Pustaka Bentara MENINJAU MUASAL KEKERASAN RASIAL DI INDONESIA

Pustaka Bentara
MENINJAU MUASAL KEKERASAN RASIAL DI INDONESIA
Minggu, 25 Mei 2014, Pukul 19.00 – 21.00 Wita

kekerasan_anti-tionghoasetelah-air-mata-keringSebagai bangsa yang dikaruniai 17.000 pulau lebih dengan beragam suku, adat istiadat dan bahasa, Indonesia niscaya tak pelak merayakan dan menghormati keberagaman sebagai keniscayaan sesuai dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Namun sejarah mencatat, keberagaman dan aneka perbedaan tersebut dalam prosesnya juga melahirkan aneka pertentangan dan bahkan kekerasan yang bersifat rasial.

Pada pertengahan Mei 1998 misalnya, kekerasan yang bersifat rasial ini menyertai gerakan reformasi di tanah air. Aksi anarki telah merebak di Jakarta, Solo, Medan dan kota-kota lain di Indonesia, ditandai dengan pembakaran aneka bangunan dan properti, terutama miliki warganegara Indonesia keturunan Tionghoa. Selama aksi kekerasan massa tersebut, sekitar 1000 pribumi kelompok miskin kota menjadi korban kebakaran, terjebak di pusat-pusat perbelajaan lantaran terdorong untuk menjarah. Di sisi lain, berbagai laporan mencatat, perempuan Indonesia keturunan Tionghoa menjadi korban perkosaan massal di jalan-jalan maupun di rumah kediaman mereka sendiri. Beberapa tahun kemudian para korban dari kelompok miskin kota, serta warga Tionghoa Indonesia tersebut masih berjuang mencari keadilan dan menuntut kompensasi, sekaligus jaminan keamanan yang lebih nyata di negara yang mereka anggap sebagai rumah dan tanah airnya sendiri.

Buku yang dibahas dalam Pustaka Bentara kali ini merupakan hasil studi tentang kekerasan anti-Tionghoa selama periode transisi sosial, politik dan ekonomi serta masa kekacauan di Indonesia. Karya Jemma Purdey ini dipuji oleh Wang Gungwu, professor emeritus di Australian International University, Canberra , yang menyatakan “adalah sebuah studi sangat mendalam dan seimbang yang mencerminkan tingkat kecendekiawanan yang tinggi.”

Dari manakah sebenarnya muasal kekerasan rasial tahun 1998 ini? Menurut Jemma, sesungguhnya ini bisa dilacak dari peristiwa-peristiwa kekerasan yang mulai merebak di Indonesia pada pertengahan tahun 1996. Terangkum di dalamnya aneka faktor penyebab berikut kompleksitas permasalahan yang memposisikan etnis Tionghoa (dua persen dari populasi nasional) sebagai minoritas yang secara umum memiliki keunggulan ekonomi dibandingkan mayoritas warga negara Indonesia. Buku ini juga mengkritisi perihal “salah urus” negara dalam mengelola masyarakat yang multi etnis beserta perbedaan-perbedaannya termasuk upaya-upaya untuk mengembangkan sikap toleransi dan solidaritas yang lintas etnis, seraya mendorong upaya perbaikan kehidupan berbangsa yang lebih damai dan rukun di masa depan. Buku berjudul Kekerasan Anti Tionghoa di Indonesia Tahun 1996-1999 terbitan Pustaka Larasan ini akan dibahas oleh Dr. I Putu Gede Suwitha, S.U. serta Dr. I Gusti Ketut Arsana, M.Si., akan dibandingkan pula dengan buku yang mengkaji masalah serupa, bertajuk “Setelah Air Mata Kering” yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas.

i-putu-gede-suwithaDr. I Putu Gede Suwitha, S.U., menamatkan Bakloreat (BA) tahun 1979 di Universitas Udayana, Sarjana S1 tahun 1981 di Universitas Gadjah Mada, dan Magister S2 (SU) tahun 1988 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Tahun 1991 sebagai Visiting Fellow di Departmen Anthropology, Australia National University, Australia. Artikelnya dalam bidang sosial-kemasyarakatan banyak dimuat dalam jurnal Masyarakat Indonesia (LIPI-Jakarta) sejak tahun 1983. Bebagai penelitian yang pernah dilakukan, antara lain: (1) Kerjasama Antarumat Beragama di Bali (LIPI tahun 1984-1985); (2) Kehidupan Nelayan di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan (Toyota Foundation tahun 1989); (3) Kota Pelabuhan Pare-Pare, Sulawesi Selatan (Toyota Foundation tahun 1990); (4) Pelayaran Orang-orang Bugis-Makassar di Nusa Tenggara Abad ke-19 (ANU, Canberra tahun 1991); (5) Sejarah Middle Class di Bali (Wollongong University, New South Wales tahun 1995); dan Bali Dari Sisi Lain: Sejarah Perkebunan di Bali 1880–1965 (Denpasar: Cakra Press, 2008). Juga menulis bersama-sama dengan kolega di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Udayana dengan judul buku Masyarakat Multikulturalisme Bali: Tinjauan Sejarah, Migrasi, dan Integrasi (Denpasar: Pustaka Larasan, 2011),Komodifikasi Bali Kontemporer (Denpasar: Pustaka Larasan, 2012), dan Perahu Pinisi di Pesisir Dewata (Denpasar: Pustaka Larasan, 2013).

ArsanaDr. I Gusti Ketut Gde Arsana, M.Si. adalah Dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana (Jurusan Antropologi). Meraih gelar S-2 dan S-3 di Kajian Budaya Program pasca Sarjana Universitas Udayana. Aktif dalam berbagai kegiatan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, seminar-seminar, sebagai narasumber dan lain-lain. Di samping itu juga aktif menulis artikel-artikel yang diterbitkan melalui jurnali lmiah di antaranya: Jurnal Antropologi Unud, Jurnal Kajian Budaya Unud, Jurnal Pustaka (Jurnal Ilmu-Ilmu Budaya) Fakultas Sastra dan Budaya Unud dan Jurnal Jnana Budaya yang diterbitkan oleh Kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bali, NTB, NTT; Dan sebagai Ketua Dewan Redaksi E.Jurnal pada Prodi Magister (S.2) Kajian Budaya Unud.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s