Seni Pertunjukkan Genjek SINGAMANDAWA HINGGA KOBAGI

Seni Pertunjukkan Genjek

SINGAMANDAWA HINGGA KOBAGI

Minggu, 27 April 2014, Pukul 18.30 – 22.00 Wita

 

Genjek_Kobagi 2Pertunjukkan genjek atau megenjekan atau juga sering disebut gegenjekan, merupakan kesenian Bali yang pertunjukkannya dilakukan secara massal oleh laki-laki yang duduk bersila dan melingkar, didominasi suara-suara mulut tertentu, serta gerak tangan menari-nari sehingga terlihat ekspresif. Sebagaimana bentuk kesenian tradisi lainnya, genjek juga lahir dari budaya agraris dengan proses perkembangannya yang panjang dan mencerminkan dinamika berkesenian Bali yang luar biasa.

 

Genjek dalam sejarahnya dikenal sebagai bentuk-bentuk kesenian yang bersifat profan dan tidak sakral, sehingga pementasan sering dilakukan di wantilan atau tempat-tempat tertentu saat hari libur atau hari raya, bukan dilakukan di pura. Konon, genjek berasal dari kata gagonjakkan yang artinya guyonan atau senda gurau. Dipercaya diciptakan semasa kerajaan Karangasem berhasil menundukkan kerajaan di pulau Lombok, di mana senda gurau perayaan kemenangan perang tersebut terekpresikan kemudian menjadi bentuk kesenian pertunjukkan. Megenjekan dipandang sebagai salah satu ikon seni dari kabupaten paling timur di pulau Bali ini, kerap dipertunjukkan dalam berbagai rangkaian upacara sosial masyarakat. Pertunjukkan megenjekan biasanya diiringi dengan kemong, yaitu semacam alat musik sederhana yang dibuat dari potongan bambu. Dalam pertunjukkan genjek ini ditandai nyanyian-nyanyian penuh ritme yang mengekrepsresikan secara kuat para pelakunya, dan masing-masing memiliki style dan gaya sendiri. Perbedaan gaya megenjekan tersebut justru menjadi kekuatan yang membangun kepaduan dalam kebersamaan.

 

Pada pertunjukkan megenjekan kali ini akan dihadirkan ragam bentuk yang umum hingga bentuk genjek yang boleh dikata “eksperimental”. Tampil sekaa (komunitas/kelompok) genjek dari Sanggar Singamandawa, Pejeng, Gianyar, dan komunitas atau sekaa genjek yang terbilang memiliki ekspresi kontemporer yakni KoBaGi (Komunitas Badan Gila – Community Corps Fous). Keduanya memiliki pengalaman pertunjukkan baik bersifat nasional maupun internasional. Sanggar Singamandawa dipimpin oleh Made Sukadana S.Sn, berdiri tahun 1997. Sedangkan KoBaGi didirikan tahun2008di Tegalalang, Gianyar, buah pertemuan dan persahabat musisi Perancis Grégoire Gensse dan komunitas pertunjukkan Bali CekGen. Pertautan antara musik dan cara berkesenian Barat dengan Timur (Bali) tecermin dari kekhasan penampilan KoBaGi, terutama menjadikan tubuh sebagai perkusi yang senafas, selaras dengan irama atau intensitas dari ragam olah vocal kecak Bali. Kedua sekaa atau komunitas ini disandingkan sekaligus dibandingkan sebagai gambaran betapa kesenian di Bali begitu terbuka untuk melakukan proses akulturasi dan kemungkinan kolaborasi yang nyatanya menghasilkan bentuk-bentuk baru yang kreatif dan memukau tanpa kehilangan spirit kekuatan estetik tradisi Balinya.

Sanggar Singamandawa beranggotakan Ngakan Garjita, Wayan Mudita, Wayan Mawa, Sang Oman, Angga, Anak Agung Asmara, I Made Ariasa, dan Gusti Lanus. Sedangkan KoBaGi terdiri dari I Wayan Sutapa, Cokorda Gede Nala Rukmaja, Anak Agung Gde Eka, Grégoire Gensse, I Ketut Sariana, I Made Suwi, I Nyoman Adi Arta, I Made Sudira, I Wayan Pradipta, I Wayan Wastawa, I Made Sudipa, I Wayan Pastika, I Wayan Wirawan, I Wayan Jana, I Made Dani, dan I Made Wijantara.

Sebagai pembicara adalah Kadek Suartaya,  lahir  di  Desa Sukawati, Gianyar, Bali, 3 Desember  1960.  Sejak belia sudah menggeluti kesenian, sebagai pelukis, pemain  drama, penari  dan penabuh gamelan. Pendidikan S1-nya dalam bidang  seni karawitan diselesaikannya di STSI Denpasar pada tahun 1988.  Pada 1991  ia diangkat sebagai dosen di almamaternya  itu.  Pendidikan S2-nya  dalam  bidang Kajian  Budaya  ditempuh  di   Universitas Udayana,  Bali, dan tamat pada tahun 2001. Sejak mahasiswa  sudah aktif menulis di media massa. Beberapa artikelnya sempat  mendapat penghargaan  tingkat regional dan nasional.  Selain mengajar,  ia juga  ditunjuk  sebagai redaktur jurnal seni budaya Mudra  yang diterbitkan STSI (sekarang ISI) Denpasar. Sebagai praktisi dan pengamat seni, Kadek Suartaya telah mengunjungi Spanyol (1992), Jerman, Belgia, Luxsemburg (1994), Jepang (1997, 2003, 2004, 2005, dan 2006),  Swiss (2000), Peru (2002),  Malaysia (2007), India (2008), Rusia (2010) dan Australia (2012). Suartaya  dikenal  sebagai peneliti seni budaya dan produktif  menulis esai  dan kritik seni di Kompas, Gatra,  The Jakarta  Post, Koran Tempo, dan Bali Post.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s