Sandyakala Sastra # 18 GERSON dan FANNY: KISAH KELUARGA POYK di BALI

Minggu, 29 Januari 2012, pukul 18.30 Wita-selesai

Walau lahir pada kurun zaman yang berbeda, kedua penulis ini boleh dikata memiliki latar sosial yang serupa, dan sama-sama menyandang nama “Poyk”. Akan tetapi secara stilistik dan isi cerita, karya-karya mereka mencerminkan keunikan sudut pandang masing-masing. Gerson Poyk (86 tahun) adalah sastrawan produktif dengan aneka penghargaan, sedangkan putrinya Fanny J. Poyk (42 tahun) juga penulis yang totalitas dan repurtasinya telah teruji. Menariknya kedua ayah anak ini juga sempat aktif di dalam dunia jurnalistik, sebagai jurnalis dengan pencapaian prestasi terpujikan, Gerson malah sempat meraih hadiah Adinegoro.

Melalui Sandyakala Sastra #18, kedua sastrawan ini akan memperbincangkan karya-karya mutakhir mereka serta bagaimana dunia tulis menulis menjadi bagian utama kehidupan keluarga tersebut. Bukan hanya soal proses penciptaan, publik juga dapat mengusut lebih jauh pengalaman mereka selama bermukim di Bali serta hubungan kreatif macam apa yang terjalin di antara ayah dan anak ini.

Gerson Poyk lahir di Ba’a, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, 16 Juni 1931. Angkatan pertama dari Indonesia pada International Writing Program di Lowa University Amerika Serikat (1971-1972) ini, memenangkan Hadiah Adinegoro pada 1985 dan 1986, dan SEA Write Award pada 1989. Novel dan kumpulan cerita pendeknya, antara lain: Hari-hari Pertama (1968), Sang Guru (1971), Matias Ankari (1975), Oleng-kemoleng & Surat-surat Cinta Rajaguguk (1975), Jerat (1978), Cumbuan Sabana (1979), Seutas Benang Cinta (1982), Di Bawah Matahari Bali (1982), Requiem untuk Seorang Perempuan (1983), Anak Karang(1985), Doa Perkabungan (1987), Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988), Meredam Dendam (2009) dan catatan perjalanan jurnalistik Keliling Indonesia Dari Era Bung Karno Sampai SBY ( Libri, 2011).

Fanny J. Poyk, lahir di Bima 1960. Cerita pendeknya dimuat di Sinar Harapan, Suara Karya, Jurnal Nasional, Suara Pembaruan, Bali Post, Kartini, Sarinah, dan sebagainya. Melewati masa kanak-kanak hingga remaja di Bali, yang banyak menjadi inspirasi cerpen-cerpennya, khususnya cerita anak-anak yang ditulis sejak usia belia. Buku-bukunya antara lain, Pelangi Di Langit Bali, Istri-istri Orang Seberang (Esensi, 2008), Perjuangan para Ibu : Anakku Pecandu Narkoba (Erlangga), Narkoba Sayonara (Esensi, 2006) serta yang terbaru Suamiku Dirampok Orang, yang diterbitkan secara indie.

Sejak menamatkan studi jurnalistik di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, Fanny menjalani profesi sebagai editor di tabloid anak-anak Fantasi dan sekarang majalah Potensi, disamping aktif dalam organisasi Wanita Penulis Indonesia (WPI) yang membidangi pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s