, film, atau buku cerita. Boleh dikata, laut dan budayanya adalah “sang liyan”. Berbagai masalahnya adalah “urusan di luar kita”. sehingga tidak perlu benar-benar digubris sampai menghabiskan energi dan fikiran.Maka upaya untuk menghidupkan kehidupan bahari, membangkitkan ekonominya, mendorong pengelolaan kekayaan alam berbasis laut, tidak hanya dilakukan dengan membuat seperangkat peraturan dan pembangunan fisik. Mestilah upaya itu dibarengi dengan usaha untuk memahami kultur kelautan, dan menyemai benih-benih kebersamaan antara budaya laut dan budaya daratan.

Maka pameran seni rupa “Asam Garam Bentara” ini menjadi salah satu langkah kecil untuk mendekatkan kedua budaya tersebut, dengan mendorong para seniman yang berlatar orang darat untuk menggumuli masalah-masalah kelautan. Lima perupa yang mendukung pameran ini kebetulan aktif sebagai kurator di Bentara Budaya. Mereka adalah: GM Sudarta, Hermanu, Hari Budiono, Ipong Purnama Sidhi, dan Wiediantoro. Dengan cara masing-masing mereka menggarap problematik budaya laut yang terkadang ditempatkan di dalam posisi saling tergantung dengan budaya darat. Mereka menampilkannya di dalam lukisan, drawing, karya dwimatra dengan teknik media campur, dan patung. Di samping karya-karya yang khusus terkait dengan tema, mereka juga menyertakan sejumlah lukisan yang memberi gambaran kekaryaan mereka sehari-hari lengkap dengan kecenderungan artistiknya. Mereka memang aktif berkarya seni di samping setia bertugas sebagai kurator yang menjaga arah kegiatan Bentara Budaya.

Pameran Asam Garam ini juga sejalan dengan salah satu tema utama Bentara Budaya sepanjang tahun 2015 yaitu “Jaya Giri Jaya Bahari”, sebuah sikap kritis yang menimbang betapa budaya daratan selama ini telah menguasai praktis seluruh kehidupan negeri ini sehingga seringkali kita abai pada laut berikut segala potensinya. Padahal, sebagai bangsa nusantara ini kita memiliki sejarah panjang di bidang kemaritiman atau kelautan, tersohor dari zaman ke zaman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s