Bali Tempo Doeloe #4 THE GODS OF BALI: ANTARA RITUAL SAKRAL DAN PERTUNJUKAN PROFAN

Minggu, 27 Oktober 2013, pukul 18.00 WITA – selesai

Acara ini terselenggara atas kerjasama dengan Sinematek Indonesia

Bali Tempo Doeleo 2_dok.wordpressBali memiliki beragam ritual yang melestari hingga kini. Penyelenggaraan aktivitas keagamaan di pura, baik di desa dan wilayah perkotaan, dengan sering dapat dijumpai, memperlihatkan ritual-ritual berdaya magis, yang mempertautkan nilai kultural, religi, hingga wujud-wujud transedental. Orang Bali meyakini, turunnya para Dewa melalui fenomena trance ataupun kerasukan sejatinya bermakna restu, berkah, ataupun ruwatan bagi kehidupan masyarakat setempat. Itulah sebabnya, ritual-ritual seperti ini dipercaya bertaut erat dengan spiritualitas, kesakralan serta bahkan lebih jauh, keharmonian antara kekuatan baik-buruk, antara dunia manusia dengan alam gaib para dewata dan deitya (roh halus maupun buta kala).

Salah satu film yang terbilang komprehensif menampilkan wujud ritual orang Bali adalah Gods of Bali (1936), skenario ditulis oleh Sidney Carroll dan dirilis F.L.D Strengholt. Film berdurasi 55 menit ini menampilkan ragam ritual serta deskripsi mengenai fenomena transeden yang terjadi hampir selalu dalam setiap kegiatan keagamaan, yang memberikan gambaran kepada publik bahwa agama dan keseharian masyarakat sesungguhnya tidak terpisahkan, yang belakangan ditengarai membentuk identitas kultural orang Bali kini.

Ritual-ritual itu, tidak terpungkiri, sekarang ditransformasikan untuk kepentingan-kepentingan turistik. Wujud kesakralan pun ‘dimodifikasi’ secara sadar menjadi bentuk pertunjukan, yang tak jarang bersifat profan. Di satu sisi ini mungkin memberikan manfaat bagi keleluasaan khalayak luar untuk menyaksikan sebagian dari laku ritual orang Bali, namun di lain pihak dipandang berdampak kontraproduktif bagi perkembangan sosial budaya pulau ini, di mana masyarakatnya disinyalir akan cenderung mengadaptasi kesakralan kebudayaan tradisinya semata untuk tujuan pariwisata. Misalnya penjor, bambu melengkung tinggi yang dihiasi janur bermakna simbolis Naga Basuki, cerminan mitis pelindung alam semesta, belakangan disesuaikan wujudnya dan dipergunakan sebagai dekorasi acara di luar kepentingan agama. Hal ini tidak hanya terjadi terhadap unsur-unsur upacara, melainkan juga pada ragam tarian di pulau ini.

Bagaimana pandangan budayawan dan masyarakat luas tentang perubahan fungsi serta makna dari ragam upacara ritual di Bali? Apa upaya nyata yang dapat dilakukan untuk merawat nilai-nilai luhur nan sakral yang diwariskan secara turun-temurun itu? Sejauh mana nilai-nilai ini dapat bertahan, di tengah arus perubahan dan perkembangan paradigma kepentingan pragmatis dari penduduk pulau ini? Jangan-jangan, selama ini di Bali telah terjadi konsepsi pelestarian kebudayaan yang keliru, di mana penyesuaian wujud budaya dengan kemodernan adalah bagian dari mempertahankan eksistensi kultural, atau bahkan yang lebih mencemaskan, upaya adaptasi ini dilakukan hanya secara permukaan artifisial, tanpa mempertimbangkan kebersinambungan pemaknaan nilai-nilai luhurnya?

Selain Gods of Bali, Bali Tempo Doeloe #4 juga akan menampilkan film dengan tematik serupa dalam perspektif kekinian. Agenda akan dipadukan dengan diskusi bersama para pengamat dan pemerhati budaya, yang akan memaknai perubahan kondisi Bali dari masa ke masa. Dialog tidak hanya mengetengahkan sisi eksotika dari Bali masa silam, melainkan juga menyoroti problematik yang menyertai pulau ini selama aneka kurun waktu, termasuk kemungkinan refleksinya bagi masa depan.

Sebagai pembahas adalah budayawan, Ida Bagus Agastya, pengajar di Fakultas Sastra Universitas Udayana, penulis berbagai buku, serta dikenal sebagai pemerhati masalah sosial dan agama di Bali.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s