Pameran Tunggal KOSMOLOGI KETUT BUDIANA

Pameran Tunggal
KOSMOLOGI KETUT BUDIANA
Pembukaan : Senin, 6 Oktober 2014, Pukul 18.30 WITA
Pameran untuk umum : 7 – 11 Oktober 2014, Pukul 18.00 – 22.00 WITA

Walau telah menginjak usia 64 tahun, perupa yang berasal dari Padang Tegal, Ubud, Bali ini terbukti masih terus berkreatifitas. Tahun ini menjadi penanggalan penting penanda capaian-capaiannya, yakni menggelar pameran di tiga kota; Bali, Yogyakarta, Jakarta, keseluruhannya berlokasi di Bentara Budaya. Bagi Budiana, yang sehari-hari juga menjalankan laku tradisinya sebagai sangging serta undagi untuk kepentingan adat dan religi, pameran kali ini tidak semata gelaran keliling atau road show, tetapi adalah sebuah ritus yang dilandasi filosofi dan konsep-konsep yang digali dari nilai spiritual khususnya Hindu Bali.

Berawal dari Konsep Dualitas (Rwabinedha), yakni penciptaan yang mempertautkan aspek purusa (laki-laki) dan predana (perempuan) dalam jalinan kausal sehingga kehidupan mengada di bumi. Kekuatan purusa secara simbolik diibaratkan sebagai bapak matahari yang memberi energi bagi kesuburan bagi sang Ibu Pertiwi. Hal mana ini selaras dengan kepercayaan dari zaman prasejarah terkait konsep lingga dan yoni, mencerminkan energi kreatif maha besar dari lingga yang memperoleh kekuatan mahacipta, sebagai penyelarasnya yakni yoni. Kekuatan yoni, ibu pertiwi (bumi) dengan daya gravitasinya membuat entitas kehidupan dapat berdiri tengak di atasnya, entitas yang memiliki massa seberat apapun mampu ditopangnya. Beranjak dari konsep dua itulah Budiana mengawali gelarannya di Bentara Budaya Bali dengan sebuah ritus instalatif outdoor dan indoor. Konsep dualitas tersebut menandai satu kosmologi perihal kelahiran dan kesejatian manusia melalui apa yang disebut kanda mpat (sedulur papat di Jawa), yaitu empat entitas yang menemani cabang bayi sejak dalam rahim hingga mengada di Bumi dan sewaktu kembali melebur pada makro-kosmos. Konsep-konsep itu dielaborasi Budiana menjadi sebuah garapan instalasi dengan memakai bahasa rupa yang bersumber dari dasar-dasar kesenirupaan Bali yaitu rerajahan.

Konsep kanda mpat juga menjadi dasar karya-karya yang dipamerkan di Jakarta dan Yogyakarta. Bila di Bentara Budaya Bali disajikan sebuah ritus kelahiran, maka Jakarta diandaikan sebagai rimba kehidupan berikut kompleksitasnya, menjadi ruang untuk menempa dan menguji diri. Hal ini tecermin dari karya-karya yang dihadirkan cenderung lebih berwarna dan mengedepankan medium lukis. Lukisan sebagai medium menjadi subjek bagi hasrat manusia yang selalu haus untuk memiliki, sebuah insting dasar manusia yang paling hakiki. Bagi Budiana, hendaknya hasrat yang besar ini senantiasa harus didasari oleh kesadaran akan diri yang ada pada konsep kanda mpat, dan nilai-nilai itu terbenam di dalam karya-karya lukisnya.

Adapun karya-karya yang dihadirkan di Yogyakarta menggambarkan rangkaian ritus tersebut, memaknai kesadaran untuk kembali ke asal-muasal (kawitan). Konsep-konsep Hindu di Bali merupakan warisan yang sebelumnya telah tumbuh berkembang di Jawa sedini hadirnya kerajaan Hindu hadir di sana. Konsep sedulur papat kalima pancer berasal dari Jawa, berkembang di Bali menjadi kanda mpat, terelaborasi dalam kearifan lokal menjadi satu sistem upacara yadnya yang kompleks. Pameran di Yogya, dalam konteks ritus Budiana, dapat dibaca sebagai tahapan wanaprasta. Tahap undur diri dari kehidupan duniawi setelah melampaui masa keluarga, karir, harta dan tahta. Wanaprasta diandaikan kembali ke alam, kembali ke rimba raya. Kembali ke alam adalah menyadari kembali “aku” yang berkorelasi dengan alam, terangkai dalam satu kesatuan energi kosmik. Kesadaran itulah tahapan akhir sebelum memasuki periode akhir kehidupan Biksuka menuju pada kesadaran pelepasan diri. Rangkaian ritus ini, adalah tahapan Budiana kembali pulang ke Bali, menjalani swadarmanya sebagai bagian dari masyarakat Bali yang mengemban tugas ngayah (persembahan) di jalan kreatif. Sebagai kurator dalam pameran ini adalah I Wayan Seriyoga Parta dan Jean Couteau.

I Ketut Budiana, lahir di Padang Tegal Ubud tahun 1950. Ia telah menggelar pameran tunggal sejak tahun 1999 di ARMA Museum, Ubud, Pameran Tunggal Kazaxi Gallery Melbourne, Australia (2000), Pameran Tunggal di Tokyo Station Gallery, Japan (2003). Tahun 2008, berpameran tunggal di Maruki Art Museum, Japan, tahun yang sama juga menggelar pameran tunggal Setagaya Art Museum, Japan. Pameran bersama di antaranya; Pameran lukisan di Jerman (1980), mengikuti dan menjadi koordinator pameran di Fokuoka Jepang (1985), berpameran di Tropen Museum Amsterdam, Holand (1986), Pameran lukisan di U.S.A. (THE WORLD PRESIDEN ORGANITATION, WASHTNGTON DC, U.S.A.) (1992), berpameran di Sunjin Gallery Singapore (2005), mengikuti International painting Vestival di Ujjain Madyaprades India (2007).

Berbagai penghargaan yang ia terima, antara lain: Penghargaan dari Cormsh Colege Othe Arts tahun 1995, Penghargaan dari La Trobe University Melbourne, Australia tahun 2000, Penghargaan dari Arhus Kunsbygning, Denmark, tahun 2004, Penghargaan dari Peace Festival in Itabashi, Japan, tahun 2005. Penghargaan Wijaya Kusuma Kab. Gianyar tahun 2005. Penghargaan Seni Dharma Kusuma Propinsi Bali tahun 2008. Penghargaan dari Institut Kesenian Jakarta – LPKJ. tahun 1993. Penghargaan dari Yayasan Seni Rupa Jakarta tahun 1997 dan sederet penghargaan lainnya.

Rangkaian pameran :
Bentara Budaya Jakarta : 9 – 18 Oktober 2014
Workshop : 10 Oktober 2014
Bentara Budaya Yogyakarta : 13 – 18 Oktober 2014
Diskusi seni rupa : 14 Oktober 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s