Sinema Bentara KENAPA DEMOKRASI ?

Sinema Bentara
KENAPA DEMOKRASI ?
Sabtu – Minggu, 27-28 September 2014, Pukul 17.00 Wita

Demokrasi adalah sebuah proses, merayakan perbedaan di dalam kerbesamaan, cerminan dari filosofi bangsa ini, yakni Bhinneka Tunggal Ika. Meraih demokrasi yang matang dalam praktiknya tidaklah mudah, karena sesungguhnya ia bukan tujuan melainkan refleksi dan proses berkelanjutan, bahkan lintas zaman. Demokrasi memiliki aneka konsep, menimbulkan prasangka, aneka perbedaan mendasar yang dalam prosesnya diwarnai oleh represi, reformasi bahkan hingga revolusi, termasuk ragam euforia yang kadang kontra produktif bagi pertumbuhkan demokrasi itu sendiri. Setiap bangsa memiliki proses berdemokrasinya tersendiri.

Sinema Bentara kali ini menghadirkan film-film yang menggambarkan proses berdemokrasi tersebut, salah satunya Jadi Jagoan ala Ahok, menelisik sosok wakil gubernur DKI yang sebentar menggantikan Jokowi sebagai orang nomor satu di daerah ini. Film ini dikreasi justru ketika Ahok masih berproses menjadi Bupati Bangka Belitung menuju kursi DPR-RI. Film mencerminkan gambaran masyarakat minoritas etnis Tionghoa berikut problematik yang menyertainya dalam memperjuangkan kesetaraan dan keadilan, termasuk di dalam politik.

Film The Coffemaker hadir dengan idiom sederhana tentang perjuangan kemanusiaan, menggambarkan pula hak bersuara sebagai dasar demokrasi, bertumbuhkembang di negara-negara yang terbilang belum maju.
Berikutnya Bus 174 mengisahkan pembajakan bus yang terjadi di Ibukota Brazil, Rio de Janeiro. Sang kreator bukan tengah memfilmkan peristiwa kriminal, namun sesungguhnya mengekspresikan bagaimana demokrasi dipraktikkan di negara Amerika Latin ini, mencerminkan benturan berbagai kepentingan antara kebijakan negara, kehendak berkuasa serta rakyat pemilik suara.

Cerita dari Brazil berikutnya adalah Favela Rising. Bagaimana sebuah komunitas sebuah musik hip-hop, gabungan irama musik jalanan dan tari afro-brazilian ditampilkan sebagai budaya tanding guna melawan penindasan dari kekuasaan yang korup. Menelisik bagaimana polisi menggunakan kekerasan bersenjatan guna melindungi sejumlah oknum pejabat yang korup di jajarannya. Dua film Brazil ini sebuah refleksi memperjuangkan demokrasi sebagai keniscayaan sebuah bangsa yang mendambakan keadilan dan kesejahteraan.

Bastard of Utopia, film dramatis menggambarkan perjuangan kebebasan. Cerita berangkat dari gambaran seorang aktivis dengan segala lika-liku kisahnya. Film ini menawarkan sebentuk kontradiksi dan paradoks antara kelas-kelas masyarakat, radikalisme, berbaur dengan semangat anti otoritarian, yang kini tengah tumbuh bergelombang di berbagai negara Eropa Timur, pecahan Uni Soviet. Sebuah film yang menggambarkan pascakomunis di Kroasia.

Film Neithe Allah, Nor Master adalah film yang mencermati polemik kebebasan nurani dan paham sekularisme di Tunisia yang mayoritas penduduknya Muslim. Bagaimana konsep keragaman dan toleransi dijalankan? Film ini cerminan dari pengharapan setiap orang, walau berbeda kepercayaan untuk bisa hidup damai dan mengekspresikan pandangan dirinya secara leluasa.

Program ini merupakan kerjasama dengan Forum Film Dokumenter|Festival Film Dokumenter.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s