Pustaka Bentara GANDAMAYU, SOSOK PEREMPUAN DI SIMPANG PILIHAN

Jumat, 3 Februari 2012, pukul 19.00 Wita-selesai

Perempuan dalam mitologi selalu diposisikan sebagai dua kepribadian penuh kontradiksi: antara yang dimuliakan, sekaligus dinistakan. Bukan hanya tercermin eksplisit atas diri sang tokoh, tetapi kerap juga diungkap secara tersirat sejalan peran yang dilakoninya. Hal itu pula yang dihadirkan Putu Fajar Arcana melalui novel terkininya, Gandamayu (Kompas, 2012).

Novel ini interpretasi Putu Fajar atas wiracerita Mahabarata, terkait figur pendamping Siwa yang paradoks, yakni Dewi Durga nan menyeramkan di bawah pengaruh amarah, menjelma Dewi Uma yang lembut penuh kasih. Peralihan wujud tersebut terjadi berkat keikhlasan berkorban dari Sahadewa, putra Pandu. Peristiwa itu melahirkan tradisi ruwatan atau melukat (Bali), yang dalam novel ini disikapi oleh Putu Fajar sebagai laku spiritual dengan pengharapan “terlahir” kembali menjadi manusia “baru”, yang memiliki kualitas hidup lebih baik. Dengan kata lain, Putu Fajar menjadikan mitologi lebih dekat dengan keseharian, sekaligus mempertautkannya dengan nilai-nilai yang hingga kini masih diacu oleh sebagian besar masyarakat.

Diskusi novel Gandamayu menghadirkan pembicara budayawan Jean Couteau serta sineas Lola Amaria. Secara khusus bagian tertentu dari novel akan dialih-kreasikan menjadi pertunjukan oleh dramawan Abu Bakar. Tampil pula musikalisasi puisi TeaterLAH Indonesia pimpinan Dadi Reza Pujiadi yang sarat prestasi.

Gandamayu adalah novel pertama Putu Fajar Arcana. Ia telah menulis kumpulan cerpen Bunga Jepun (2003), Samsara (2005), dan kumpulan esai Surat Merah Untuk Bali (2007). Sejak tahun 1994 ia bergabung dengan Harian Kompas Jakarta. Ia koordinator Sanggar Minum Kopi (SMK) Bali pada awal 90-an, yang rutin adakan Lomba Penulisan Puisi se-Indonesia, serta Lomba Baca Puisi se-Bali. Meraih 10 Karya Terbaik lomba crepen se-Indonesia Bali Post (2002), juga pada tahun yang sama sebagai pemenang utama Lomba Menulis Cerpen se-Indonesia yang diadakan di Kota Batu, Jawa Timur.

Tahun 2003 dan 2004 cerpennya termasuk kumpulan cerpen pilihan Kompas. Kumpulan puisi tunggalnya terbit tahun 1997 dengan judul Bilik Cahaya, terkumpul pula dalam Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Menagerie IV (2000), dll. Perjalanan jurnalistiknya mencapai kota-kota dunia seperti Athena (2003),Paris (2003/2007), Brussel (2007), Kohln (2007), Luxemburg (2007), Singapura (2003/2004/2007), dan Bangkok (2004), serta dua tahun belakangan Rusia dan India.

Adapun Lola Amaria mengawali pengalaman kreatifnya sebagai aktris, membintangi film layar lebar seperti Tabir (2000), Beth (2001), serta Ca Bau Kan (2002). Telah menyutradarai Betina (2006), serta Minggu Pagi di Victoria Park (2010). Lola juga memproduseri film Novel Tanpa Huruf R (2004). Ia tengah melakukan riset untuk film terkininya terkait para perantau China di Indonesia.

Jean Couteau, budayawan dan pengamat seni asal Perancis yang telah lama bermukim di Bali. Ia telah banyak menulis buku antara lain tentang pelukis Affandi, Srihadi Soedarsono, Bali Inspires, Walter Spiece, Puri Lukisan dan lain-lain. Ia juga menerjemahkan karya sejarawan besar, Dennys Lombard (Nusa Jawa Silang Budaya) serta novel Emilie Java 1904, dan sebagainya.

Abu Bakar pinisepuh teater di Bali, telah mengkreasikan berbagai pertunjukan, dipentaskan tidak hanya banyak kota di tanah air, namun juga di luar negeri. Pendiri Teater Poliklinik ini juga menulis puisi, cerpen, novel, serta menyutradarai berbagai nomor sinetron.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s