Sinema Bentara JAKARTA DALAM TEROPONG FILM

Jumat-Sabtu, 12 – 13 Juli 2013,

Sanubari JakartaJakarta adalah sebuah kota yang setiap sudutnya memunculkan inspirasi untuk dieksplorasi oleh para pembuat film. Kejelian serta ketajaman mata dan telinga para sineas menjadikan Jakarta hadir sebagai kota multidimensi. Sinema Bentara kali ini menampilkan film-film dengan beragam latar Jakarta secara langsung atau tersiratkan melalui narasai-narasinya.

Seluruh potret dan suasana yang terangkum dalam film-film yang dihadirkan adalah sebentuk interpretasi yang membentuk makna tentang Jakarta masa kini.

Jakarta Maghrib (Salman Aristo, 2010, 75 menit)

Semua hubungan manusia menemui ambang batasnya di waktu Maghrib. Itulah benang merah dari 6 cerita di film ini. Ada Iman Cuma Ingin Nur, tentang sepasang suami istri yang ingin bercinta; Adzan, tentang seorang preman dan penjaga musholla; Menunggu Aki, tentang penghuni kompleks perumahan yang menunggu tukang nasi goreng langganan mereka; Jalan Pintas, tentang sepasang kekasih yang mencari jalan pintas; Cerita Si Ivan, tentang anak kecil yang ketakutan; dan Ba’da, tentang pertemuan dari semua tokoh tersebut.

Jakarta Hati (Salman Aristo, 2012, 114 menit)

Film ini bertutur tentang enam cerita yang seluruhnya berupaya merebut kembali hati di jantung ibukota. Jakarta Hati merupakan debut kedua sutradara Salman Aristo.

Sanubari Jakarta (Kolektif, 2012, 100 menit)

Sanubari Jakarta menyuguhkan 10 cerita dari 10 sutradara berbeda tentang kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) yang berjuang mewujudkan cinta sejati. Adakah cinta sejati untuk mereka?

Serigala Terakhir (Upi Avianto, 2009, 110 menit)

Merupakan film drama kriminal yang bertutur tentang persahabatan sekelompok pemuda yang bersalin rupa menjadi pertarungan penuh kekerasan. Persahabatan yang dulunya sangat berharga harus musnah karena intrik dan konflik. Serigala Terakhir merupakan cerminan kehidupan para preman yang mewarnai Jakarta.

ElianaEliana (Riri Riza, 2002, 83 menit)

Cerita hubungan ibu dan anak digambarkan dalam semalam. Lima tahun sebelumnya Eliana lari dari rumahnya di Padang menuju Jakarta untuk memperoleh kemandirian. Sang bunda tiba-tiba datang dan mengajaknya pulang kembali ke Padang. Pada akhirnya, upaya saling memahami adalah sikap yang paling dibutuhkan untuk memperbaiki relasi keduanya.

Jumat, 12 Juli 2013
16.30 Jakarta Maghrib
18.30 Jakarta Hati
20.30 Sanubari Jakarta

Sabtu, 13 Juli 2013
16.30 Serigala Terakhir
18.30 Diskusi
19.30 Eliana Eliana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s