Bali Tempo Doeloe #3 DENPASAR DALAM TANTANGAN ZAMAN

Bali Tempo Doeloe #3
DENPASAR DALAM TANTANGAN ZAMAN
Sabtu, 21 September 2013, pukul 18.30 WITA – selesai

Dok. beritabali.com

Dok. beritabali.com

Sebuah kota tumbuh sejalan dengan dinamika sosial, ekonomi, dan kultural masyarakatnya. Arus urbanisasi, perubahan komposisi demografi, berikut peralihan cara pandang penduduknya terhadap tradisi dan modernitas, turut memberi sumbangsih perkembangan suatu kota, termasuk pula Denpasar. Meskipun sejak 1992 Denpasar ditetapkan sebagai kotamadya dengan otoritas pemerintahan yang mandiri, sejarah kota ini sebenarnya bermula bahkan jauh sebelum masa kolonial, yakni pada 1788, tahun berdirinya Puri Denpasar, sebuah kerajaan lokal yang tercatat turut berperan dalam dinamika sejarah di Bali.

Telah terdapat beberapa upaya yang dilakukan untuk mendokumentasikan kota Denpasar di masa lalu berikut kondisi-kondisi terkininya. Para penyair Bali seperti Made Sukada, Made Dharna, Made Sanggra, Ngurah Parsua, dan sebagainya telah pula menulis tematik perihal kota ini, yang terangkum dalam berbagai buku antologi puisi. Ada juga musik dan lagu yang menggambarkan perubahan kota ini, sebagaimana yang ditulis oleh I Gusti Putu Wedasmara, Anak Agung Made Cakra, Rakadhanu, dan lainnya. Belum lagi dari karya sinema dan seni rupa, yang masing-masing merefleksikan pandangannya tentang perubahan kondisi kota ini.

Perubahan signifikan apa saja yang sejatinya melingkupi daerah yang kini menjadi ibukota Provinsi Bali ini? Apakah semata-mata hanya permukaan wajah kota dengan demografi kawasannya yang kian padat penduduk, sebagai akibat dari dibukanya kota ini sebagai sentra ekonomi dan salah satu destinasi pariwisata? Generasi mudanya yang dinilai makin jauh dari akar budaya tradisi dan lebih mengadaptasi wujud-wujud kemodernan, entah semata-mata sebagai gaya hidup ataupun keinginan meraih keglobalan yang diandaikan? Degradasi nilai sosial yang kian memprihatinkan, tecermin dari tingkat kriminalitas dan pola interaksi masyarakatnya yang terus merenggang? Atau malahan persoalan yang boleh jadi lebih esensial, yakni memudarnya kesadaran masyarakatnya perihal nilai-nilai kultural lokal yang disinyalir diakibatkan oleh kekurangmampuan mengelola arus perubahan dan globalisasi?

Bali Tempo Doeloe kali ini menghadirkan dokumenter film mengenai kondisi kota Denpasar di masa lalu dan kini, dikaitkan dengan diskusi perihal aspek perubahan yang melingkupinya berikut sebab serta kemungkinan dampaknya bagi masa depan kota ini. Sebagai pembicara adalah Dr. Putu Sukardja, Sekretaris Program Pascasarjana S3 Kajian Budaya Universitas Udayana dan peneliti berbagai bidang kebudayaan kota Denpasar, yang akan membahas wujud kebudayaan kota Denpasar berikut nilai sosial yang ditengarai makin memudar dalam arus modernitas.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s