RELIGIUSITAS SASTRAWAN BALI

Sandyakala Sastra #11

Senin, 16 Mei 2011, Pukul 18.00 WITA

Soal religiusitas memang bukan tema baru, namun tetaplah menarik mencermati bagaimana para sastrawan menyikapi hal tersebut secara kreatif. Tidak sedikit penulis yang mengolah perihal kepercayaan, makna toleransi maupun kehidupan sosial masyarakat yang lintas agama, dan terbukti hingga kini karyanya tetap hadir menginspirasi.  Terkait itu, Sandyakala Sastra kali ini akan mengulas seputar sikap dan pandangan sastrawan Bali dalam menimbang religiusitas.

Nyoman Tusthi Eddy (66), penulis antologi esai Tuhan di Mata Penyair (1994) akan membagikan pengalaman kreatif serta perspektifnya tentang religiusitas dalam karya para pengarang Bali selama ini. Kepala SMA Amlapura ini telah menerbitkan 16 lebih buku lainnya dengan tema-tema beragam, di antaranya Pengantar Singkat Keragaman dan Periodisasi Pembaruan Puisi Indonesia (1984), Mengenal Sastra Bali Modern: Dua Buah Esai (1991), Tafsir Simbolik Cerita Bagus Diarsa (2002), serta lain-lain.

Buku kumpulan puisinya antara lain Puisi Seputar Dunia—Terjemahan (1984), Ning Brahman (2002), Sungai-Mu (2004), serta sebagainya. Pada tahun 2009, Nyoman Tusthi Eddy menerima Hadiah Sastra Rancage melalui kumpulan puisi berbahasa Balinya, Somah. Tahun 2010, ia memperoleh Hadiah Sastra Tantular dari Balai Bahasa Denpasar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s