Bali Tempo Doeloe #10 RUDOLF BONNET & ARIE SMIT: CERITA DUNIA SENI RUPA BALI

Bali Tempo Doeloe #10

RUDOLF BONNET & ARIE SMIT: CERITA DUNIA SENI RUPA BALI

Jumat, 25 April 2014, Pukul 18.30 – 22.00 Wita

 

Bali Tempo Doeloe kali ini akan kembali mengulas tentang perkembangan seni rupa Bali. Bila pada Bali Tempo Doeloe #7 lalu dihadirkan seri dokumenter perjalanan maestro seni rupa Bali, I Gusti Nyoman Lempad, kali ini akan ditayangkan film dokumenter para perupa asing yang pernah bermukim dan berkarya di Bali, yakni Bonnet dan Arie Smit, dua sosok yang mewarnai sejarah perkembangan seni rupa Bali.

 

Namun, bagaimana sesungguhnya tahapan transformasi dunia seni rupa Bali? Sedini apakah elan kreatif masyarakat menemukan moment-moment pentingnya? Sesungguhnya tidak mudah untuk memastikan bagaimana jejak sejarah seni rupa Bali di masa lampau, terutama jika dirunut hingga ke masa Bali Kuno, ditandai dengan kehadiran pahatan ataupun wujud rupa di sarkofagus, hingga pengaruh Hindu Buddha yang belakangan memasuki pulau ini. Salah satu prasasti Raja Dharmmodayana Warmadewa pada tahun 944 Caka (1022 M) menerakan istilah citrakara, atau pelukis, yang hak dan kewajibannya sama dengan undagi kayu, undagi watu, pangarung (tukang gali terowongan), çulpika (ahli pahat) dan ahli lainnya. Walaupun demikian, sulit ditemukan jejak karya lukis Bali Kuno itu. Tidak ada temuan mengenai lukisan-lukisan ini sampai sekarang, dan beberapa peneliti bahkan mengajukan hipotesa bahwa seni lukis Bali berdekatan dengan seni pahat berupa ukiran-ukiran hiasan atau relief di pura-pura Bali Kuno, seperti di Pura Tegeh Koripan (Bangli), Pura Penataran Sasih, Goa Gajah, Kutri dan aneka arca yang tersebar di Pejeng dan Bedulu.

Akan lebih mudah bila merunut perkembangan peran dan karya para pelukis Bali dari era Pertengahan, setelah masuknya Majapahit hingga kurun waktu berikutnya, di mana ikon figuratif dan grafis pewayangan dalam tema-tema Hindu mulai jelas terlihat, serta beberapa di antaranya masih lestari sampai sekarang. Bekerjasama dengan Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, akan diputar seri biografi dokumenter Bonnet dan Arie Smit.

BTD_Bonnet_dok wikipediaRudolf Bonnet, lahir di Amsterdam, Belanda 1895, meninggal di Laren Belanda 1978. Selain belajar di National Academy of Fine Arts Belanda, Bonnet juga dididik di Italia. Pelukis ini pertama kali masuk Bali tahun 1929. Ia tergabung sekaligus membentuk kelompok Pita Maha (yang didirikan bersama Walter Spies atas prakarsa Raja Ubud Tjokorda Gde Agung Sukawati dan adiknya Tjokorda Raka Agung Sukawati), dan bergabung pula dengan kelompok Pelukis Ubud.Selain melukis, ia juga aktif di dalam membangun “pergaulan kreatif” sesame seniman masa itu,merintis pendirian Museum Puri Lukisan yang diresmikan pada tahun 1956. Penghargaan yang diterima antara lain Dharma Kusuma (Bali, 1997), Satya Lencana Kebudayaan (Indonesia, 1980). Karya-karyanya dikoleksi oleh Rijksmuseum Kroller-Muller (Amsterdam, Belanda), Museum Singer (Laren, Belanda). Beberapa pamerannya seperti Pameran East-West Center (Honolulu, Hawaii, 1998), Singapore Art Museum (1994), Pusat Studi Strategis dan Internasional (Jakarta, Indonesia, 1996), Festival Persahabatan Indonesia-Jepang (Morioka, Tokyo, 1997) dan Istana Presiden Indonesia. Banyak karyanya menjadi koleksi Istana Kepresidenan pada masa Presiden Soekarno.

 

BTD_Arie-Smit_dok bidadariartArie Smit, kelahiran Zaandam, Belanda tahun 1916, telah menjadi warga negara Indonesia sejak 1950. Keluarganya pindah pada tahun 1924 dari Zaandam ke Rotterdam, di mana Smit akhirnya belajar desain grafis di Academy of Arts. Di masa mudanya ia terinspirasi oleh karyaSignac, Gauguin dan Cézanne. Ia dikirim ke Hindia Belanda pada tahun 1938sebagai lithographer. Datang pertama kali ke Bali tahun 1956. Semasa itu, kehadiran Smit di Bali, khususnya di Ubud, melahirkan sebuah gaya lukis baru yang disebut ‘Young Artist’. Sedini itu ia bersahabat dengan pendiri museum Neka, Pande Wayan Suteja Neka, hingga belakangan ini. Atas perannya dalam perkembangan seni lukis di pulau itu, Smit menerima penghargaan Dharma Kusuma (Society of National Heroes) pada tahun 1992 dari pemerintah Bali. Karya-karyanya dikoleksi di Museum Bali dan Penang Museum di Malaysia . Smit juga pernah berpameran di Jakarta, Singapura, Honolulu dan Tokyo.

Sebagai pembicara diskusi adalah Wayan Kun Adnyana. Wayan Kun Adnyana (35), pengajar pada FSRD ISI Denpasar. Selain intensif mengikuti pameran seni rupa di berbagai kota, Kun juga menulis kritik seni rupa dan kebudayaan di berbagai media massa, seperti Kompas, Media Indonesia, majalah Visual Arts, dll. Kumpulan tulisannya telah terbit dengan judul Nalar Rupa Perupa, Buku Arti, Denpasar, 2007. Bersama DR. M. Dwi Marianto menulis buku Gigih Wiyono; Diva Sri Migrasi, Galeri 678, Jakarta, 2007. Bersama Dr Jean Couteau, dan Agus Dermawan T menulis buku Pita Prada (Biennale Seni Lukis Bali Tradisional), Bali Bangkit, Jakarta, 2009. Turut merintis Bali Biennale 2005, sebagai committee dan juga kurator Pra-Bali Biennale-Bali 2005. Telah mengkurasi berbagai pameran seni rupa untuk: Tony Raka Art Gallery Ubud, Pure Art Space Jakarta, Ganesha Gallery Four Seasons Resort Jimbaran, Gaya Fusion Art Space Ubud, Danes Art Veranda Denpasar, Tanah Tho Art Gallery Ubud, Syang Art Space Magelang, Kendra Art Space Seminyak, Mondecor Jakarta, dan lain-lain.

Penghargaan: finalis UOB Art Awards 2011.  Finalis Jakarta Art Awards (2010). Lulusan terbaik predikat cum laude Pasca Sarjana ISI Yogyakarta (2008). Finalis Jakarta Art Awards (2008). Widya Pataka dari Pemerintah Provinsi Bali (2007). Lulusan terbaik predikat cum laude STSI Denpasar (2002). Nominasi Philip Morris Indonesian Art Awards (1999). Kamasra Price Seni Lukis Terbaik (1998). Pemenang pertama Lomba Lukis Remaja Parpostel IX Denpasar (1996).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s