Bali Tempo Doeloe#13: Bioantropologi: Tenganan Pegringsingan dalam Dua Perspektif

Bali Tempo Doeloe #13
BIOANTROPOLOGI: TENGANAN PEGRINGSINGAN DALAM DUA PERSPEKTIF
Jumat, 27 Maret 2015, Pukul 19.00 WITA

Pintu Masuk Desa TengananMula awal tahun 1960-an, seorang antropolog Korn, V.E. telah menerbitkan tulisan mengenai Tenganan yang bertajuk “The Republic of Tenganan Pegringsingan” dalam buku W.F. Wertheim berjudul “Bali: Studies in Life, Thought and Ritual”. Hingga kini, desa yang terletak di kabupaten Karangasem, Bali ini telah menarik berbagai ilmuwan aneka bidang untuk meneliti dan melakukan kajian terhadap struktur masyarakat, lingkungan, maupun kebudayaan di sana.

Desa Tenganan Pegringsingan merupakan salah satu desa Bali Aga, masih mempertahankan pola hidup dimana tata masyarakatnya mengacu pada aturan tradisional adat desa (awig-awig) yang diwariskan nenek moyang secara turun-temurun. Kata Tenganan sendiri berasal dari kata “tengah” atau “ngatengahang” yang memiliki arti “bergerak ke daerah yang lebih dalam”. Kata tersebut berhubungan dengan pergerakan masyarakat desa dari daerah pinggir pantai ke daerah pemukiman di tengah perbukitan, yaitu Bukit Barat (Bukit Kauh) dan Bukit Timur (Bukit Kangin).

Tidak hanya kajian terhadap struktur dan kebudayaan masyarakat yang banyak dipublikasikan, tahun 1978, seorang antropolog dari Swiss, Georges Breguet sempat melakukan studi genetika di Tenganan untuk mengidentifikasi keragaman genetik yang terdapat pada masyarakat Tenganan dibandingkan dengan populasi lain di dunia. Hasilnya, masyarakat desa Tenganan sangat dekat dengan kelompok masyarakat Calkutta, India tepatnya dari Orisa, Benggali.
Bali Tempo Doeloe #13 kali ini akan mencoba menyanding bandingkan Desa Tenganan melalui dua perspektif yakni kultural dan sains. Diskusi akan mengulas lebih mendalam perihal kehidupan masyarakat Desa Tenganan berikut perkembangannya di masa kini, baik dalam lingkup kebudayaan, sosial, maupun telaah dalam bidang sains melalui biologi molekuler – genetika. Sebagai pembahas dalam diskusi ini adalah Prof. Dr. I Gde Parimartha, MA (Guru Besar Sejarah Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana) dan Prof. Dr. Drs. I Ketut Junitha, MS (Guru Besar Biologi Fakultas MIPA Universitas Udayana).

Prof. Dr. I Gde Parimartha, MA adalah sejarawan kelahiran Tenganan, Karangasem, 31 Desember 1943. Ia merupakan lulusan Vrije Universiteit Amsterdam (1990-1995) dan kini menjadi Guru Besar Sejarah Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana.

Prof. Dr. Drs. I Ketut Junitha, MS merupakan Guru Besar Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana. Aktif melakukan penelitian di bidang genetika, semisal: Analisis DNA dalam Studi Keragaman Genetik Masyarakat di Desa Bali Aga: Tenganan Pegringsingan Karangasem dan Sembiran Buleleng, Keragaman Genetik Masyarakat di desa-desa Bali Aga Berdasarkan Analisis DNA dan Sidik Jari, Penggunaan DNA Mikrosatelit untuk Penelusuran Kawitan pada Soroh-soroh Masyarakat Bali, dsb.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s