Pustaka Bentara BUNG KARNO : KOLEKTOR DAN PATRON SENI RUPA INDONESIA

Pustaka Bentara

BUNG KARNO : KOLEKTOR DAN PATRON SENI RUPA INDONESIA

Sabtu, 12 April 2014, Pukul 18.30 – 22.00 Wita

 

Halaman Persembahan Buku BUNG KARNOBagi Presiden pertama Indonesia, Bung Karno, Balibukan semata pulau yang mempesona, melainkan memiliki ikatan batin tersendiri. Pertama, pulau seribu pura ini adalah tanah bersejarah, di mana ibunya dilahirkan. Kedua, Bali memiliki pesona kultural dan adat istiadat yang memukau, terbukti jutaan wisatawan datang berulang mengunjunginya. Ketiga, sepanjang sejarah keseniannya, Bali juga adalah sumber ilham bagi para seniman Indonesia dan dunia; melalui karya-karya mereka keindahan pulau ini menjadi kekal, yang membuat siapapun pecinta keindahan, termasuk tentunya Bung Karno, sulit untuk berpaling melupakannya.

Sejarah secara khusus juga mencatat hubungan istimewa dan penuh makna antara Bung Karno dengan Pulau Bali. Wujud nyatanya adalah capaian arsitektur yang terbilang unggul yakni istana Tampak Siring dan Bali Beach Hotel. Sejarah juga menguraikan dengan indah persahabatan antara Bung Karno dengan para seniman yang belakangan hari tersohor sebagai maestro-maestro seni di bidangnya. Antara lain dengan perupa asing (seperti Le Mayeur, R. Bonnet, Antonio Blanco, Christiano, dan lain-lain) serta perupa Bali (seperti Ida Bagus Made Poleng, Ida Bagus Made Nadera, Lempad, Tungeh, Regig dan lain-lain). Jalinan riwayat inilah yang menjadi kupasan penting Mikke Susanto dalam bukunya yang baru saja diterbitkan, bertajuk Bung Karno: Kolektor dan Patron Seni Rupa Indonesia.

Kisah sejarah dan riwayat persahabatan tersebut akan dipaparkan oleh Mikke Susanto dalam sebentuk kuliah umum dirangkaikan dengan diskusi buku di Bentara Budaya Bali. Buku tersebut diluncurkan pertama kali pada tanggal 6 Maret2014 lalu di Universitas Gadjah Mada(UGM) Yogyakarta. Cerita-cerita seputar Bung Karno, baik sebagai kolektor maupun patron senirupa Indonesia, berikut kisah-kisah unik di sebalik persahabatan tersebut, menjadi topik utama buku setebal 500 halaman ini. Dialog juga akan mengetengahkan informasi yang selama ini belum terpublikasikan, bagaimana pertemuan presiden dengan seniman tersohor, proses pengoleksian karya-karya ataupun kejadian-kejadian lain yang penuh sentuhan kemanusiaan.

Sebagai pembicara Pustaka Bentara kali ini, Mikke Susanto M.A,dan Pande Wayan Suteja Neka.

Mikke Susanto adalah penulis dan kurator seni rupa, lahir di Kencong, Jember, Jawa Timur, 22 Oktober 1973. Ia adalah konsultan kurator koleksi Istana Kepresidenan RI. Tercatat dalam 408 kurator dunia versi majalah on line Universes in Universe bersama Jim Supangkat, M. Dwi Marianto, Amir Sidharta, Agung Hujatnikajenong, Rizki A. Zaelani, & Alia Swastika. Juri Academic Art Award, FSR ISI Yogyakarta. Juri Kompetisi Seni Visual “1000 Misteri Borobudur”, Jogja Gallery. Kurator Pameran Seni Visual 12 Perupa kontemporer Ternama “Documenting Now: Person to Person”, Galeri ISI Yogyakarta (2011), Pameran Tunggal Syahrizal Koto “Diorama Tubuh”, Masterpiece Building, Jakarta (2011),  Pameran Patung Tunggal Dunadi “Singing on the Darkness”, Jogja Gallery (2010), Pameran Seni Visual “Art for Our Life”, Raday Gallery Budapest & Kiszinagoga Contemporary Art Gallery Eger, Hongaria (2010), Pameran Tunggal Heri Dono “HERI-DONOLOGY”, Jogja Gallery (2009), Pameran Tunggal Maestro Seni Lukis Indonesia “BASOEKI ABDULLAH: Fakta & Fiksi”, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (2009), “ERAWAN vs PELUKIS SEJATI”, Tujuh Bintang Gallery, Yogyakarta (2009), dll.

Beberapa bukunya : Risalah Rajah Sosrokartono: Lukisan Profetik KH. M. Fuad Riyadi di Era Postmodernisme, Lidah Wali, Yogyakarta, 2011, DIKSI Rupa, Kumpulan Istilah & Gerakan Seni Rupa, DictiArt Lab, Yogya, 2011, Tropical Genre: Kolase Naturalistik Lukisan Dadan Gandara, Medaprada Gallery Jakarta, 2010, Basoeki Abdullah: Fakta & Fiksi, Museum Basoeki Abdullah Jakarta, 2009, Modern Indonesian Art, Koes Book, Bali, 2007, Semedi Ning Jenar, Buku Seri Sunaryo, Selasar Sunaryo Art Space, 2007, Membongkar Seni Rupa, Penerbit Buku Baik, Yogyakarta, 2003, Pengsong, Ritus dan Romantisme Tanah Lombok, Pengsong Art Gallery, Mataram, Lombok, 1998, dll.

Pande Wayan Suteja Neka, lahir tahun 1939, merupakan pendiri Museum Neka (7 Juli 1982). Ia secara intens bergaul dengan Rudolf Bonnet (Belanda) dan Walter Spies (Jerman), dua tokoh yang menjadi cikal-bakal perkembangan kesenian, khususnya seni rupa modern di Bali. Suteja Neka juga menjadi tempat berlabuh pelukis berdarah Belanda yang sudah menjadi warga Indonesia, Arie Smit, yang mengajari anak-anak di kisaran Penestanan, Ubud, melukis dengan gaya Young Artist pada tahun 1960-an.

Kiprah Pande Wayan Suteja Neka dalam dunia seni rupa, khususnya sebagai kolektor keris di Bali memang pantas dicatat. Pengakuan atas kiprahnya dalam dunia pakerisan bisa dibuktikan dengan terpilihnya Neka sebagai salah satu juri dari tiga dewan juri dalam Kamardikaan Award 2008 yang diselenggarakan Panji Nusantara di Bentara Budaya Jakarta. Disamping itu, Suteja Neka juga kerap menyelenggarakan sarasehan tentang keris, sebagai bukti kalau ia benar­-benar ingin melestarikan keris. Tak heran kalau Suteja Neka juga kerap diundang untuk berbagai kegiatan yang berkaitan dengan dunia Pakeris­an, misalnya dialog keris di Duta Fine Art Gallery, Kemang Jakarta, yang diselenggarakan SNKI, di­hadiri penulis buku The world of Javanese Keris dari East West Center Honolulu, Hawai, Garett dan istrinya Bronwen Solyom.

Beberapa penghargaan yang pernah diraihnya antara lain Karya Karana Pariwisata dari Pemerintah Propinsi Bali (2003), Adi Karya Pariwisata oleh Pemerintah Republik Indonesia. (1977), Heritage Award dari Pacific – Asia Travel Association (PATA) Indonesia Chapter (1997), Piagam penghargaan dari Menparpostel (1997), Penghargaan Seni Wija Kusuma dari Bupati Gianyar (1997), Piagam penghargaan dari Mendikbud RI (1993), Penghargaan Seni Dharma Kusuma dan Medali Emas dari Gubernur Bali (1992) dan Lempad Prize dari Yayasan Sanggar Dewata Indonesia (1983).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s