Bali Tempo Doeloe #11 REPRESENTASI BALI DALAM IMAJI BARAT MASA LALU

Bali Tempo Doeloe #11

REPRESENTASI BALI DALAM IMAJI BARAT MASA LALU

Minggu, 11 Mei 2014, Pukul 18.30 – 21.00 Wita

 

Terkait pameran Erawan vs Perupa Cahaya Sejati “Beyond a Light”, Bali Tempo Doeloe #11 kali ini mengetengahkan diskusi perihal perkembangan imaji atas citraan molek pulau Bali yang disampaikan lewat karya-karya fotografi. Selain pemutaran film kilas balik,akan dihadirkan pula rekam fotografi atas Bali di masa lampau.

Memang sejak awal abad ke-20, akibat pengaruh kebijakan Baliseering Pemerintah Belanda yang bertujuan menjadikan Bali sebagai ‘museum hidup’, citraan atas keelokan alam, kemolekan penduduknya berikut keadiluhungan budaya Bali pun ditampilkan dalam beragam medium, termasuk di antaranya karya foto dari seniman, maupun peneliti asing, semisal Gregor Krause, Covarubias, Walter Spies, J. Kersten, Nikola Drakulic, Gregory Bateson, dan lain sebagainya. Gambar-gambar ini biasanya seputar  tematik yang eksotik, semisal khususnya para perempuan telanjang dada memakai kamen (kemben) atau busana penari, yang kemudian membanjiri dunia Barat tentang imaji-imaji tentang Bali dengan segala keunikannya.

Kehadiran fotografi memiliki dimensi sejarah panjang dalam kebudayaan Bali. Melalui media-media representasi seperti foto, postcard, film dan bahkan lukisan oleh seniman Barat itulah citra tentang identitas dan tradisi budaya Bali diproduksi terus menerus. Imaji-imaji itu tidak lain menggambarkan pulau sorga dengan kebudayaan yang murni, sebuah dunia mimpi yang bertolak belakang dengan Barat (Eropa) yang tengah dilanda bencana kemanusiaan akibat perang yang berkepanjangan. Saat itu manusia Bali dengan latar sosial dan kulturnya  adalah objek dari fotografi, objek yang tak punya kuasa pada representasi yang menghadirkan mereka. Telah terbukti, fotografi dan film adalah media yang ampuh dalam mengenalkan kebudayaan Bali di dunia internasional, hingga namanya tertanam begitu dalam sampai kini.

Foto sebagai tanda simbolik telah “mencabut” (disembedding) kebudayaan Bali dari konsep perkembangan waktu, dan seolah mengekalkannya dalam ruang dan waktu lampau yang eksotik penuh  dengan citraan akan keharmonian. Warisan poskolonial tersebut terus dijalani oleh masyarakat Bali hingga saat ini yang telah menjelma menjadi sebuah pulau metropolit daerah urban, akibat kemajuan perekonomian akibat perkembangan industri pariwisata budaya. Imaji simbolik fotografi telah menjadikan Bali berada dalam dua dunia, hidup dalam realitas kekinian dan bayang-bayang citra masa lalunya. Kajian ini akan mencoba membedah persoalan representasi Bali berdasarkan kaca mata Barat dalam imaji media-media seperti fotografi, film dan lukisan. Setidaknya Kini orang Bali telah menjadi subjek untuk diri dan kebudayaannya, tapi apakah kesadaran subjek itu telah disadari sepenuhnya?

Bagaimanakah kita menyikapi warisan kenyataan tersebut, sementara Bali dan masyarakatnya telah menjelma sebuah pulau metropolitan akibat kemajuan perekonomian dan perkembangan industri pariwisata? Benarkah imaji simbolik fotografi telah menjadikan Bali berada dalam dua dunia, hidup dalam realitas kekinian dan bayang-bayang citra masa lalunya? Acara Bali Tempo Doeloe kali ini akan coba mengkritisi hal-hal tersebut sembari memperbincangkan sejauh manakah masyarakat Bali menjadi subjek untuk kebudayaannya sendiri.

Wayan YogapartaBertindak sebagai narasumber adalah I Wayan Seriyoga Parta MSn., dan para fotografer serta video maker yang terlibat dalam pameran Erawan vs Perupa Cahaya Sejati “Beyond a Lighth”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s