Seminar Kebudayaan Internasional TANTANGAN IMPLEMENTASI TEORI SOSIAL-BUDAYA

Minggu, 9 Desember 2012, pukul 10.00 wita

 

Kebudayaan sejatinya mencSeminar Kebudayaan Internasional_IHDN Denpasarakup berbagai bidang kehidupan, meliputi hal-hal yang bersifat tangible (wujud benda material) serta intangible berupa tata nilai, norma dan interpretasi makna. Guna menelaah arti serta fungsinya, kerap kali dilandasi oleh berbagai teori-teori kultural, sebentuk perangkat kognitif yang sengaja dikonstruksi demi membantu merumuskan cara pandang kita terhadap unsur kebudayaan yang kaya ragam itu.

 

Namun kajian kebudayaan yang berdasar atas teori semata tentu tidak akan dapat merangkum seluruh hal esensial dan aplikatif dari kebudayaan, terlebih lagi terkait upaya implementasi kekuatan kultural dalam mendorong terciptanya kesejahteraan masyarakat. Dibutuhkan upaya kajian  budaya yang selaras dan padu antara teori-teori dengan bentuk-bentuk penerapannya di keseharian. Dengan demikian, kebudayaan bukan hanya sebagai wacana yang memperkaya pengetahuan, namun juga dapat berperan strategis demi kemajuan bangsa secara keseluruhan.

 

Menyikapi pentingnya kepaduan dan keselarasan antara kajian teori sosial-budaya dengan implementasinya tersebut, Bentara Budaya Bali bekerjasama dengan Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar menggelar seminar kebudayaan internasional bertema Kajian Teori-Teori Sosial Budaya Dalam Akselerasi Pemberdayaan Kekuatan Budaya Meningkatkan Kesejahtraan Rakyat. Sebagai pembicara antara lain, Mudji Sutrisno (budayawan), Jan Hendrik Peters (jurnalis dan pengamat sosial-budaya asal Belanda) serta mengundang budayawan dan akademisi lainnya.

 

Mudji Sutrisno, selain aktif menulis serta dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyakarya, dan Pascasarjana Universitas Indonesia, sempat menjabat sebagai anggota Komisi Pemilihan Umum periode 2000-2007. Meraih gelar Doktor Filsafat di Universitas Gregoriana, Italia tahun 1986. Pernah menjabat wakil pres dan anggota PEN (Perhimpunan Penulis, Novelis, Esais, Penyair Indonesia), serta salah satu pendiri yayasan Pitaloka. Buku-bukunya yang diterbitkan Zen Dan Fransiskus  (1983, Kanisius),  ESTETIKA: Filsafat Keindahan  (1993, Kanisius), Getar-Getar Peradaban (1994, Kanisius), Pendidikan Pemerdekaan (1995, Obor),  DEMOKRASI: Semudah Ucapankah? (2000, Kanisius), DRIJARKARA: Filsuf yang Mengubah Indonesia (2006,Galang Press) dan lain-lain.

 

Jan Hendrik Peters, seorang profesor mantan studi perhotelan dan pariwisata di Belanda dan Indonesia. Sebagai jurnalis, ia kerap menulis tentang pariwisata dan keragaman budaya. Dia juga penasihat strategis Yayasan Tri Hita Karana di Bali.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s