Sinema Bentara PEMUTARAN DOKUMENTER MEMOAR PARA MAESTRO

Sinema Bentara
PEMUTARAN DOKUMENTER MEMOAR PARA MAESTRO
Sabtu – Minggu, 22 – 23 November 2014, pukul 17.00 – 22.00 WITA

Sinema Bentara kali ini menayangkan film-film pilihan, dihadirkan sebagai sebentuk obituari untuk maestro patung Bali, I Ketut Muja (70 tahun) yang berpulang belum lama ini, Sabtu, 20 September 2014. Ketut Muja dikenal sebagai seniman yang menekuni seni topeng tradisi dan kemudian menciptakan karya-karya yang otentik dan modern, mengekspresikan sikap kepeduliannya terhadap kekinian dengan pilihan bentuk realis naturalistik. Sinema obituari ini akan mengetengahkan film dokumenter terkait proses cipta I Ketut Muja yang dirangkaian pula dengan diskusi, membahas capaian komposisinya dalam seni rupa Bali atau Indonesia.

Sinema Bentara yang bertajuk “Memoar Para Maestro”, pada hari kedua akan menayangkan pula pula dokumenter maupun film cerita tentang tokoh-tokoh seni rupa dunia yang bekerjasama dengan Goethe Insitut, serta maestro-maestro seni Indonesia terpilih lainnya. Adapun film-film yang akan diputar yakni: Gerhard Richter (2011, 98 menit, sutradara Corinna Belz), Der Bilderdenker: Der Maler Gottfried Brockmann (1986, 30 menit, sutradara Per Schnell), Adolph von Menzel-Chronist mit Stift und Pinsel, Irmgard von zur Mühlen (1981, 30 menit, sutradara Irmgard von zur Mühlen), Franz Marc, H. J. Hossfeld (1980, 28 menit, sutradara: H. J. Hossfeld), Netzflickerinnen, Die – Max Liebermann (1985, 10 menit, sutradara: Reiner E. Moritz).

Sosok I Ketut Muja
I Ketut Muda, seniman kelahiran 31 Desember 1944. Ia belajar kepada seniman-seniman topeng mumpuni seperti I Wayan Tanggung, I Made Rondin dan I Wayan Komplit. Berangkat dari pemahaman atas seni tradisi, seniman I Ketut Muja kemudian melahirkan karya-karya patung masterpiece-nya dalam wujud realis naturalistik.

Sekitar tahun 1970-an seniman I Ketut Muja menciptakan karya-karyanya yang bertema Ramayana dan Mahabarata dengan bahan dari akar-akar kayu. Yang paling monumental adalah karya patung “Hanoman”-nya, merupakan hasil kreativitas dari gabungan topeng tradisi, gaya patung Realis-Naturalistik dan Dekoratif dengan pahatan-pahatan yang maha rumit dan sangat detail. Salah satu karyanya dapat kita saksikan pada koleksi yang tersimpan di Taman Budaya Bali yang berjudul “Hanoman Pasah”.

Kemampuannya membentuk figur-figur pewayangan pada bahan dari akar-akar kayu, menjadi inspirasi bagi pematung-pematung muda, di antaranya; I Nyoman Darwa, I Wayan Suada, I Nyoman Kendra, I Wayan Warsa, I Nyoman Rubig, I Made Jasah, I Wayan Budarma, I Wayan Widia, I Wayan Jagra, I Wayan Badra adalah murid-murid tempaan Muja berikutnya. Selain tersimpan di Daetz Museum Jerman, karya-karya I Ketut Muja telah dikoleksi oleh Mosa Museum Belgia, Park Paradisio Belgia, Latta Mahosadi Museum Denpasar, Museum Oei Hong Djien, Busan Indonesia Centre Korea dan Museum Purna Bhakti Pertiwi TMII Jakarta, serta dikoleksi pula oleh perorangan diantaranya dikoleksi oleh Mr. Henry Kissinger (mantan Menlu Amerika), Ferdinand Marcos, Tengku Abdul Rachman, Ida Bagus Mantra.

Sinopsis Film : 

Gerhard Richter 
Sutradara: Corinna Belz, Jerman, berwarna, 98 menit, 2009 – 2011

Ia dipandang sebagai salah satu pelukis terpenting masa kini dan “menyelamatkan seni lukis ke abad 21” (Süddeutsche Zeitung). Gerhard Richter, lahir tahun 1932 di Dresden, mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Negeri setempat dan, setelah melarikan diri ke Jerman Barat, di Akademi Seni Negeri Düsseldorf. Sejak itu Richter telah menerima banyak penghargaan internasional, dan pamerannya mendapat sambutan hangat di seluruh dunia. Pembuat film Corinna Belz berhasil mendapat izin menyertai sang seniman ketika bekerja di studionya di New York; ia mengikuti proses penciptaan beberapa lukisan – sampai ke pembukaan pameran di New York. Berbekal rasa ingin tahu berlandaskan kepekaan ia menghasilkan dokumen yang unik – jauh dari tradisi potret seniman yang cenderung akademis.

Der Bilderdenker: Der Maler Gottfried Brockmann
Sutradara: Per Schnell, 30 menit, berwarna, 1986

Film ini adalah potret pelukis Gottfried Brockmann yang lahir tahun 1903 di Köln. Pada tahun dua puluhan ia menghasilkan sejumlah karya yang sampai sekarang pun mendapatkan pengakuan internasional. Tahun 1933 Brockmann terpaksa bersembunyi, karena keseniannya tidak disukai oleh rezim Nazi. Mulai 1952 Brockmann tinggal dan berkarya di Kiel, tempat ia juga mengajar sebagai profesor seni sampai akhir hayatnya pada tahun 1983.

Adolph von Menzel-Chronist mit Stift und Pinsel, Irmgard von zur Mühlen
Sutradara: Irmgard von zur Mühlen, 30 menit, 1981

Pelukis dan juru gambar Adolph von Menzel (1815 – 1905) termasuk seorang penulis kronik di jamannya, yang menyebarkan subyek mengenai Berlin di dalam karya-karyanya. Film ini memaparkan karya-karyanya dalam kerangka sejarah kontemporer dan biografis. Fontane menulis mengenai Menzel: “Dia belajar mengenai dunia besar dan kecil, semua yang terbang, dia memperlihatkan gambarannya kepada kita“.

Franz Marc, H. J. Hossfeld
Sutradara: H. J. Hossfeld, 28 menit, 1980

Film ini merupakan potret pelukis Franz Marc (1880 – 1916), yang turut mendirikan kelompok seniman “Blauer Reiter” (Penunggang Biru). Marc dipandang sebagai salah satu ekpresionis terkemuka, dengan karya lukisan yang menonjol berkat warna-warna yang pekat. Karyanya yang terkenal terutama lukisan hewan dengan warna cemerlang dan bentuk menjurus abstrak.

Max Beckmann – Der Maler
Sutradara: Michael Trabitzsch, 93 menit, berwarna, 2013

Sebuah film dokumenter yang memikat mengenai hidup dan karya salah satu pelukis terbesar abad ke-20, Max Beckmann (1884-1950). Karya-karyanya yang misterius – yang mencerminkan kehidupannya di antara dua perang dunia, terombang-ambing antara Berlin, Frankfurt, Paris, Amsterdam, dan akhirnya New York – dijadikan fokus film ini. Lukisan tiga bidang (triptych) karya Beckmann di berbagai museum di dunia dianalisis secara cermat oleh pakar-pakar sejarah seni internasional, tetapi juga dikomentari oleh kata-kata Beckmann sendiri dari surat dan buku hariannya.

Pina Bausch (43 menit, 2006)

Tiga tahun sebelum kematiannya, Pina Bausch dan kelompoknya (Tanztheater Wuppertal) berusaha mengungkap rahasia keberhasilan grupnya ini di panggung dunia. Film ini memperlihatkan potongan-potongan pertunjukan dan wawancara yang menunjukan bagaimana ketekunan mereka membawa mereka menjadi terkenal dan film ini juga menerangkan dengan jelas cara kerja koreografer besar Jerman ini.

Jadwal Pemutaran Film :

Sabtu, 22 November 2014

Pukul 18.00 WITA     : Pemutaran Film Dokumenter I Ketut Muja

Pukul 19.00 WITA     : Diskusi

Pukul 20.30 WITA     : Adolph von Menzel-Chronist mit Stift und Pinsel, Irmgard von zur Mühlen

Minggu, 23 November 2014

Pukul 17.00 WITA     : Gerhard Richter 

Pukul 18.30 WITA     :  Der Bilderdenker: Der Maler Gottfried Brockmann

Pukul 19.00 WITA    : Diskusi

Pukul 19.30 WITA    : Pina Bausch

Pukul 20.20 WITA    : Franz Marc, H. J. Hossfeld

Pukul 21.00 WITA    : Max Beckmann – Der Maler

One response to “Sinema Bentara PEMUTARAN DOKUMENTER MEMOAR PARA MAESTRO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s