Dialog Budaya PEMBANGUNAN GLOBAL BERLANDASKAN TRI HITA KARANA (THE GLOBAL DEVELOPMENT BASED TRI HITA KARANA)

Sabtu, tanggal 9 November 2013 pukul 09.00 Wita-selesai

Dialog Budaya_Claudia MoralesTahun 1987, World Comizion Environment Development (WCED) mencetuskan“Sustainable Tourism”. Konsep ini belakangan diimplementasikan menjadi “Pembangunan Pariwisata Berbasis Kerakyatan Berkelanjutan” (Sustainable Tourism Community Based Development). Sebagaimana diuraikan dalam “A Guidebook for Tourism-Based Community Development” yang diterbitkan oleh Asia Pacific Tourism Exchange Center, Pembangunan Pariwisata Berbasis Kerakyatan harus bermula dari rasa “cinta (love) kepada rakyat” –love is the underlying requirement  for community development. Tourism-based community development also starts with love for the community.

LOGO IHDNBerkaitan dengan hal tersebut, tahun 2004, World Tourism Organization (WTO) mengadopsi salah satu kearifan lokal Bali yaitu Tri Hita Karana, yang mengimplementasikan Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Masyarakat. Tri Hita Karana adalah tiga unsur kehidupan, yakni Parhyangan (hubungan manusia dengan Tuhan), Palemahan (hubungan manusia dengan alam), dan Pawongan (hubungan manusia dengan manusia), yang harus diwujudkan didalam keharmonian demi kesejahteraan umat manusia dan terjaganya alam lingkungan. Bahkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerjasama Asia Pasific (Asia Pasific Ekonomic Cooperation — APEC) yang berlangsung di Nusa Dua, Bali tanggal 5 – 7 Oktober 2013 lalu, filosofi Tri Hita Karana ditetapkan sebagai landasan pembangunan 21 negara anggota APEC.

Dengan diakuinya falsafah Tri Hita Karana (kearifan lokal Bali) oleh negara-negara anggota APEC dan  organisasi pariwisata dunia, dengan sendirinya memperkuat ciitra Bali sebagai destinanasi pariwisata dunia, sekaligus mempertahankan keberlangsungan desa pekraman di Bali dan memperkukuh identitas budaya Bali yang dijiwai oleh Agama Hindu. Diharapkan pula hal itu meningkatkan juga citra Indonesia di dunia Internasional, memajukan budaya bangsa sekaligus mengantar peran NKRI dalam turut serta mengukuhkan kehidupan yang damai di bumi,  (life in harmony, harmony in diversity). Namun tak dapat dielakkan, baik di Bali, Indonesia dan juga penjuru dunia, kehidupan sosial budaya justru kerap bertolak belakang dari nilai-nilai Tri Hita Karana . Kerusakan alam besar-besaran, berikut perang dan merajalelanya kejahatan serta ketidakadilan menggambarkan kenyataan yang sebaliknya tersebut.

Bekerjasama dengan Bentara Budaya Bali, Program Pascasarjana/Doktoral Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar mengadakan dialog budaya berskala Internasional dengan tema: “The Global Development Based Tri Hita Karana (Pembangunan Global  Berlandaskan Tri Hita Karana)”. Tampil sebagai narasumber Claudia Cristina Morales Manrique, Ph.D (Venezuela), Elly Kent PhD (Australia), Ir. I Gusti Ngurah Wisnu Wardana (Yayasan Tri Hita Karana Bali), serta dimoderatori oleh Dr.Ketut Sumadi,M.Par (Ketua Jurusan Program Doktor Pasca Sarjana IHDN Denpasar)

Elly Kent, kandidat doktoral di Australian National University, Canberra. Meneliti tentang teori dan implementasi praktik-praktik partisipatif, termasuk seputar seni rupa kontemporer di Indonesia. Menerima penghargaan dan beasiswa prestasi untuk melakukan studi di Indonesia dari Prime Minister’s Australia Asia Post-Graduate Award 2013.

 Claudia Cristina Morales Manrique, Ph.D, adalah doctor di bidang psikologi. Meneliti tentang ilmu kesehatan mental dan sosial sedari tahun 2003. Saat ini tengah mengembangkan studi tentang SQoL atau Subjective Quality of Life, atau yang dikenal juga dengan  Subjective Wellbeing. Ia kerap kali menjadi pembicara tentang SQoL di berbagai universitas terkemuka di dunia serta dipercaya untuk merancang dan melakukan elaborasi proyek penelitian bersama para peneliti dari Universitat de València, di Spanyol, serta lembaga internasional lainnya.

Ir. I Gusti Ngurah Wisnu Wardana, adalah ketua Yayasan Tri Hita Karana Bali, sebuah lembaga yang aktif memperjuangkan kelestarian lingkungan Bali berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal. Kerap pula melakukan penelitian dan seminar-seminar sebagai upaya pemberdayaan bagi masyarakat. Ia juga seorang jurnalis yang memiliki perhatian kepada dunia pariwisata.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s