Diskusi dan Putar Film DI BALIK FREKUENSI

Kamis, 4 April 2013 Pukul 18.30 Wita – selesai

 

DiBalikFrekuensi_FOTO STILL _ JURNALISMengambil isu yang jarang dibicarakan di dunia sinema Indonesia, sutradara Ucu Agustin membuka tahun 2013 dengan  “DI BALIK FREKUENSI”, sebuah film dokumenter panjang pertama di Indonesia yang berbicara tentang media, khususnya media televisi yang menggunakan sarana frekuensi.

Berkolaborasi dengan produser Ursula Tumiwa, dikenal melalui film ‘Generasi Biru’ dan ‘Metamorfoblous’, Ucu yang selama ini diketahui publik selalu konsisten mengarahkan film-film dokumenter Indonesia berkualitas seperti ‘Ragat’e Anak’ dalam kumpulan Antologi AT STAKE (tentang pekerja seks di gunung Bolo, Tulungagung) dan ‘Konspirasi Hening’ (mengenai malprakrek di dunia kedokteran di Indonesia),  kali ini bukan hanya bertindak sebagai sutradara tetapi juga bersama Ursula bergandengan sebagai produser, mengingatkan publik untuk menyadari hak-haknya sebagai warga Negara, khususnya hak atas informasi.

Film ini  adalah sebuah feature documentary yang  bercerita tentang bagaimana frekuensi publik saat ini digunakan oleh pemilik media demi kepentingan politik dan bisnis yang jauh dari kepentingan yang berkenaan dengan publik. Melalui kisah jurnalis bernama Luviana yang di-PHK-kan, serta kisah Hari Suwandi dan  Harto Wiyono dua orang warga korban lumpur Lapindo, film ini akan mengajak kita menelusuri sebagian kecil dari sekian banyak cerita di balik frekuensi  dan di balik kerja media di Indonesia setelah reformasi berjalan lebih dari 14 tahun.

Di Balik Frekuensi merupakan bagian dari project CIPTA MEDIA BERSAMA, sebuah inisiatif  kolobarasi dari organisasi non profit Wikimedia, ICT Watch!, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang didukung sepenuhnya oleh Ford Foundation, dan memiliki tujuan untuk membuat media di Indonesia lebih baik di masa-masa yang akan datang.

Sebagai narasumber diskusi akan hadir Ucu Agustin (sutradara), Ursula Tumiwa (produser), Luviana (pemain), dan Edo Wulia ( Minikino Denpasar).

Ucu Agustin

Belajar membuat film dokumenter secara otodidak sejak skrip film dokumenter pendeknya ‘Death In Jakarta’ (2006) memenangkan Jakarta International Film Festival [IFFEST] Script Dovelopment Competition 2005, Ucu Agustin dengan   konsisten terus mengusung isu-isu social justice dalam tema film dokumenter yang digarapnya. Sutradara – Penulis yang berlatar pendidikan filsafat ini menganggap realita sebagai tempat yang tak henti untuk bisa terus di-eksplorasi. Ia telah menggarap belasan film dokumenter pendek. ‘Ragat’e Anak | Our Children’s Fund’ salah satu film pendeknya yang tergabung dalam Antologi PERTARUHAN (AT STAKE) menjadi film dokumenter Indonesia pertama yang masuk dalam sesi Panorama Documente  pada Berlinale Film Festival 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s