Bali Tempo Doeloe #9 LAKU RITUAL NYEPI DAN KESALEHAN SOSIAL KINI

Sabtu, 29 Maret 2014, Pukul 18.30-22.00 Wita

BTD#9_Nyepi dok otomotif_kompas_comMemaknai Hari Raya Nyepi yang jatuh pada penghujung bulan Maret, Bali Tempo Doeloe #9 akan mengulas perkembangan bentuk perayaan dan pemaknaan dari hari suci umat Hindu tersebut. Sebagaimana dituliskan dalam tattwa atau kitab-kitab keagamaan, Nyepi bukan hanya sebagai titik pergantian tahun baru çaka, namun juga momentum ruwatan alam semesta yang ditandai oleh serangkaian upacara pembersihan seperti melasti, tawur agung, hingga laku catur brata penyepian berupa larangan menyalakan api (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungaan) dan tidak bersenang-senang (amati lelanguan).
Meskipun berangkat dari esensi makna yang serupa, pelaksanaan Nyepi ternyata berbeda-beda di beberapa wilayah Bali. Apabila masyarakat Bali bagian selatan melaksanakan melasti sebelum tiba hari penting tersebut, penduduk di kawasan Bali utara menyelenggarakan ritual ini justru setelah berlangsungnya Nyepi. Hal ini menunjukan bahwa ritual-ritual Bali bersifat beragam, yang penerapannya didasarkan pada waktu tradisi (sasih atau bulan, pawukon 7 harian, maupun perhitungan panca wara atau siklus lima harian) sekaligus pertimbangan kontekstual desa (lokasi), kala (waktu) dan patra (kondisi setempat).
Belakangan Nyepi juga dinilai sebagai salah satu kearifan lokal yang menginspirasi gerakan hemat energi, World Silent Day, yang mengimbau masyarakat untuk memadamkan listrik selama empat jam setiap tanggal 21 Maret. Artinya, dari sebuah ritual yang bersifat lokal, Nyepi telah dimaknai sebagai bagian dari gerakan peduli lingkungan yang lebih global. Bahkan boleh dikata, Nyepi sudah ditransformasikan dari sebentuk laku ritual menjadi kesalehan sosial.
Akan tetapi, sejak kapan sebenarnya Nyepi mulai dirayakan di pulau ini? Bagaimana pula makna kehadirannya bagi masyarakat indigenous atau Bali Aga yang masih lestari hingga kini, seperti Trunyan, Tenganan, Bayung Gede dan lain-lainnya, yang notabene tidak mendapat pengaruh ritual-ritual Hindu ala Jawa-Majapahit seperti Nyepi dan sebagainya? Lebih jauh, bagaimana orang Bali menjaga sakralitas perayaan ini di tengah fenomena pariwisata yang menjadikan Nyepi sebagai salah satu atraksi budaya yang memikat?
Selain menayangkan film mengenai ritual-ritual Nyepi di masa lalu dan perkembangannya kini, agenda akan dipadukan dengan diskusi bersama para pengamat dan pemerhati budaya. Dialog tidak hanya mengetengahkan sisi eksotika dari Bali masa silam, melainkan juga menyoroti problematik yang menyertai pulau ini selama aneka kurun waktu, termasuk kemungkinan refleksinya bagi masa depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s