FESTIVAL FILM JERMAN (GERMAN CINEMA)

Sinema Bentara
FESTIVAL FILM JERMAN (GERMAN CINEMA)
Kamis – Sabtu, 28 – 30 Agustus 2014, pukul 17.00 – 22.00 Wita
Workshop Film : Rabu – Kamis, 27 – 28 Agustus 2014, pukul 09.00 – 14.00 Wita | Narasumber workshop : Noёl Dernesch (sutradara Journey to Jah)

german CinemaSinema Bentara kali ini khusus menayangkan film-film Jerman, yang dipadukan diskusi dan workshop bersama sineas negeri ini, Noёl Dernesch, yang juga menyutradarai Journey to Jah. Noёl Dernesch lahir pada 1977 di Zurich, saat ini tinggal dan bekerja sebagai sutradara di Berlin. Ia belajar di Schule für Kunst und Mediendesign di Zurich (1998-2003) dengan mengambil pengkhususan di bidang Film/Video. Selain beberapa iklan, yang di antaranya adalah produksi internasional, ia telah membuat beberapa film pendek dan dokumenter. Program ini merupakan kerjasama dengan Goethe Institut Jakarta.

Adapun film-film yang diputar antara lain Bis zum Horizont, dann links! / Fly Away! (Bernd Böhlich, 2012), Journey to Jah (‘Noёl Dernesch, Moritz Springer, 2013), Kaddisch für einen Freund (Leo Khasin, 2011), Kohlhaas oder die Verhältnismäßigkeit der Mittel (Aron Lehmann, 2012), Love Steaks (Jakob Lass), Meeres Stille (Juliane Fezer, 2013), Das Merkwürdige Kätzchen (Roman Züchner, 2013), Oh Boy (Jan Ole Gerster, 2012), Was Bleibt (Hans-Christian Schmid, 2012).

Bis zum Horizont, dann links! / Fly Away! (2012, 93 menit)
Sutradara : Bernd Böhlich
Pemain : Otto Sander, Angelica Domröse, Ralf Wolter
Penghargaan : Penghargaan Penonton di Festival Film Seni Schwerin 2012

Berkisah tentang kehidupan di panti lanjut usia, dengan tokoh utama Nyonya Simon (Angelica Domröse), si penghuni baru. Ia merasa jengkel dan gusar ditempatkan di rumah jompo itu, tecermin dari tingkah bosan yang terang-terangan ditunjukannya kepada siapa saja. Tuan Tiedgen (Otto Sander), yang sudah jauh lebih dulu tinggal di sana, tahu persis perasaan wanita tua itu dan berusaha membuat temannya bahagia dan dapat lebih menikmati hidup.

Disutradarai oleh ahli komedi Bernd Böhlich dan diperankan oleh nama-nama besar dalam sejarah film Jerman, film ini berhasil menjadi yang menawan. Kisahnya tidak hanya lucu, namun juga mengandung dialog-dialog cerdas, tentang orang dan masyarakat yang menua, harga diri manusia, serta absurditas maut. Sang bintang legendaris, Otto Sander sendiri meninggal di tahun 2013, belum lama setelah film ini diluncurkan.

Journey to Jah (2013, 92‘)
Sutradara : Noёl Dernesch, Moritz Springer
Pemain : Tillmann Otto, Alberto D’ascola dll
Penghargaan : Max Ophüls Advancement Award 2014, Film terbaik di Festival Film Zurich 2013

Journey to JahSelama tujuh tahun duo sutradara Noël Dernesch dan Moritz Springer, bersama penata kamera Marcus Winterbauer, mengikuti dua musisi Reggae asal Eropa yang luar biasa, Tilmann Otto (alias Gentleman) dan Alberto D‘Ascola (alias Alborosie). Perjalanan itu membuahkan film menarik tentang makna musik dan kesejatian berkarya, melalui pengembaraan dua musisi ini ke Jamaika, negeri muasal para rastafari dan reggae.

Bertemu mereka dengan Richie Stephens, Damian Marley, Profesor Carolyn Cooper, Terry Lynn, serta Natty, supir dan teman Gentleman, yang masing-masing berkisah tentang dunia paradoks di sebalik riangnya lantunan reggae: pemukiman miskin di Kingston, klan malam di Berlin, kriminalitas serta kebuntuan hidup. Tak sampai di situ, film juga mengungkap nilai hidup orang Jamaika dan dunia modern kini, di mana musik kuasa menyatukan banyak orang, tanpa peduli betapa tragik dan absurdnya dunia mereka masing-masing.

Kaddisch für einen Freund (2011, 94 menit)
Sutradara : Leo Khasin
Pemain : Ryszard Ronczewski, Neil Belakhdar, Sanam Afrashteh
Penghargaan ; Film Award in Gold pada German Film Award 2013, Penghargaan penonton pada Nuremberg Film Festival “Turkey-Germany” 2012

kaddischTumbuh di tengah kamp pengungsi, remaja berusia 14 tahun Ali Messalam (Neil Belakhdar) sudah belajar membenci “Yahudi“ dari kecil. Setelah berhasil keluar dari Lebanon, keluarganya mendapat tempat tinggal di daerah Kreuzberg, di Berlin, Jerman. Ali segera mencoba berteman dan masuk lingkungan permainan anak-anak muda di lingkungannya. Namun, hal itu ternyata tidak mudah. Ia harus membuktikan dulu keberaniannya. Sebagai ujian, ia diminta oleh teman-temannya mendobrak flat tempat tinggal seorang Yahudi-Rusia pensiunan tentara, Alexander (Ryszard Ronczewski). Bersama-sama mereka merengsek masuk dan mengobrak-abrik segala perabotan dalam flat itu. Sialnya, Alexander pulang lebih awal dari yang mereka perkirakan dan berhasil mengenali Ali sebagai salah satu penjahat cilik yang masuk ke rumahnya. Alexander melaporkan Ali ke polisi. Untuk dapat melepaskan diri dari tuntutan termasuk ancaman deportasi yang mengikutinya, hanya ada satu cara, Ali harus mendekati dan meminta dukungan dari orang tua yang dibencinya itu.

Penulis skenario dan sutradara, Leo Khasin, menceritakan konflik antara bangsa Arab dan Yahudi, yang kali ini mengambil tempat di sebuah gedung tempat tinggal di Berlin, tempat dua keluarga menjadi tetangga di dua lantai yang bersinggungan. Filmnya adalah sebuah pernyataan untuk melawan kebencian antarmanusia, baik dalam konteks lokal maupun global, yang diceritakan dengan penuh kehati-hatian namun hidup dan dinamis.

Kohlhaas oder die Verhältnismäßigkeit der Mittel (2012, 98 menit)
Sutradara : Aron Lehmann
Pemain : Robert Gwisdek, Jan Messutat, Thorsten Merten dll
Penghargaan : Sutradara terbaik & aktor terbaik untuk Jan Messutat di festival film München 2012

Sutradara muda, Lehmann (Robert Gwisdek), ingin mewujudkan ambisinya membuat epos sejarah dan baru saja melewati hari pertama pengambilan gambar film yang seharusnya akan menjadi adaptasi gemilang sebuah novel berjudul Michael Kohlhaas dari Heinrich von Kleist. Betapa malang, di ujung hari perdana itu filmnya terancam bubar. Pendanaan filmnya kembali ke nol sebab semua penanam modal mengundurkan diri dan bantuan keuangan lain dibatalkan. Lehmann terdampar di sebuah desa bernama Speckbrodi, bersama sekumpulan rekan kerja dan aktor yang sama bingungnya seperti dia. Mereka harus menerima kenyataan dan bekerja dengan apa yang ada di sana. Meski sedih dan bangkrut, Lehmann memutuskan untuk terus berjuang.

Dimulailah kisah Kohlhaas, seorang pedagang kuda (Jan Messutat), seorang tokoh yang seperti Lehmann berjuang untuk hal-hal yang diyakininya yaitu kebenaran dan keadilan. Sementara itu, kepala desa berperan menjadi penjahat, sapi menjadi kuda, pepohonan dan semak belukar menjadi musuh yang harus dihabisi. Sisanya, tergantung imajinasi pemain dan penonton.

Hasilnya adalah sebuah film dalam film, film mengenai film dengan diskusi-diskusi intensif antara sesama pekerja film soal makna membuat film. Sebuah film yang dibuat dengan mengandalkan kesungguhan seni peran para pemainnya dan fantasi penontonnya untuk mendapat predikat nyata dan dapat dipercaya. Film Aron Lehmann di satu sisi tetap menjadi film yang mengadaptasi karya Kleist, namun di lain sisi juga berhasil menjadi celah bagi penonton untuk melihat apa yang ada di balik pembuatan sebuah film.

Love Steaks (2013, 90 menit)
Sutradara : Jakob Lass
Pemain : Lana Cooper, Franz Rogowski
Penghargaan : German Cinema New Talent Award 2013, Max Ophüls Preis 2014

Clemens (Franz Rogowski) dan Lara (Lana Cooper) bekerja di hotel yang sama di kawasan pariwisata Ostseeküste. Namun, kecuali tempat kerja itu, mereka tidak memiliki kesamaan sedikit pun. Hotel mewah tempat mereka bekerja adalah lingkungan yang kaku, ditata dengan berbagai peraturan, dan di sana setiap individu dan benda sudah ditentukan fungsinya. Di dapur misalnya, masakan-masakan bagi konsumen kelas atas dipersiapkan, sementara di bagian kesehatan tersedia layanan-layanan yang memungkinkan para pengunjung membuang beberapa kilogram kelebihan lemak tubuh mereka.
Namun, setelah pertemuan tak sengaja di dalam lift, Clemens dan Lara tak terpisahkan lagi. Orang bilang, yang berlawanan justru saling tarik-menarik. Lara selalu memberi kesan perempuan tangguh dan jagoan menenggak alkohol. Clemens sebaliknya, selalu ragu dan malu serta percaya sepenuhnya pada Ayurveda. Peluh, darah dan air mata mengalir. Cinta serupa medan perang. Mereka saling mencoba, saling menjelajahi, memukul, mencium, membelai. Perasaan sayang malambung lalu terempas. Apakah mereka akhirnya bisa saling menemukan?

Love Steaks adalah kisah cinta yang dibungkus dalam kerangka sebuah dunia kerja di Jerman. Kisahnya mengetengahkan keseharian di sebuah hotel besar yang memiliki hirarki yang tak terpatahkan, manusia-manusia saling berseliweran dalam kehampaan yang dingin, setiap karyawan tak lebih dari secuil permukaan roda bisnis yang berputar. Komedi tragis Jakob Lass mendapat empat penghargaan sekaligus. Untuk pertama kalinya di Festival Film Munich 2013 sebuah film menyapu bersih semua kategori dari mulai penyutradaran, produksi, skenario sampai aktris dan aktornya.

Meeres Stille (2013, 142)
Sutradara : Juliane Fezer
Pemain : Charlotte Munck; Christoph Grunert; Christoph Gawenda dll
Penghargaan : Nominasi film cerita terbaik di São Paulo International Film Festival 2013

Helen (Charlotte Munck) dikejutkan oleh ajakan berlibur ke pantai dari suaminya Johannes Sander (Christoph Grunert). Bersama putri mereka, Frances (Nadja Bobyleva), mereka menuju sebuah villa yang jauh dari keramaian. Namun, bayangan sebuah liburan yang tenang segera saja terkoyak. Helen merasakan dirinya diliputi ketakutan yang tidak ia pahami, sementara villa itu seolah menyimpan sebuah dunia paralel, satu kisah yang juga meresahkan terkait masa lalu seorang pemuda. Sedikit demi sedikit dari suara-suara dan potongan-potongan gambar, Helen menyatukan kilasan dan serpihan kehidupannya.

Dalam karya pertamanya, sutradara Juliane Fezer menyampaikan sebuah kisah secara berlapis, baik dari segi ruang maupun waktu. Yang sekarang dan yang di sini adalah villa tempat mereka berlibur, atmosfernya dingin bahkan nyaris terasa seperti berhantu. Yang di antaranya adalah kilas balik ingatan yang samar-samar dan terpotong-potong. Hanya Helen dan penonton film ini yang akhirnya dapat menyusun mosaik yang terbentuk, sedikit demi sedikit sampai akhirnya penonton melihat perubahan dramaturgi yang mengguncang tokoh-tokohnya dan menjelaskan trauma yang mereka rahasiakan. Musik dan bebunyian dalam film ini disusun begitu rinci dan teliti sebagai sebuah elemen istimewa yang menyelimuti namun juga mengungkapkan drama yang disajikan. Sebuah psikodrama mengenai kenangan, kepedihan dan harapan, yang didasarkan pada novel berjudul sama karya Stefan Beuses.

Das Merkwürdige Kätzchen (2013, 72 menit)
Sutradara : Roman Züchner
Pemain : Jenny Schily, Anjorka Strechel, Mia Kasalo dll
Penghargaan : Film terbaik“ kompetisi internasional pada Antalya Golden Orange Film Festival 2013, New Talent Grand Prix untuk Roman Züchner bei CPH:PIX 2013, ICS Award pada International Cinephile Society Awards 2014

Karin (Anjorka Strechel) dan Simon (Luk Pfaff) mengunjungi orangtua dan adik mereka Clara. Malam itu mereka berencana makan malam bersama, beberapa kerabat lain juga diundang. Setiap orang ambil bagian mempersiapkan berbagai macam hal, sesuatu yang pasti bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari keluarga pada umumnya. Ada ipar yang memperbaiki mesin cuci, Clara yang menulis daftar belanja, Ibu (Jenny Schily) mempersiapkan makanan dan dua hewan peliharaan berkeliaran di dalam rumah.

Namun, situasi yang agresif terasa melingkupi semua orang. Tidak ada satu pun dari mereka tampak bahagia sepenuhnya, terutama sang Ibu. Tetapi, ketidakharmonisan laten itu tidak sampai meledak menjadi pertengkaran. Ada kedekatan di antara semua orang, ada percakapan, meski kata-kata yang diucapkan mereka cenderung berakhir menjadi monolog atau malah menggantung buntu. Das merkwürdige Kätzchen adalah sebuah eksperimen seorang sutradara muda yang mendekonstruksi kejadian sehari-hari sebuah keluarga.

Oh Boy (2012, 88 menit)
Sutradara : Jan Ole Gerster
Pemain : Tom Schilling, Marc Hosemann, Marc Hosemann dll.
Penghargaan : Pemeran terbaik dari Bavarian Film Awards 2013 & European Film Awards 2013, Film award in Gold dari German Film Awards 2013 dll.

Oh boyNiko Fischer (Tom Schilling) menjalani kehidupannya tanpa tujuan. Kuliah hukum tidak menarik lagi untuknya. Dia berkeliling Berlin, mengamati para penghuni kota, luntang-lantung sendirian. Pada suatu hari segalanya berubah. Ayahnya tidak mau lagi mengirim uang bulanan, ada salah paham antara dia dan kekasihnya, seorang psikolog membuat analisis kejiwaan yang akan membatalkan ijin mengemudinya, seorang tetangga berkeluh kesah dan menangis di depannya, seorang kenalan masa kecil merayunya dan bahkan segelas kopi biasa pun tak bisa didapatkannya. Di malam harinya di sebuah kafe seorang bapak tua bercerita padanya mengenai masa kecilnya yang traumatis. Akhirnya bapak itu meninggal dan untuk pertama kali Niko merasa ikut bertanggung jawab pada suatu hal, meski pun hanya sedikit. Masa untuk menjalani kehidupan orang dewasa yang sebenarnya tiba.

Film Oh Boy menceritakan beberapa episode yang berlangsung selama 24 jam dalam kehidupan seorang pemuda. Satu hari yang di ujungnya si pemuda itu dan banyak hal dalam hidupnya tidak lagi sama seperti kemarin. Dalam estetika gambar film yang hitam-putih film Oh Boy bergerak antara melankoli dan humor serta menunjukkan bagaimana para tokohnya mencari tempat untuk diri mereka di dunia ini, sebuah tempat yang sebetulnya di dalamnya segala hal adalah mungkin. Musik jazz dari The Major Minors dan Cherilyn MacNeil mewarnai film dengan satu nuansa ironis tersendiri, yang di satu sisi mengimbangi karakter sendu film ini namun di lain sisi menegaskan keindahan kota Berlin yang tak bisa dirumuskan dalam batasan ruang dan waktu.

Was bleibt (2012, 88 menit)
Sutradara Hans-Christian Schmid
Pemain Corinna Harfouch, Lars Eidinger, Egon Merten, Eva Meckbach
Penghargaan Nominasi Berlin International Film Festival 2012, German Film Critic Award 2013, Film terbaik Schwerin Art of Film Festival 2012

was bleibtGünter (Ernst Stötzner) dan Gitte (Corinna Harfouch) tinggal di satu villa indah di tengah alam dan senang sekali ketika Marko (Lars Eidinger), anak lelaki mereka yang telah lama tinggal di Berlin, datang mengunjungi mereka bersama si Zowie, cucu tercinta. Anak-anaknya sudah mapan. Marko sedang ada di awal karirnya sebagai seorang penulis; adiknya Jakob (Sebastian Zimmler) membuka tempat praktek dokter gigi yang modern di daerah sekitar situ. Semuanya tampak lancar dan stabil. Sampai satu hari Gitte, yang selama ini berada di bawah pengobatan karena depresi, mengatakan bahwa dia merasa sudah sembuh dan tak perlu makan obat lagi. Anggota keluarga yang lain melihat hal ini sebagai satu sinyal bahaya. Keluarga ini pun pecah. Dengan sekumpulan aktor dan aktris kelas atas Jerman, sutradara Hans-Christian Schmid dalam karyanya Was Bleibt menyuguhkan tercerai berainya satu keluarga dalam beberapa hari saja, namun juga bagaimana mereka berusaha saling menemukan kembali.

Setelah film-film sukses seperti Requiem (2006) dan Sturm (2009), film Was Bleibt adalah kerja sama ketiga antara Schmid dan penulis skenario Bernd Lange. Film Was Bleibt ditampilkan perdana dalam kesempatan Festival Film Internasional Berlin Ke-62 pada 2012.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s