Pameran Seni Rupa “Artist From Elsewhere – Two Art Brut Artist from Indonesia”

Pameran Seni Rupa
ARTIST FROM ELSEWHERE – TWO ART BRUT ARTIST FROM INDONESIA
Pembukaan : Jumat, 19 Desember 2014, Pukul 18.30 WITA
Pameran untuk umum : 20 – 27 Desember 2014, Pukul 10.00 – 18.00 WITA

Pameran seni rupa kali ini menghadirkan dua seniman yang dikenal dengan karya-karya art brutnya, yakni Dwi Putro atau Pak Wi dan Ni Nyoman Tanjung. Keduanya merupakan seniman otodidak serta melalui fenomena bawah sadarnya dianggap kuasa melahirkan karya-karya seni yang orisinil mempribadi sekaligus kontemporer.

Karya Dwi Putro_3

Karya figur-figur Dwi Putro Mulyo

Croping_Ilustrasi Cerpen Ni Tanjung

Figur-figur imajinatif Ni Nyoman Tanjung

Istilah art brut dicetuskan pertama kali oleh Jean Dubuffet, seniman Perancis yang mengumpullkan karya-karya seorang pasien rumah sakit jiwa bernama Adolf Wolfli (1864- 1930). Konsep Art Brut mengacu pada karya-karya seni dari dunia ‘luar’, melampaui alam bawah sadar, di mana ‘insting, nafsu, marginalitas, dan kekuatan purba dan delirium’ berpotensi dalam kreativitas seni, dan dianggap setara dengan art nhgre atau African Art. Pada tahun 1972, seorang kritikus seni dari Inggris, Rogers Cardinal, kemudian menyebutnya sebagai outsider art.

Dwi Putro_foto dok kompasSeniman bernama lengkap Dwi Putro Mulyo (51), lebih dikenal dengan Pak Wi, di kota Yogyakarta, 10 Oktober 1963. Sejak umur sembilan tahun, kesehatannya mulai menampakkan kelainan ketika fungsi pendengarannya melemah, dan beberapa kali tidak naik kelas. Saat berusia 12 tahun ia disekolahkan di SLB (Sekolah Luar Biasa) di Yogyakarta dan saat berusia 18 tahun jatuh cinta pada seorang gadis yang mengakibatkan kesehatan mentalnya mulai labil. Dalam pandangan masyarakat umum, Pak Wi dinilai mengalami disorder atau gangguan psikis. Keluarganya berinisiatif untuk mencari jalan keluar dengan mendorongnya melakukan proses cipta, termasuk mengekspresikan kecintaannya pada dunia wayang dalam karya dua dimensinya.

Hingga kini, Pak Wi telah melukis ribuan figur imajiner atau tokoh wayang, serta pernah memperoleh penghargaan Rekor MURI melukis di kanvas sepanjang 88 meter. Lukisan-lukisan Pak Wi pernah pula dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta pada 11-13 Oktober 2013.

Compress_Tanjung9Ni Nyoman Tanjung (94), asal Banjar Besang, Desa Ababi, Karangasem Bali. Ni Tanjung sehari-hari hidup dengan dunianya yang tersendiri, antara sadar dan tak sadar, telah menciptakan sebuah karya seni rupa yang luar biasa. Ia diperkirakan lahir sekitar tahun 1920-an, dan mendapat pengalaman traumatis semasa pendudukan Jepang di Bali (1942-1945), yakni dipaksa meninggalkan kampung halaman untuk kerja paksa. Pada tahun 2012 Ni Tanjung bersama dengan 9 seniman terpilih lainnya menerima Anugerah Budaya dari Bentara Budaya. Para maestro tersebut antara lain: Anak Agung Ngurah Oka (Seniman Keramik Klasik – Bali), Pang Tjin Nio (Sinden Gambang Kromong – Jakarta), Rastika (Pelukis Kaca – Cirebon), Sitras Anjilin (Seniman Wayang Orang – Merapi Magelang), Sulasno (Tukang Becak dan Pelukis Kaca – Yogyakarta), Mardi Gedek (Dalang Wayang Klithik – Bojonegoro Jawa Timur), Dirdjo Tambur (Pemain Ketoprak Senior – Yogyakarta), Hendrikus Pali (Penggiat Tenun dan Seni Tari – Kambera, Sumba Timur NTT), dan Zulkaidah Harahap (Ketua Opera Tradisional – Batak Sumatra Utara).

Ni Tanjung mulai berkarya dengan mengumpulkan bebatuan dari sungai terdekat, membuatnya menjadi gundukan-gundukan kecil, melukis ragam wajah di permukaannya. Intensitas berkaryanya meliputi pula sosok-sosok wayang dari kertas-kertas yang menampilkan wajah-wajah unik, serta hadir dengan ekspresi kekinian atau kontemporer. Bentuk-bentuk rupa yang begitu individual dan unik ini menjadi kekuatan dan ciri tersendiri dari buah ciptanya. Tidak heran, dikuratori oleh Lucienne Peiry, karya-karyanya pada tahun 2014 dipamerkan dan dikoleksi pula di Museum Collection d’Art Brut, in Lausanne Switzerland, serta disandingkan di berbagai ajang internasional bersama perupa-perupa art brut lainnya seperti Gustav Mesmer, Giovanni Bosco, Antonio Roseno de Lima, Monsieur Kashinath dan Ezekile Messou.

Pameran ini dikuratori oleh George Bregguet dan Nawa Tunggal, disertakan pula pemutaran video dokumenter mengenai kedua perupa ini, sekaligus serangkaian performing dan dialog yang memperbincangkan posisi seniman outsider dalam kancah seni rupa Indonesia dan dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s