Bali Tempo Doeloe #12 MISTIK DAN TURISTIK BERSISIAN DI NUSA PENIDA

Bali Tempo Doeloe #12
MISTIK DAN TURISTIK BERSISIAN DI NUSA PENIDA
Kamis, 24 Juli 2014, pukul 18.30-21.00 Wita

Sebelum menjadi kawasan wisata dengan eloknya pemandangan alam beserta kekayaan biota bawah lautnya, tentu tidak banyak kalangan yang mengenal Nusa Penida. Pulau di timur laut Bali ini bahkan mulanya merupakan wilayah asing, yang pada abad ke-18 difungsikan sebagai penjara bagi para tahanan dari Kerajaan Gelgel. Lain dari itu, pulau yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Klungkung ini sebenarnya diyakini sebagai lokasi bersemayam para Dewata dengan daya magis luar biasa, yang membuat penduduk Bali menyeberang selat Klungkung setiap waktu guna memohon keselamatan, kesehatan, dan bahkan kesejahteraan, baik di Pura Penataran Dalem Ped, Pura Ratu Gde Mecaling, Goa Giri Putri, ataupun situs-situs religi penting lainnya.

Ada cerita menarik dari pendirian pura-pura tersebut yang membuktikan betapa Nusa Penida dipercaya menyimpan tuah magis yang kuat, di antaranya kisah seputar Pura Ratu Gde Mecaling yang lokasinya berdekatan dengan Pura Penataran Dalem Ped. Menurut lontar Babad Dalem, pura ini di dibangun pada abad ke-14 tatkala rakyat Nusa Penida menentang kekuasaan Dalem Waturenggong, seorang raja Gelgel tersohor. Di bawah pimpinan Dalem Bungkut, mereka mengadakan perlawanan, meskipun dengan mudah dapat dipatahkan oleh pasukan Gelgel, yang selanjutnya mendirikan perwakilan kekuasaan Gelgel di Nusa Penida. Guna menjaga agar Nusa Penida tidak diganggu oleh pihak Gelgel, rakyat setempat pun membangun Pura Ratu Sakti Ped sebagai medium memohon kekuatan roh Ratu Gde Mecaling dari Dewi Durga. Konon, roh Ratu Sakti tersebut dapat menyeberang ke pulau Bali untuk membinasakan siapa saja yang berniat mengganggu Nusa Penida–hal yang membuat rakyat Bali di sepanjang pantai selatan (Klungkung, Gianyar dan Badung) merasa amat takut pada kekuatan mistik ini.

Kekuatan mistik tersebut kini bersisian dengan kekuatan turistik yang menyerbu pulau Nusa Penida, tecermin dari perkembangan pariwisata di wilayah Nusa Penida, Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan. Selain pada umat yang berdoa memohon berkah di pura-pura, pulau ini pun didatangi para wisatawan yang hendak berlibur serta menikmati keindahan alamnya. Satu sisi pura-pura mengumandangkan puja mantra, di bagian lainnya terdengar alunan musik modern dan riuh riang wisatawan berbagai negara. Lalu, hal apakah yang terjadi pada masyarakat setempat di tengah kondisi nyaris paradoks ini? Sebagai gambaran, penduduk Nusa Penida yang berjumlah sekitar 47.448 jiwa dan mendiami tanah pulau seluas 202.840 ha ini masih tetap pada mata pencaharian lamanya, yaitu pertanian bahari, dengan aktivitas nelayan dan pengolahan hasil laut (ikan serta alga rumput laut). Pariwisata yang dicanangkan pemerintah belum dikembangkan secara optimal sebagaimana kawasan lain di Bali, terlihat dari minimnya kemampuan masyarakat lokal dalam mengembangkan potensi daerahnya untuk menyikapi peluang usaha di bidang turistik ini.

Bali Tempo Doeloe seri ini akan mengulas perihal sejarah Nusa Penida berikut perkembangannya di masa kini, baik dalam lingkup kebudayaan, sosial, ekologi dan ekonomi, melalui putar film dan diskusi bersama budayawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s