Diskusi dan Putar Film PEMUTARAN FILM DOKUMENTER KARYA SINEAS BULELENG

Minggu, 19 Mei 2013 Pukul 18.30 Wita – selesai

 

Dokumenter_Putu Kusuma WidjajaPada bulan April lalu, Bentara Budaya Bali memutar film dokumenter ‘Di Balik Frekuensi’ karya Ucu Agustin, yang coba mengkritisi peran media sekaligus dominasi kepentingan di dalamnya. Kali ini, empat sineas Bali dari Buleleng, IGP Wiranegara, Putu Kusuma Widjaya, Putu Satria Kusuma dan Gede Seen, akan menghadirkan karya-karya dokumenter terkininya, yang merefleksikan berbagai sudut pandang dalam upaya menyikapi aneka perubahan yang terjadi di Bali.

Film ‘Bali Menantang Masa Depan’, karya IGP Wiranegara, merekam suara-suara cemas yang terabaikan dalam perkembangan Bali yang konon disebut sebagai pulau sorga terakhir. Sementara Putu Kusma Widjaja, hadir melalui ‘Pintu Rumah’, mengetengahkan fenomena tentang sampah yang hingga kini masih menjadi masalah yang tak kunjung terselesaikan. Kemudian Gede Seen, pada film ‘Doa Dalam Satu Nafas’ mencoba mengetengakan bahwa perbedaan agama bukanlah masalah bagi anak-anak sekolah di sebuah desa kecil di Buleleng, serta Putu Satria Kusuma dengan ‘Bali Jani’, berbicara tentang disisihkannya penggunaan gong pacen barungan, gamelan gong kebyar khas Buleleng, sejalan mulai pudarnya style ukiran Bali Utara.

IGP Wiranegara

Menamatkan pendidikan di Fakultas Film dan Televisi – Institut Kesenian Jakarta (FFTV-IKJ) sebagai Videografer tahun 2002, dan pada tahun 2004 lulus sebagai Sutradara Film Dokumenter. Menyelesaikan jenjang Pascasarjana di IKJ tahun 2011, serta bergabung dalam jajaran staf pengajar FFTV-IKJ sejak tahun 2002.  Saat ini mengajar di beberapa perguruan tinggi: ATKI-Indosiar(Jakarta), Universitas Sahid (Jakarta), Universitas Pasundan (Bandung), Universitas Widyatama (Bandung). Beberapa karya filmnya antara lain :  Menyemai Terang Dalam Kelam (2006), Meniti Buih Gelombang Tsunami (2007), Tumbuh Dalam Badai (2008), Nani Wartabone, Patriot Pejuang Kemerdekaan, serta filmnya Paku Buwono XII, Berjuang untuk Sebuah Eksistensi meraih Piala Citra sebagai film dokumenter terbaik FFI 2005, dan Sang Budha Bertahta di Borobudur memenangkan penghargaan film dokumenter terbaik FFI 2007, dll. Ia juga aktif sebagai juri berbagai ajang lomba film dokumenter nasional maupun internasional.

Putu Kusuma Widjaja

Lulusan akademi perfilman Belanda, pernah bekerja di salah satu stasiun televisi Nasional sebelum akhirnya memutuskan pulang ke Singaraja Bali. Di kota kelahirannya ini  dia membuat karya-karya film yang diundang mengikuti festival di Amsterdam, Busan dan Rotterdam.

Putu Satria Kusuma

Lahir di Singaraja. Menekuni teater,sastra dan film dokumenter. Ilmu film didapat dari  workshop film, diskusi,nonton dan baca. Karya filmnya antara lain, Janger Kolok mendapat penghargaan di PKB dan Kemenbudpar  RI,  Subak Pancoran mendapat penghargaan di PKB .dan Lima Besar di Denpasar Festival Film Dokumenter, Tabuh Rah dan Tajen, Renganis Seni Vokal dari Bali Utara. Dia kerap juga diundang pentas teater di banyak kota di tanah air.

Gede Seen

Kelahiran Banyuatis, 31 Desember 1961, adalah seorang pengajar di SMA N 1 Banjar. beberapa film yang telah diproduksinya antara lain : Mendayung Harapan di Danau Tamblingan, Seragamku Tinggal 1,  Doa Dalam 1 Nafas, Bingkisan Untuk Sahabat, dan Permainan Tradisional Gasing

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s