Pustaka Bentara Seri Maret 2011 (Makalah Elza Peldi Taher)

Birokrat Unik, Apanya Yang Unik..?

Apa yang menarik sehingga buku ini harus dilaunching di banyak tempat? Buku ini  adalah kumpulan  biografi dan kumpulan  artikel. Itu sebabnya, buku ini terbagi atas dua bagian, yaitu sebuah biografi ringkas yang bercerita tentang rekam jejak seorang anak bangsa. Dalam hal ini adalah rekam jejak seorang Dr. Soen’an Hadi Poernomo. Dia adalah seorang pegawai negeri sipil (PNS) yang saat buku ini ditulis menjabat sebagai Kepala Pusat Data, Statistik, dan Informasi di Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). Bagian kedua buku ini, tentu saja, berisi tentang artikel-artikel yang ditulis Soen’an Hadi Poernomo dan dimuat di beberapa media, termasuk surat surat pembaca di tempo.

Membaca buku ini sekilas pasti memunculkan pertanyaan. Birokrat Unik?. Apanya yang unik.? Apalagi bagi mereka yang mengenal Soen”an,  dalam kesehariannnya ia tak ada bedanya dengan orang lain. Tak ada sesuatu yang aneh pada dirinya, perilaku, cara berpakaian dan pergaulan sehari-hari sama seperti yang lain, sehingga amatlah wajar jika banyak yang bertanya, mengapa buku ini diberi judul birokrat unik?

Ada beberapa alasan mengapa buku ini disebut birokrat unik. Pertama, Soen’an adalah pejabat yang sederhana, bahkan terlalu sederhana dibanding jabatannya. Ia dikenal luas sebagai orang yang tegar  menjaga dedikasi dan integritas sebagai seorang birokrat.  Birokrasi Indonesia saat ini dikenal dengan ungkapan klasik, ”jika bisa dipersulit, mengapa harus dipermudah”. Birokasi, terutama aparat birokrat, mengail untung sebanyak-banyaknya dari wewenangnya sebagai seorang birokrat. Gaji dari pemerintah (negara) dianggap belum memadai. Itu sebabnya banyak pegawai (birokrat) yang mencari celah dan kesempatan.

Barangkali Soen’an adalah satu dari sedikit orang di birokrasi yang terus menerus menjaga idealisme. Gratifikasi (pemberian), bagi banyak birokrat mungkin sesuatu yang lumrah. Tapi, bagi Soen’an, gratifikasi itu harus ditolak mentah-mentah. ”Bagaimana dengan istri dan anak saya kalau saya menerima, mereka makan dari yang tidak halal,” begitu kata Soen’an. Maka, tak heran, bila Soen’an sering melaporkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bila menerima gratifikasi. KPK pun memberi apresiasi atas laporan Soen’an. Atas laporan itu, beberapa kali Soen’an mendapat ”surat penghargaan” dari KPK.

Bila banyak birokrat yang tergoda, Soen’an tetap menjaga idealisme, integritas, dan dedikasi sebagai seorang birokrat. Kemewahan dunia dan harta benda tidak terlalu merisaukan Soen’an. Dalam menjalani keseharian, Soen’an tetap dengan kesederhanaan dan kebersahajaan. Dia tak pernah berlebih dan tak pula terlalu kekurangan. Soen’an mensyukuri apa yang diperolehnya pada saat ini. Sekalipun, orang-orang sekitar, ”menyayangkan” karena Soen’an bisa memperoleh lebih. Sekadar contoh, kendaraan dinas yang digunakan Soen’an, di mata orang lain, mungkin sudah tidak pantas untuk jabatan setingkat eselon II. Toh, Soen’an tidak mempersoalkan.

Kedua, Bila pejabat umumnya sudah tak bergairah menulis, karena tersita waktunya oleh kerja kerja rutin, Soen’an Hadi Poernomo yang sejak muda menulis, termasuk penulis yang produktif. Tulisan-tulisan dan artikel, terutama tentang kelautan dan perikanan, muncul di berbagai media massa baik koran dan majalah. Tentu, ini memperlihatkan talenta Soen’an sebagai seorang penulis kolom. Bukan itu saja, esensi dari artikel yang ditulisnya bisa menggugah dan memberi gagasan segar kepada para pembacanya. Sekali lagi, hal itu memperlihatkan kualitas keilmuan Soen’an yang perlu pula disebarluaskan melalui buku kumpulan artikel ini. Karena banyak menulis Soen’an juga terlibat banyak dalam kegiatan organisasi di luar kantornya. Karena banyak aktivitas menulis itu ula, maka Soen”an banyak terlibat dalam kegiatan organisasi.

Ketiga, Jalan hidup Soen’an tak biasa dan penuh warna. Soen’an Hadi Poernomo adalah anak seorang ayah yang menjadi korban dalam ”perang saudara” di Republik ini pada masa 1965-1966. Kala itu situasi sosial diwarnai dengan ”kemarahan” terhadap orang-orang yang dianggap (beratribut) sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Ibunya garis ”hijau” sedangnya bapaknya ”merah”, ayahnya ketua Lekra di daerrahnya, Lamongan. Dalam budaya politik lama seharusnya soen’an tak bisa jadi pejabat, bila di litsus ia akan gugur karena kena hukum bapaknya ”merah’. Tapi soen’an tidak, ia berhasil menggapai jabatan di kementerian Kelautan Perikanan.

Meski atribut seperti itu masih melekat, namun tak membuat Soen’an Hadi Poernomo terpengaruh. Soen’an Hadi Poernomo tetap tumbuh dengan karakter dan jati diri sendiri. Bahkan sejak kecil sudah tertanam sifat-sifat dan karakter nasionalisme, integritas, kedisiplinan, dan ketekunan. Sejak kecil Soen’an Hadi Poernomo sudah dekat dengan kelompok ”hijau” (Islam). Dia mengaji kitab suci al-Qur’an. Dalam berorganisasi Soen’an dengan dekat dengan kalangan Nahdliyin. Semasa sekolah menengah, aktif sebagai Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Artinya, pertumbuhan dan perkembangan karakter Soen’an tidak terkait dengan latar-belakang ayahandanya sebagai pimpinan Lekra. Soen’an tetaplah Soen’an meski tetap mewarisi segala sifat dan karakter kedua orang tuanya.

Dalam konsteks inilah kehadiran buku ini terasa penting. Dari sini kita tahu bahwa masih banyak pejabat negara yang mau hidup sebagaimana adanya, tanpa silau oleh kekayaan dan gemerlapannya jabatan yang ia sandang. Dari sudut itu berbahagialah KKP punya pejabat sederhana seperti Soen’an hadi Purnomo.

Penulis, Elza Peldi Taher

 

Nukilan penting di buku

Hidup itu akan kelihatan ruwet dan gelap bagi mereka yang menggunakan kacamata gelap dan kotor. Tapi coba kenakan kacamata hidup yang jernih, terang dan optimis, maka kehidupan akan kelihatan indah dan menarik. Hidup akan terasa damai dan bersahabat. Kesan inilah yang muncul di benak saya setiap berjumpa Pak Soen’an Hadi Purnomo. Sikap hidupnya sederhana. Hidup dijalaninya dengan damai, namun produktif, baik dalam pemikiran maupun tindakan. Dia tipe orang yang senang belajar, senang berorganisasi, dan senang berbagi pengalaman hidup pada lingkungan dekatnya (kata pengantar Komaruddin Hidayat).

Pak Soen’an memang seorang birokrat yang ”lain sendiri” dan memiliki karakter serta kepribadian. Pak Soen’an bukan fotokopi dari siapa pun di Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pak Soen’an bukan tipe seorang birokrat tanpa karakter. Dia memiliki warna, memiliki karakter, bersahaja dan tidak macam-macam. Pak Soen’an memang birokrat unik.

Pak Soen’an tidak bisa di-kotak-an. Pak Soen’an itu orang yang multidimensional. Dia seorang birokrat tapi juga ”anak gaul” yang banyak temannya. Dia bekerja secara baik dan diapresiasi oleh atasan dan rekan sejawatnya. Di bidangnya, Pak Soen’an cukup berprestasi. Dia penulis yang baik, mulai dari puisi, cerpen sampai essay. Saya sepintas pernah membaca karyanya.

( Wawancara Sarwono  Kusumaatmadja 160).

 

Kutipan buku

Pada pagi hari, Soen’an tetap bersekolah seperti biasa. Kebetulan pada waktu itu Soen’an mengikuti pelajaran senam pagi. Sedang mengikuti senam pagi, Soen’an dilempar batu kerikil kecil oleh seorang kakak kelas bernama Yudi. Maksudnya, sang kakak kelas Yudi ingin berbicara sesuatu kepada Soen’an. Lemparan itu artinya panggilan. Soen’an pun menghampiri Yudi. Kemudian Yudi memberitahu bahwa ayahanda Soen’an telah meninggal dunia semalam. Yudi juga memberitahu lokasi tempat di mana ayahanda Soen’an dimakamkan, yaitu di dekat sawah selatan Lamongan. Soen’an tidak bereaksi apa-apa. (halam 14)

Kakak kelasnya bercerita bahwa saat mau meninggal dunia, ayahanda Soen’an minta diazankan. Setelah mendengar suara azan, kemudian ayahanda Soen’an meninggal dunia. Soen’an sendiri tidak mengetahui bagaimana ayahnya dibunuh. Apakah dalam keadaan berdiri, tidur, atau berlari lalu ditembak, Soen’an tidak mengetahuinya. Di mana lokasi terbunuhnya ayahandanya, Soen’an pun tidak tahu. Dalam kondisi seperti itu, apa yang ada di benak Soen’an berkecamuk.  (14)

Sepulang sekolah, tiba di rumah Soen’an tidak memberitahu kepada sang ibunda. Dia bersikap biasa saja. Soen’an diam saja. Tak berapa lama, adik ibu (paklik/paman) datang ke rumah. Sebenarnya paman Soen’an ini, Paklik Fajar, juga terlibat sebagai simpatisan PKI. Namun, dia hanyalah sebagai simpatisan biasa, tidak terdaftar sebagai anggota partai komunis. Meski demikian, karena dianggap sebagai simpatisan partai komunis, Paklik Fajar diberhentikan dari tempat kerjanya di toko yang memperdagangkan sepeda dan senar.

Kepada ibunda Soen’an, Paklik Fajar memberitahu bahwa Nawan Sosro telah meninggal dunia semalam. Soen’an pun dipanggil dan diberitahu bahwa ayahandanya telah tiada. Ibunda dan Paklik Fajar terlihat menangis. Soen’an pun tak bisa menahan kesedihan. Dia ikut menangis.

Soen’an sebenarnya sudah mengetahui kabar ayahandanya telah meninggal dunia di sekolah dari kakak kelasnya Yudi. Soen’an pun memberitahu bahwa tadi pagi sudah mendengar kabar itu. Ibundanya mengatakan mengapa Soen’an tidak memberi tahu tapi hanya diam saja. Soen’an tak menjawab. Mereka masih larut dalam kesedihan mendengar berita Nawan Sosro sudah meninggal dunia. (halaman 14)

Baru beberapa tahun belakangan ini, Soen’an berani mendatangi lokasi yang diperkirakan tempat ayahandanya meninggal dunia dibunuh pada tahun 1965-an. Seperti yang diceritakan kakak kelas Soen’an, Yudi. Soen’an menghubungi Yudi untuk meminta diantarkan ke tempat yang diperkirakan sebagai lokasi pembunuhan. Tempat itu memang terlihat seperti sebuah kuburan massal. Hanya batu yang menandai adanya kuburan di lokasi itu. (halaman 15)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s