Pentas Musik dan Diskusi MUSIK DAN KATA LINTAS BUDAYA

Minggu, 21 April 2013, Pukul 19.00 Wita – selesai

 

Pentas Musik_YuliarsaApakah yang mengilhami seorang seniman untuk menggubah musik, merangkai lagu, mengarang cerita, menulis prosa dan puisi, melukis atau memahat? Besar kemungkinan salah satu atau lebih dari bidang seni tersebut saling mempengaruhi, memicu lahirnya karya di bidang seni lainnya.

Atau, apakah lintas budaya, baik dari pengalaman hidup langsung pada budaya lain, maupun pemahaman unsur budaya ( yang tidak semata-mata berhubungan dengan kesenian)  lewat bacaan dan tulisan, adalah sebuah proses yang secara organik dilewati oleh seorang seniman dalam berkarya? Apakah kesadaran untuk belajar pada budaya lain, keberanian untuk menyeruak, memahami, merasakan nilai baru ini harus dipupuk dan ditingkatkan guna mencapai kemajuan dalam olah berkesenian?

Karya-karya kesenian lintas budaya dan lintas bidang ( disiplin) bisa saja diartikan sebagai sebuah ancaman bagi tatanan seni tradisional, atau tidak selaras dengan upaya pelestarian seni budaya yang sudah mapan. Maka, lahirlah istilah-istilah seperti seni propaganda, seni religi, seni populer bahkan seni kontemporer, yang ternyata sudah timbul dan berkembang dari awal sejarah kesenian itu sendiri. Memang, sebelum mencapai status kesenian “tradisional”, seni tersebut berkembang dari bentuk seni sebelumnya.

Kali ini komponis Wayan Yudane berkolaborasi dengan musisi dan penyair Yuliarsa mendemonstrasikan beberapa karya ( komposisi) musik yang terinspirasi  puisi dan beberapa komposisi musik gamelan yang diaplikasi atau diterapkan pada perangkat musik barat.

Ketut Yuliarsa, penyair dan musisi, telah menerbitkan dua buku kumpulan puisi (dwibahasa Indonesia-Inggris), “Suara Malam/ Night Voice” dan “Jatuh Bisu/ Falling in Silence” dan beberapa kumpulan puisi bersama penyair Bali. Cerpennya tersebar di media cetak Indonesia, juga menulis kolom budaya secara berkala di sebuah koran harian berbahasa Inggris. Turut terlibat dalam beberapa rekaman musik kontemporer di Jepang dan Singapura. Berpartisipasi dalam berbagai pementasan musik dan teater, sebagai aktor, musisi maupun penulis naskah di Australia dan New zealand. Saat ini tinggal di Bali bekerja di toko buku sambil mengelola program “Books For Bali Project”, kegiatan menyumbangkan buku-buku bacaan untuk sekolah-sekolah desa terpencil dan panti asuhan.

Yudane, lahir di Kaliungu, Denpasar, menghasilkan karya musik konser, teater, instalasi maupun film. Meraih penghargaan Melbourne Age Criticism sebagai Creative Excellent pada Festival Adelaide, Australia (2000) kolaborasi dengan Paul Gabrowsky;Penghargaan Helpmansebagai Musik Orisinal Terbaik, Adikara Nugraha dari Gubernur Bali sebagai Kreator Komposisi Musik Baru (1999). Tampil di Festival Jazz Wangarata, Australia (2001), keliling Eropa dengan Teater Temps Fort, Grup France and Cara Bali, juga Festival Munich dan La Batie. Karyanya: musik film ‘Sacred and Secret’ (2010), Laughing Water and Terra-Incognita, dan Arak (2004), serta sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s