Pustaka Bentara Seri Maret 2011 (Makalah DR. Nyoman Wijaya)

BAGAIMANA SAYA MENULIS BIOGRAFI, PROSOPOGRAFI,

DAN NOVEL BIOGRAFIS?*

Oleh Nyoman Wijaya©

 

Hai Nyoman!!

andai dengan menulis biografi,

engkau jadi terkenal melebihi orang-orang terkenal,

jangan busungkan dada,

banggakan diri sebagai penulis paling terkenal,

biarpun terkenal belum tentu engkau penulis yang patut terkenal,

engkau terkenal karena tokoh yang engkau tulis orang terkenal,

penulis pemula pun jika sempat nulis orang-orang terkenal,

akan terkenal seperti dirimu,

untuk jadi sekedar terkenal,

engkau memang perlu nulis orang-orang terkenal,

tapi susah cari orang-orang terkenal,

orang-orang terkenal hanya mau pada penulis terkenal,

kualitas tulisan nomor dua,

jika ingin jadi terkenal,

pandai-pandai baca situasi,

ikuti penyanyi instan,

tiba-tiba terkenal karena lagukan Gayus Tambunan,

pandai-pandai lirik penerbit,

ketemu penerbit religius tulis ustad terkenal,

ketemu yang sekuler tulis orang-orang populer,

Nurdin Halid,

Nugraha Besus,

Nirwan Bakrie

Arifin Panigoro,

George Tuisutta,

atau sekalian saja,

Andi Malaranggeng,

jangan kalah sigap,

popularitas bagai korek api,

menyala lalu mati,

tergandung berita televisi yang datang bagai air mengalir,

ada kasus baru tokoh populer berganti,

dari Susno Duaji, Gayus Tambunan, tiba-tiba ada Nurdin Halid,

jika sigap engkau selamat,

jadi penulis terkenal.

Tapi Nyoman!!

jika engkau ingin jadi penulis biografi sejati,

jangan terpaku pada orang-orang terkenal,

biografi bukan kumpulan orang-orang terkenal,

kalau dapat ya syukur,

kalau tidak jangan tepekur

alihkan perhatianmu pada orang-orang tak terkenal

orang-orang kecil,

orang-orang unknown,

kusir dokar,

pemulung,

peramu nikmat atau peramu saji,

siapapun boleh engkau garap,

jika akhirnya engkau jadi terkenal,

bukan lantaran tokohmu orang-orang terkenal,

tapi karena engkau memang patut dikenal,

siapapun yang engkau garap,

teliti sungguh-sungguh dengan berbagai sumber,

jangan sampai tersandung timbangan baik buruk,

menghargai atau membenci,

jangan berhenti hanya pada kengerian dan keheroikan,

jangan terjebak pada kemasyuran,

masuk pada kesadaran,

manusia kompleks,

dalam banyak hal manusia memang sama,

sama-sama harus makan,

sama-sama tak boleh lupa sama seks,

sama-sama bergiat dalam masyarakat,

sama-sama suka aman dan mencari aman,

hanya berbeda dalam aspirasi-aspirasi besar,

yang dibentuk tradisi sejarah,

kondisi lingkungan,

pengalaman-pengalaman,

oh ya hampir lupa setiap manusia bernafsu,

mampu mengembangkan banyak tindakan,

emosi,

mulai lahir hingga mati,

manusia dibentuk orang-orang sekitar,

yang memberikan prasangka,

mempengaruhi alam bawah sadar,

menggerakkan mereka,

karena itu,

engkau perlu selami mentalitas tokohmu,

perlu tafsirkan cara persepsi dan konsepsinya,

pandangan hidupnya,

orientasi intelektualnya,

engkau memerlukan imajinasi yang besar,

untuk menyulam biodata seindah mungkin,

tanpa menyimpang dari faktor historisitas,

engkau dituntut memakai dasar bukti-bukti sejarah,

dokumen-dokumen tertulis primer

buku harian,

surat dagang,

surat cinta,

memoar,

dokumen-dokumen tertulis sekunder tersier,

engkau perlukan data lisan,

primer, skunder tersier

engkau memerlukan emphaty,

tempatkan dirimu seolah-olah ada di dalam situasi tokoh,

rasakan emosi tokoh,

motivasi dan sikap tokoh,

persepsi dan konsepsi tokoh,

tempatkan diri dalam konteks zaman tokoh,

setiap zaman punya jiwa zaman,

zaman Soeharto orang tak berani buka mulut,

zaman Megawati asal jangan buka mulut,

diam itu emas,

zaman Yudhoyona orang ramai-rmaia buka mulut,

di mana-mana ada bau mulut,

ada yang busuk,

ada yang seharum bunga melati,

alihkan imajinasimu ke masa itu,

resap suasananya,

jangan coba paksakan situasi sekarang pada masa lampau,

jika engkau ingin menerangkan tokoh,

tak hanya sekedar memahaminya,

gunakan kerangka metodologis,

kerangka konseptual dan teoretis,

selamat belajar menjadi penulis biografi,

semoga engkau tak hanya jadi orang terkenal,

tapi juga orang yang mengenal duniamu sebagai penulis biografi,

uang memang penting tapi bukan satu-satunya.

Nyoman Wijaya 10 Maret 2011

Pengantar

Saudara kandung tertua biografi adalah otobiografi. Menurut Ted Schwarz (1990) otobiografi awal adalah lukisan dinding di goa-goa prasejarah, dengan objek gambar pertarungan maut melawan mammoth berbulu. Ketika teknologi sudah mulai berkembang, media otobiografi bergeser dari goa-goa prasejarah ke vas atau pasu, dengan objek gambar-gambar heroik. Di zaman Romawi, saat teknologi pengecoran logam semakin sempurna, mulai digunakan koin untuk melukiskan otobiografi, dengan objek transformasi kekuasaan, kemenangan perang, proyek-proyek pembangunan yang dikerjakan kaisar, dan skandal seks. Setelah melek huruf mulai dikenal biografi. Biografi dalam bentuknya yang paling sederhana ditulis pada gulungan perkamen (kulit binatang), dengan objek catatan pemerintahan, pimpinan agama, Injil. Tahun 1795, muncul penulis biografi pertama, James Boswll, yang menulis kehidupan Sam Johnson. Pada Tahun 1800 muncul penulis-penulis prosopografi terkemuka seperti Abraham Hayward, James Bruce, George Robert Glieg, dan Charles Seymor. Mereka menggunakan pendekatan penulis Plutarch’s Live yang ditulis beberapa abad sebelumnya. Tahun 1900-an prosopografi yang mengangkat tema orang-orang miskin sangat digemari di AS. Tahun 1990-an biografi dan prosopografi menjadi bacaan nonfiksi yang paling populer di AS.

Dengan mengacu pada Ted Schwarz di atas, berarti ada tiga tahapan dalam penulisan riwayat hidup, yakni otobiografi, biografi, dan prosopografi. Lalu di mana posisi memoar? Otobiografi adalah biografi yang ditulis sendiri, biografi adalah riwayat hidup yang ditulis orang lain, sedangkan prosopografi adalah biografi kolektif. Menurut Kuntowijoyo (2003),otobiografi memiliki kekuatan sekaligus kelemahan. Kekuatannya terletak pada  keterpaduan yang utuh (coherency) sehingga dengan mudah diketahui bagaimana penulis memahami diri, lingkungan sosial-budaya, dan zamannya. Sebagai refleksi yang otentik dari pengalaman seseorang, karena itu otobiografi dapat ditulis sebagai usaha membela diri. Kelemahannya, otobiografi bersikap partial terhadap sejarah zamannya (orang tidak mungkin mengalami sejarah secara keseluruhan), subjektif (pandangan pribadi tentang sejarah), dan proses sejarah yang belum final (ditulis hanya sampai saat dikerjakan). Otobiografi sangat dekat dengan memoar (memoire). Sama dengan otobiografi, memoar juga ditulis sendiri, biasanya hanya mengenai satu peristiwa saja. Para penulis KBI mengartikan memoar sebagai kenang-kenangan sejarah atau catatan masa lampau yang ditulis dengan menekankan pendapat, kesan, dan tanggapan pencerita atas peristiwa yang dialami dan tokoh-tokoh yang berkaitan dengannya.

Bagaimana dengan biografi? Menurut Kuntowijoyo (2003) dengan mengutip John A. Garraty (1957), biarpun sangat mikro, biografi atau catatan tentang hidup seseorang menjadi bagian dalam mosaik sejarah yang lebih besar, sehingga ada yang mengatakan, sejarah adalah penjumlahan biografi. Pendapat itu tampaknya sulit dipungkiri, karena pelaku sejarah, zaman yang menjadi latar belakang biografi, lingkungan sosial-politik kehidupan tokoh memang lebih dapat dipahami melalui biografi. Ketika saya menulis biografi Bhikkhu Titha Ketuko Mahathera akhirnya dapat diphami lebih jelas alasan munculnya pelaksanaan upacara Pancawalikrama dan Ekadasarudra di Pura Besakih awal tahun 1960-an. Penyebabnya ternyata letehnya tempat suci itu sebagai akibat dari penanaman tumbal yang dilakukan oleh kelompok kebatinan dari Yogyakarta yang bekerjasama dengan sejumlah elite kekuasaan di Bali.

Biografi harus dibedakan dengan novel biografis. Biografi adalah sejarah, sedangkan novel biografis adalah novel sejarah. Biarpun sama dengan sejarah, novel sejarah memiliki historical authenticity, historical faithfulness, dan historicity of local colour, namun detailnya tidak dapat digunakan sebagai sumber sejarah, karena novel sejarah memang merupakan produk imajinasi dan tidak dimaksudkan sebagai sejarah yang faktual. Saya merasakan sendiri bagaimana memasukkan imajinasi historis ke dalam novel sejarah ketika menulis Tana Toraja Berkalung Salib. (2008) Akhirnya, bagaimana dengan prosopografi? Dengan mengutip Lawrence Stone (1972), Kuntowojoyo (2003) mengatakan, prosopografi adalah tulisan mengenai kehidupan sekelompok orang yang mempunyai karakteristik latar belakang yang sama. Persamaan latar belakang itu meliputi zaman (rentang waktu, abad, tahun), nasib, kedudukan ekonomi, persamaan pekerjaan, persamaan pemikiran, dan peristiwa yang sama. Selain persamaan, di dalamnya ditemukan juga perbedaan, kontras, varian, bahkan pertentangan. Saya merasakan menulis prosopografi ketika menulis Serat Salib dalam Lintas Bali (2003/2007)

Berdasarkan uraian tersebut di atas, sebenarnya banyak persoalan yang bisa dikaji mengenai otobiografi, biografi, dan prosopografi. Salah satunya yang sangat menarik adalah kajian historiografisnya, sehingga dapat diperoleh tingkat pengetahuan para peneliti terdahulu mengenai otobiografi, biografi, dan prosopografi. Bagaimana cara mereka menulis ketiga bidang garapan riwayat hidup seseorang? Bagaimana kerangka teoretiknya. Kajian teoretis seperti itu tentu enaknya dibicarakan dibangku kuliah, khususnya dalam mata kuliah Metodologi Sejarah. Oleh karena itu dalam makalah ini, perhatian akan difokuskan pada persoalan yang sangat pribadi yakni bagaimana cara saya menulis riwayat orang lain. Selain Biografi John Ketut Panca (2001), ada enam buah biografi yang saya hasilkan, namun masih dalam bentuk manuskrip, yakni: (i) biografi Merta Ada (2002); (ii) Biografi Bhikkhu Thitaketuko Thera (2003); (iii) Biografi Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus (2006); (iv) Biografi Dr. I Wayan Mastra, M.Th. (2007); (v) Biografi IGusti Made Oka Mantan Presdir Bank Dagang Bali (2008); dan (vi) Biografi Sang Penemu Sostrobahu: Tjokorda Raka Sukawati (2009). Dari sejumlah karya pribadi yang saya sudah sebutkan di atas, saya akan pilih tiga di antaranya, yakni Biografi John Ketut Panca, Serat Salib Dalam Lintas Bali, dan Tana Toraja Berkalung Salib untuk menjawab secara tak langsung pertanyaan Koordinator Bentara Budaya Bali dalam diskusi kali ini.

Kerangka Teoretik

Sebagai sejarawan, saya terikat pada kerangka teoretik penulisan biografi, yang saya pelajari dari guru-guru saya. Secara teoretis, suatu hal penting yang harus diperhatikan dalam penulisan biografi adalah permasalahan, yang meliputi kepribadian tokoh, kekuatan sosial yang mendukung, lukisan sejarah zaman, dan keberuntungan dan kesempatan yang datang.

Menurut Kuntowijoyo (2003), model pertama mengajarkan, sejarah adalah kumpulan biografi. Transformasi sejarah didorong oleh individu, yang  dapat dilihat pada kepercayaan terhadap Ratu Adil dan Imam Mahdi. Oleh karena itu model ini sangat digemari oleh sejarawan penganut Hero in History. Mereka yang memilih model ini perlu menyadari bahwa kepribadian seseorang dapat dipelajari melalui latar belakang keluarga, pendidikan, lingkungan sosial-budaya, dan perkembangan diri. Menurut Sartono Kartodirdjo (1992) kepribadian seseorang dapat dipahami dan didalami dengan cara mempelajari latar belakang lingkungan sosio-kultural di mana tokoh itu dibesarkan, bagaimana proses pendidikan formal dan informal yang dialami, dan watak-watak orang yang ada di sekitarnya. Menurut Kuntowijoyo (2003), penting pula menceritakan tikungan-tikungan yang menentukan jalan hidup selanjutnya dan membawa perubahan penting. Model kedua, menurut Kuntowijoyo (2003), sangat cocok bagi sejarawan yang percaya bahwa kekuatan sosial (Marxisme, Sosialisme, Libralisme, dsbnya), bukan perorangan yang menentukan jalannya sejarah. Model ketiga melukiskan zaman yang memungkinkan seseorang muncul jauh lebih penting daripada pribadi atau kekuatan sosial yang mendukung. Model keempat melihat para tokoh muncul berkat adanya faktor luck, coincidence, atau chance dalam sejarah.

Selanjutnya, masih menurut Kuntowijoyo (2003), yang juga perlu diperhatikan dalam kerangka teoretik adalah metodologi. Dari sudut pandang metodologi, ada dua macam biografi, yaitu (i) portrayal (portrait) dan (ii) scientific (ilmiah), yang masing-masing mempunyai metodologi sendiri. Biografi potret hanya mencoba memahami tokoh sebagaimana yang diceritakannya, misalnya biografi politik, bisnis, seni, olah raga, dan sebagainya, sedangkan biografi scientific berusaha menerangkan tokoh berdasar analisis ilmiah dengan memakai konsep dan teori dari psychoanalysis yang menghasilkan psychohistory (sejarah kejiwaan). Bisa pula menggunakan pendekatan hermeneutics (menafsirkan) yang memahami (understand, verstehen), sehingga menghasilkan sejarah yang menerangkan (explain, erklaren). Memahami seseorang berarti mengerti “dari dalam” berdasar “makna subjektif” dari tokohnya sendiri sebagaimana sang tokoh menafsirkan hidupnya, sedangkan menerangkan adalah “menjelaskan dari luar” dengan menggunakan bahasa ilmu (hubungan-hubungan kausal) terhadap seorang tokoh yang tertentu saja di luar kesadaran subjek sendiri.

Sedikit berbeda dengan biografi, dalam prosopografi digunakan  pendekatan elitis dan pendekatan massa. Pendekatan elitis bertujuan untuk mengungkap kehidupan tokoh-tokoh sejarah yang terkenal, sedangkan pendekatan massa mengungkap kehidupan massa yang tak dikenal. Pendekatan elitis bertujuan memahami kepribadian tokoh-tokoh, akar perbuatan dan keputusan, dan kepentingan yang tersimpan di balik retorika. Pendekatan massa berusaha mengungkap perubahan-perubahan struktural, yaitu mobilitas sosial dan kultural.

Tenik penulisan

Abdurrahman Surjomihardjo (l982/l983) mengatakan seorang penulis biografi harus mampu membuat lukisan kehidupan dan penghidupan tokoh dengan berlatar-belakang peristiwa yang jelas, peristiwa pribadi, lokal, nasional, maupun internasional. Dalam penguraiannya, mesti dihindari suatu deskripsi yang bersifat kronologis. Sebuah biografi yang baik, harus mampu memaparkan kegemaran (hobby), humor, ucapan yang khas, pendapat, dan pandangan mengenai pengalaman yang unik, cita-citanya dalam kehidupan keluarga, masyarakat dsbnya (p.56). Sagimun M.D. (l982/l983) mengajarkan menggunakan metode LIFE AND TIME. Life, merupakan bagian yang membicarakan watak, sifat-sifat, kesenangan-kesenangan, kegemaran-kegemaran dari tokoh yang ditulis. Sedangkan time, membicarakan peristiwa-peristiwa sejarah yang erat kaitannya dengan tokoh. Artinya, tokoh harus ditempatkan dalam konteks sejarah di masa mana ia hidup dan berjuang. Suwadji Syafei (l982/l983), mengajarkan supaya menghindari sikap hero-worship, yakni penyembahan dan pemujaan kepada tokoh.

Anhar Gonggong (l982/l983) mengingatkan supaya mencoba memahami lingkungan yang memungkinkan lahirnya faktor-faktor psikologis, baik psikologis kepribadian dan perkembangan maupun sosial. Gambaran masyarakat dan lingkungan keluarga yang digunakan, tidak boleh lepas dari konteks tokoh yang bersangkutan. Gambaran tentang lingkungan keluarga harus dapat memperluas pemahaman pembaca terhadap situasi tokoh dalam kaitannya dengan perkembangan tokoh  untuk kemudian menjadi tokoh yang patut dikenal oleh bangsanya. Harus dapat dilihat peranan ayah, ibu, keluarga lainnya yang cukup dominan membentuk kepribadian tokoh sebagai pemimpin.

Biografi: Penggembala Itik John Ketut Panca

Biografi John Ketut Pantja (JKP) ditulis mengunakan metode sejarah, dengan memadukan  sejarah intelektual dan biografi. Melalui sejarah intelektual dipaparkan apa yang dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan JKP. Pendekatan biografi dimaksudkan untuk memberikan lukisan pengalaman dan kepribadian serta kehidupan dan penghidupan JKP. Semuanya itu dibahas dengan berlatar-belakang pengalaman  pribadi, peristiwa lokal, nasional, maupun internasional. Penyajiannya tidak dibuat deskripif-kronologis, sehingga paparan tentang kegemaran (hobby), humor, ucapan yang khas, pendapat, dan pandangan mengenai pengalaman  yang unik, cita-cita dalam kehidupan keluarga, dan masyarakat, serta pemikiran dalam berbagai hal, terutama yang menyangkut dunia pariwisata dan gereja, terlihat tumpang tindih dalam setiap bab. Diungkapkan pula kelebihan atau keunikan JKP mengidentifikasikan dan memberikan solusi masalah-masalah multidimensi yang dihadapi Bali, terutama yang menyangkut bidang kepariwisataan. Objektivitas dikedepankan dengan tidak hanya melihat kelebihan-kelebihannya saja, tetapi juga kekurangan-kekurangan, kealpaan-kealpaan yang dilakukannya sepanjang perjalanan waktu.

Untuk mencapai objektivitas yang semaksimal mungkin, digunakan juga teori psikologi, bahwa setiap tindakan manusia mempunyai sejarahnya sendiri.  Artinya,  manusia dalam banyak hal adalah sama, tetapi mereka berbeda dalam aspirasi-aspirasi yang lebih luas, yang disebabkan oleh tradisi sejarah, kondisi lingkungan, dan pengalaman-pengalaman pribadi. Diperhatikan pula faktor ekstern  atau lingkungan, dengan menempatkan JKP dalam kerangka sosial ekonomi, politik dan budaya, agar dia tidak terpencil dari lingkungannya. Disadari pula munculnya godaan bersifat egosentris, yang mendorong penulis melihat zaman JKP melalui sudut pandang sendiri, sehingga JKP terlalu menjadi pusat kegiatan. Untuk menghindari hal itu, selalu disadari bahwa  zamanlah yang sesungguhnya ikut menentukan tindakan-tindakan JKP. Disadari pula bahwa hidup JKP terjalin ke dalam banyak riwayat hidup orang lain di sekitarnya. Lebih jauh dari itu, diperhatikan pula faktor universal dan bersifat kemanusiaan pada umumnya.

Dengan demikian, pengalaman dan pemikiran JKP diletakkan dalam suatu kerangka tema-tema sejarah yang lebih luas, seperti sejarah sosial dan sejarah budaya Bali. Untuk itu, yang dipersoalkan bukan hanya hal-hal yang berkenaan dengan pribadi JKP, tetapi juga sejarah yang berkisar pada dirinya. Semuanya itu dimaksudkan untuk menghindari gaya penulisan Commemorative Biography yang mengagung-agungkan JKP dengan hanya memasukkan tingkah laku dan tindakan-tindakan yang baik-baik saja.

Pemikiran JKP  digambarkan sebagai salah satu kekuatan arus sosial budaya yang bersifat alamiah untuk menghindar dari sebutan cerita roman atau novel. Hal itu dilakukan dengan cara menggunakan metode sejarah kritis. Dengan metode ini, JKP dapat dipandang sebagai  tokoh yang mewakili arus kekuatan alamiah dari zamannya. Sikap kritis itu  dapat menghindari pembentukan mitos, membuat demitologi alam pikiran JKP, sehingga dapat dihindari sikap hero-worship, yakni penyembahan dan pemujaan kepada JKP. Latar belakang pemikiran JKP dipahami melalui pemahaman terhadap lingkungan masyarakat dan lingkungan pendidikannya, yang memungkinkan lahirnya faktor-faktor psikologis, baik yang menyangkut kepribadian maupun sosial. Gambaran masyarakat dan lingkungan keluarga juga dicari untuk memperluas pemahaman terhadap situasi JKP dalam kaitannya dengan perkembangannya  menjadi tokoh pariwisata yang patut dikenal oleh bangsanya. Hal itu mengharuskan pemaparan peranan ayah, ibu, dan keluarga lainnya yang cukup dominan dalam membentuk kepribadian JKP.

Metode sejarah lisan digunakan secara seksama, artinya, tidak hanya mengambil hal-hal yang bersifat faktual, tetapi juga menangkap suasana yang terkait dengan JKP. Untuk itu, diupayakan mencari orang yang mengenalnya secara dekat, baik keluarga, teman sekerja, teman sepermainannya. Namun, harus diakui secara jujur, walau sudah bekerja secara maksimal, ternyata tidak dapat menjangkau semua orang yang pernah dekat atau berseberangan dengannya. Dengan kerangka teori dan metodologi seperti itu, dilakukan penelitian melalui wawancara intensif dengan JKP, keluarga, teman-teman sepermainan, teman-teman di lingkungan pariwisata dan gereja. Data tersebut dirangkai dengan menggunakan alat bantu seperti yang telah disebutkan di atas, sehingga tersusun sebuah buku yang terdiri dari empat bab, dan masing-masing bab dibagi menjadi beberapa sub-bab.

Setiap bab ditulis dengan teknik penulisan sejarah mikro, seperti yang terlhat dalam Bab I yang berjudul, LINGKUNGAN SEKITAR DI MASA KANAK-KANAK HINGGA REMAJA. Bab I terdiri dari lima sub-bab. Bagian satu menguraikan latar belakang sejarah keluarga JKP yang berasal dari Soroh Batu, terutama kisah tentang tempat pemujaan mereka di Pura Taman Ayun. Pengetahuan tentang kisah ini amat diperlukan terutama untuk memahami kemunculan perusahaan PT Batu Bersaudara yang didirikan oleh JKP untuk merekrut orang-orang dari Soroh Batu sebagai pekerja di perusahaan itu. Pada latar belakang wilayah, diuraikan monografi desa, terutama kisah munculnya nama Desa Gulingan, yang merupakan desa kelahiran JKP.  Pada bagian dua diuraikan latar belakang keluarga JKP. Ayahnya seorang kelian banjar dan ibunya seorang petani tulen, sejati. Uraian dipadati deskripsi kesibukan ayahnya sebagai kelian banjar. Dikisahkan pula rutinitas pekerjaan ibunya dari pagi hingga sore, mulai dari menghalau burung di sawah, menyiangi tanaman kangkung, menyediakan makanan babi dan sebagainya. Dihiasi pula dengan pengalaman dramatis, traumatis JKP waktu kecil, terutama prihal ketidakmampuannya memenuhi hasratnya membeli babi guling dan es campur manakala dia menyaksikan sabungan ayam di balai banjar, jaba pura, dan balai desa. Bagian ketiga menguraikan masa JKP bersekolah, ketika JKP memasuki usia delapan tahun, awal mula dia diberi nama I Ketut Panca oleh guru kelasnya sebagai pengganti nama I Ketut Manca. Dikisahkan pergualan JKP di sekolah dan luar sekolah, yang difokuskan pada pengalaman pagi dan siang di luar sekolah, seperti mengembala itik, menyabit rumput, mencari air minum di mata air, bermain sempiar, matembing, mengadu jangkrik, adu jago meloncati api, mageri-gerian, dan perang-perangan. Pengalaman petang dan malam hari, seperti permainan macepetan, menonton wayang, menyaksikan orang ngeleak, dan sebagainya. Bagian keempat mengisahkan ketika JKP pindah dari SR Gulingan ke SR Mengwi, dari kehidupan pedesaan ke lingkungan yang lebih maju, yang menjadikan dirinya minder. Dikisahkan pula perjalanan pertamanya ke kota Denpasar, sebagai titik awal berkenalan dengan budaya kota. Berfoto di kokpit lukisan kapal udara di salah satu stan Pasar Malam di Alun-alun (Lapangan Puputan Badung) merupakan pengalaman pertama JKP bersinggungan dengan simbol modernitas. Perkenalan dengan budaya kota, menumbuhkan rasa percaya diri dan mengikis rasa minder. Bagian kelima mengisahkan JKP bersekolah di SLUB Mengwi, berkenalan dengan teman-teman yang jauh lebih maju dan pintar daripada teman-teman di SR. Di sekolah ini JKP bersahabat dengan seorang wanita bernama I Gusti Ayu Rai, yang memiliki kakak laki-laki berprofesi sebagai penerbang. Kisah mengenai laki-laki penerbang ini mendorong JKP untuk bercita-cita menjadi penerbang, yang dikemudian hari menjadikannya bekerja sebagai anggota AURI RI. Dikisahkan pula kemampuan JKP mengorganisir teman-temannya, keterlibatan JKP dalan sandiwara dan band disekolahnya yang dipagelarkan saat hari perpisahan.

BAB II berjudul MENIMBA PENGALAMAN DI RANTAU UNTUK BEKAL HIDUP DI DAERAH ASAL, yang dibagi menjadi delapan sub-bab. Bagian satu berkisah tentang perjalanan JKP ketika melanjutkan sekolah di SLUA Saraswati, Denpasar (Badung) sambil membawa cita-cita menjadi penerbang. Keterbatasan keuangan keluarga, memaksanya bersekolah sambil bekerja dan menumpang tinggal di mess BKIA Pekambingan, tempat kakak iparnya bertugas. Keinginan memiliki uang dari hasil usaha sendiri mengharuskan JKP menjadi loper koran. Dikisahkan pula kandasnya cita-cita JKP seiring dengan kegagalannya lulus ujian akhir dan perpisahannya dengan kekasih, putri dari mantan kepala sekolahnya di SR Mengwi. Setelah gagal, JKP bekerja sebagai petugas kesehatan penanggulangan penyakit malaria, dan kemudian  mendaftar sebagai siswa AURI. Bagian dua, membicarakan kisah perjalanan JKP ke Solo, diterima sebagai siswa AURI. Dengan semangat ingin menebus kegagalan, dikisahkan pula kiat-kiat JKP berusaha mengikuti pelajaran dan pelatihan dengan baik agar dapat melanjutkan pendidikan ke India. Dilanjutkan dengan kisah perjalanan hidup JKP di India termasuk ketika JKP mengamati dan mempelajari agama Hindu, dengan membandingkan antara Hindu di Bali dengan Hindu di India. Dibicarakan pula pergaulan JKP dengan seorang gadis India-Kristen, perjalanan JKP dari India ke Jakarta dengan pesawat Air-India. Sepulang dari India, dikisahkan pergaulan JKP dengan gadis-gadis Solo. Bagian ketiga mengisahkan perjalanan JKP ke Makassar, tempat ia ditugaskan sebagai anggota AURI. Sesampai di Makassar, JKP mencari SMA untuk melanjutkan sekolahnya. Diceritakan pula ketika ia harus kembali ke Solo untuk menikah. Setelah selesai upacara, kembali ke Makassar melanjutkan studi di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Dikisahkan pula persahabatan dan percintaan JKP dengan mahasiswi Unhas, sebagai upaya melupakan kenangan indah dengan mantan kekasihnya di Bali. Perjumpaan dan percintaan JKP dengan Elisabeth Lallo, yang kemudian menjadi istrinya dibincangkan agak panjang lebar dalam sub bab ini. Bagian keempat menceritakan perkawinan JKP dengan Elisabet Lallo yang semula sembunyi sehingga hanya dicatatkan di kantor catatan sipil yang jauh dari tempat tinggal mereka. Bagian lima mengisahkan perkawinan rahasia JKP terbongkar. Istrinya ditawan oleh keluarganya. Perkawinannya terancam putus, jika JKP tidak mau melakukan konversi agama. Demi mempertahankan tali perkawinannya, JKP yang sebelumnya taat pada agama leluhurnya akhirnya beralih ke agama Kristen. Bagian enam mengisahkan JKP dan istrinya pulang ke Bali, mulai belajar menjadi pemeluk agama Kristen dan menjadi guru di SMP Kristen Widyapura. Bagian tujuh menceritakan JKP mulai menekuni dunia pariwisata dengan cara menjadi guide. Bahasa Inggris yang dipelajarinya selama di India merupakan modal utama JKP sebagai guide. Membicarakan pula pengalaman JKP menjadi jongos di Pusat Pembinaan Anggota Gereja (PPAG) di jalan Diponogoro Denpsar yang kemudian membukanya jalan untuk bekerja di Pacto tahun 1969. Dari hanya menjadi guide, JKP akhirnya mampu menjadi manager Pacto, yang kemudian mengubah kehidupan sosial ekonominya. Bagian delapan mengisahkan JKP meninggalkan Pacto tahun 1979 untuk mendirikan usaha sendiri yang diberi nama Dewi Tours, yang diambil dari nama putri sulungnya.  Dewi Tours semakin besar setelah JKP setelah menyerap modal patungan dari Tour East. Pemerintah ternyata melarang usaha dalam bentuk PMA, maka JKP bangkrut. Demi bisa membayar hutang dan menanggung kebutuhan rumah tangga JKP bekerja di Vanuatu. Diceritakan pula JKP bangkit dari kebangkrutan dengan mendirikan PT. Tours East Indonesia.

Bab III berjudul PANDANGAN MENGENAI ALAM SEKITAR, yang dibagi menjadi enam sub-bab. Bagian satu berkisah mengenai kegemaran JKP memodikafi simbol-simbol budaya Bali untuk ditransfer dalam hiasan bangunan gereja. Bagian dua mengisahkan JKP mengelola aset gereja, kisah terpilih JKP sebagai ketua Yayasan Dhyana Pura yang merupakan aset Gereja. Bagian tiga membicarakan JKP berkecimpung lebih dalam dengan dunia pariwisata, dengan cara menjadikan imitasi budaya Bali sebagai paket wisata. Salah satu paket wisata yang ditawarkan JKP disebutnya Wedding Dream Package adalah upacara perkawinan adat Bali yang telah dihilangkan usur-unsur ritualnya yang ditujukan kepada pasangan yang sudah menikah di negaranya. Bagian empat membicarakan pemikiran JKP dalam dunia pendidikan, antara lain pendidikan harus mampu menjawab tantangan global, yang mendewakan percepatan sebagai suatu kata kunci. Bab ini juga mengisahkan polemik antara JKP dengan Pitana mengenai pendidikan. Bagian lima membicarakan teori manajemen pelayanan yang diterapkan oleh JKP dalam perusahaan yang dipimpinnya. Bagian enam tentang upaya JKP mencari format wisata alternatif.

Bab IV berjudul PANDANGAN ORANG-ORANG SEKITAR yang dibagi menjadi tiga sub bab. Bagian satu membicarakan pandangan keluarga. Pada bagian ini dapat dilihat bagaimana JKP mendidik anak-anaknya, yang dapat diketahui dari wawancara dengan kelima orang anaknya. Terlihat jelas, JKP adalah ayah yang moderat dalam hal pendidikan. JKP tidak pernah memaksakan kehendak pada anak-anaknya dalam hal pendidikan. Dengan cara itu, ternyata anak-anaknya relatif sukses dalam pendidikan. Anak dari istrinya  yang pertama adalah lulusan ISI, menjadi pelukis, tinggal di Yogyakarta. Anak sulungnya dari istri kedua, sarjana hukum lulusan Universitas Warmadewa. Anak yang nomor dua, S-1 lulusan Fakultas Teknik Institut Teknologi Bandung (ITB), Jurusan Arsitektur. S-2 lulusan Drexell University Philadelfia, Amerika Serikat untuk mengambil gelar MBA dalam bidang ilmu Investment. Anak nomor tiga lulusan Swimbourne Australia di bidang Computer dan anak yang nomor empat,  RMIT Melbourn bidang ilmu Broadcast Production. Bagian dua membicarakan pandangan orang-orang luar. Bagian ini membicarakan komentar kawan-kawan JKP, antara lain Gede Kompyang Pujawan,  yang pernah sekantor dengannya di Pacto. Pada bagian ini digambarkan dengan alasan JKP kelar dari Pacto menurut versi Sudira (Aridus), yang saat itu bekerja sebagai guide. Ada juga koe=mentar I Gusti Bagus Yudara yang membicarakan perbedaan penamilan JKP ketika masih di Pacto dan sesudah menjadi Presdir Pt. Tour East Indonesia. Ad juga komentar Bagus Sudibya, yang membicarakan perdebatan JKP dengan Wayan Sudana mengenai format pariwisata terbaik untuk Bali. Dari kalangan gereja, muncul komentar Pendeta Yama Pramana, Pendeta Nyoman Nama Suyasa, Pendeta Wayan Sunarya, dan sebagainya. Bagian tiga berbicara ungkapan hati anak JKP dri istri pertama tentang hubungan dirinya dengan JKP yang jauh di mata tetapi dekat di hati.

Kasubmahardi sang peresensi mengatakan dalam buku biografi JKP dijumpai bagaimana hal-hal yang negatif dan buruk dilukiskan sebagai pengakuan dan hal-hal itu ditransformasikan menjadi pemahaman dan langkah-langkah positif sebagai kesaksian. Dalam buku biografi JKP juga ditemukan terjemahan rohani. Semua pengalaman dan kejadian negatif maupun positif diterima sebagai campur tangan Tuhan. Dari tahap ini  filsafat hidup ditemukan dan dibakukan menjadi pegangan untuk mengubah orientasi hidup yang berlawanan.  Orientasi semula yang berpusat pada diri sendiri diubah menjadi berpusat pada Tuhan, yang kemudian diterjemahkan menjadi kemanusiaan. Karyawan yang semula merupakan bagian dari alat produksi dan sasaran keangkuhan diri berubah menjadi sasaran dan objek kasih.  Akhirnya, Kasubmahardi mengatakan, buku ini cukup mengandung kejujuran.

Prosopografi: Selat Salib dalam Lintas Bali

Buku Serat Salib dalam Lintas Bali (SSLB)  diawali dengan sebuah pertanyaan sudah sejauhmana tingkat pengetahuan para peneliti terdahulu mengenai penyebaran agama Kristen di Bali. Ternyata buku-buku terdahulu belum menunjukkan sebuah rekonstruksi sejarah kekristenan di Bali secara utuh, melainkan penggalan-penggalan peristiwa sejarah yang satu sama lainnya dihubung-hubungkan tanpa menggunakan alat perekat berupa interpretasi-kritis. Ada sejumlah persoalan mendasar yang luput dari perhatian penulis terdahulu, di antaranya menyangkut pertanyaan klasik bagaimana pengaruh agama Kristen Protestan terhadap masyarakat dan bagaimana budaya Bali mempengaruhi agama Kristen. Dari permasalahan itu akhirnya, bisa dibentuk suatu rumusan masalah yang dijabarkan dalam tiga pertanyaan penelitian.

Pertama, bagaimana kondisi sosiologis-psikologis-kultural orang-orang Bali yang beragama Kristen-Protestan, baik pada masa awal maupun masa perkembangannya. Ada dua hal penting yang perlu dipersoalkan, yakni masalah ideologi terutama perubahan keyakinan dan pemahaman terhadap agama yang baru dan masalah sistem nilai terutama apakah nilai-nilai tradisional masih terpakai dalam kehidupan sehari-hari;  Kedua, bagaimana proses peralihan agama pada diri orang-orang  Kristen Protestan pemula di Bali berdasar kondisi sosio-geografis dan sosio-ekologisnya; dan ketiga, bagaimana dinamika masyarakat dan budaya Kristen Protestan Bali, dengan penekanan pada masalah perilaku kehidupan sehari-hari.

Tiga pertanyaan penelitian di atas dijawab dengan menggunakan panduan metodologi sejarah, khususnya model Sejarah Agama dibantu pendekatan ilmu-ilmu sosial. Secara metodologis, sekalipun agama merupakan penghayatan yang bersifat sangat abstrak, tetapi kalau sudah direkonstruksi ke dalam model tersebut, mau tak mau dia harus disulap menjadi  suatu fenomena real. Sebagai sesuatu yang real, menurut Taufik Abdullah, paling tidak ada tiga kategori yang bisa dijadikan subject matter penelitian: agama sebagai doktrin,  dinamika dan struktur masyarakat yang “dibentuk” oleh agama, dan sikap masyarakat pemeluk terhadap doktrin. Ketiganya punya daya tarik masing-masing, tetapi bagai seorang istri, dia harus dipilih sesuai selera, karena tak ada sesuatu kekuasaan apapun yang dapat memaksa seseorang untuk memilih ketiganya. Oleh karena itu, demi asas kemandirian buku SSLB sejauh mungkin penulis menghindar dari kategori pertama. Hal ini semata-mata dimaksudkan untuk menjauhi ganjalan penelitian yang bersumber dari minimnya pengetahuan akan persoalan substantif  keyakinan: Kristen Protestan.

Dengan menggunakan pendekatan sejarah, tentu ada peluang besar untuk mengamati proses terjadinya perilaku perpindahan orang-orang Hindu ke agama Kristen. Lebih bagus lagi, penggunaan ilmu bantu sosiologi akan mampu melengkapinya dengan melihat posisi manusia tentu bisa dimaknai para zendeling yang membawanya ke perilaku itu. Sedangkan dari antropologi akan diteropong bagaimana terbentuknya pola-pola perilaku dalam tatanan nilai yang mereka anut. Biarpun perpaduan antar disiplin itu dapat mempermudah pemahaman terhadap perilaku, namun siapapun yang sedang berbicara tentang perilaku harus mampu membedakan antara perilaku yang memberikan tanda-tanda luar yang bercorak keagamaan  (perilaku ritual) dengan yang netral, yakni tidak mempunyai kaitan langsung dengan ajaran agama, seperti sepak bola, belanja ke pasar swalayan dan sebagainya.

Setelah mengupas metodologi Sejarah Agama secara panjang lebar, langkah selanjutnya adalah membicarakan seperangkat teori dan konsep yang menjadi guide. Teori hanyalah suatu penjelasan sistematis tentang fakta-fakta yang diamati berkenaan dengan aspek kehidupan tertentu. Penggunaan teori sangat membantu dalam menganalisis persoalan mengapa orang-orang Bali Hindu yang telah memeluk agama Kristen masih terikat pada hiasan-hiasan tradisi dan budaya. Niat memakai tradisi Bali secara tulus bukan karena paksaan, disebabkan oleh dua hal: pertama karena memang setuju dengan tradisi tersebut. Dengan menggunakannya akan timbul perasaan tetap sebagai orang Bali dan karena lebih siap mendekatkan diri dengan Tuhan Yesus. Kedua, bisa pula karena orang-orang terdekat atau yang disegani menghendaki agar  menggunakan tradisi tersebut.

Biarpun teori memiliki peran penting dalam penulisan, bukan berarti penelitian sejarah dimulai dari teori. Dalam awal  penelitian untuk buku SSLB, teori bukan menjadi penentu segala-galanya, artinya segala sesuatunya tidak mutlak berangkat dari teori. Penggunaan teori menjadi menonjol setelah kecenderungan data dapat diketahui. Dengan demikian teori diposisikan bukan untuk menyediakan jawaban atas ketiga pokok persoalan yang diajukan dalam buku SSLB, tetapi justru sebaliknya untuk menyediakan pertanyaan sebagai perlengkapan dalam merekonstruksi masa lampau. Kalau ada jawaban yang berhasil dibangun darinya, tetapi tetap merupakan suatu jawaban yang bersifat sementara. Oleh karena itu lebih tepat menyebut fungsi teori sebagai patokan arah dalam melacak, menentukan, menyeleksi pengamatan dan pengumpulan data. Bisa juga disebut untuk membentuk perspektif terhadap masyarakat Bali-Kristen Protestan. Tentu lebih jauh untuk membantu mengorganisir data atau fakta dalam pikiran sehingga tercipta semacam struktur.

Teori juga turut menentukan jenis pendekatan yang digunakan untuk melihat dari segi mana objek penelitian dipandang, dari dimensi mana peristiwa dilihat, dimensi apa yang diperhatikan, unsur-unsur mana yang diungkap dan sebagainya. Sebagai contoh, pendekatan sosiologi akan meneropong segi-segi sosial peristiwa, misalnya golongan sosial mana yang berperan, serta nilai-nilainya, hubungan dengan golongan lain, konflik berdasarkan kepentingan, dan sebagainya. Pendekatan Antropologi mengungkapkan nilai-nilai yang mendasari perilaku orang-orang, status, gaya hidup, sistem kepercayaan yang mendasari pola hidup dan lain sebagainya. Pendekatan politikologi menyoroti struktur kekuasaan, jenis kepemimpinan, hirarki sosial, pertentangan kekuasaan, dan sebagainya. Pendekatan itu hanya dapat digunakan dengan meniru cara kerja para peneliti sosial, budaya, dan politik.

Melalui pendekatan sosiologi misalnya, akan dijumpai suatu pemahaman bahwa agama tidak harus dilihat sebagai suatu fakta sosial yang bersifat obyektif. Sosiolog terkemuka Durkheim mengatakan ada dua hal untuk menunjukkan bagaimana cara-cara agama itu diwariskan: Pertama, agama merupakan fakta sosial yang obyektif,  artinya agama dipandang sebagai benda. Sifat obyektivitas tersebut didukung oleh tiga karekteristik (corak) yang terkandung di dalamnya, yakni: (i) agama diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya, maka jika dalam satu segi agama ada pada individu, maka dalam segi lainnya di luar diri individu, karena agama telah ada sebelum individu lahir dan akan tetap ada setelah dia mati: (ii) pada segala keadaan dalam masyarakat tertutup agama bersifat umum. Keumuman atau kolektivitas memberinya sifat obyektivitas yang melampaui pengalaman psikologis setiap individu: (iii) agama merupakan kewajiban yang di dalamnya juga terdapat sanksi-sanksi

Kedua, adalah otonomi fenomena, yaitu pada setiap tingkatan fenomena ada otonomi. Tidak mungkin ada kehidupan sosio-kultural tanpa fungsi-fungsi psikis pemikiran individual. Dari sini dapat dibangun suatu hipotesa bersifat sosiologis, masyarakat Hindu melakukan pengingkaran terhadap sifat-sifat obyektivitas ini sehingga terjadilah beberapa masalah dan  penolakan dengan beralih pada agama lain. Pada diri mereka, masuknya agama Kristen menyebabkan agama Hindu di mata mereka mengalami perubahan, tidak lagi fungsional. Hal ini menimbulkan beberapa masalah misalnya, pengucilan dari desa atau banjar, kehilangan hak dan kewajibannya sebagai anggota kerabat maupun masyarakat.

Penulisan sejarah masyarakat dan budaya Kristen Protestan ini, tidak cukup hanya dilihat dari sudut pandang sosiologis, melainkan secara menyeluruh (holistik) dari sudut pandang sosial dan budaya. Dari sudut pandang budaya, agama dilihat sebagai suatu gejala budaya. Agama ditempatkan  dalam unsur-unsur universal dalam kebudayaan, agama (sistem kepercayaan) hanyalah salah satu dari beberapa unsur lainnya. Di dalam agama ada beberapa komponen yang satu dengan lainnya saling berkaitan, yaitu: pertama, adanya emosi keagamaan, merupakan suatu getaran yang menggerakkan jiwa manusia untuk bersikap religius; Kedua, adanya sistem keyakinan, berwujud pikiran dan gagasan manusia, yang menyangkut kayakinan dan konsepsi manusia tentang sifat-sifat Tuhan; Ketiga, sistem ritus dan upacara, berwujud aktivitas dan tindakan manusia dalam melaksanakan kebaktiannya terhadap Tuhan, dewa-dewa, roh nenek moyang, dan lain lain; Keempat, sarana dan peralatan upacara, seperti : tempat upacara, patung-patung, gamelan, dan lain lain. Kelima, umat atau kesatuan sosial yang menganut agama tersebut.

Perubahan terhadap salah satu komponen religi tersebut mengakibatkan terjadinya pergeseran pada komponen yang lainnya juga. Dari sini dapat dibuatkan sebuah hipotesa bersifat budaya, bahwa perubahan keyakinan masyarakat Bali yang berpindah ke agama Kristen, berpengaruh pula terhadap perubahan sistem ritus dan upacara yang dilakukannya. Disamping itu mereka yang berpindah agama juga akan membentuk suatu kesatuan kolektif yang berfungsi menyatukan kelompok mereka. A.D. Nock, dalam studinya tentang masalah beralih agama (conversion) di zaman kuno menyebutkan kelompok keagamaan yang baru seringkali berbenturan dengan berbagai norma dan lembaga masyarakat yang telah mapan. Organisasi baru terlihat dalam batasan-batasan yang sangat radikal. Peralihan agama tidak bisa dilepaskan dari konversi dan regenerasi. Konversi berarti suatu organisasi personal yang ditimbulkan oleh identifikasi pada kelompok dan nilai-nilai baru. Sedangkan regenerasi menggambarkan sebagai anggota tetap dari suatu kelompok keagamaan baru dengan solidaritas tinggi mereka ditopang oleh nilai-nilai baru yang kini mereka anut bersama. Berbagai kelompok dalam peralihan agama itu dipengaruhi oleh wibawa budaya yang menurut mereka dibawa oleh agama baru atau ideologi baru. Ini bisa disebabkan oleh asal-usul ideologi, isi yang impresif, atau keterkaitannya dengan etnis lain yang dinilai sangat tinggi.

Berbeda dengan pandangan sosiologis maupun antropologis di atas, Weber berbicara tentang etika Protestan mengatakan konsepsi theologi telah menjadi kelengkapan orientasi yang lebih dalam dengan mempengaruhi tindakan manusia dan masyarakat. Dalam  bukunya ‘The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism’, tampak perhatian yang diberikan Weber terhadap agama sangat komprehensif. Dia  mengetengahkan dua hal penting yang merupakan ciri utamanya yakni,  pertama peran agama terhadap perilaku manusia sebagai unsur kausal yang independen. Kedua, etika Protestanisme antiseden atau hal yang mendahului kapitalisme modern dan faktor penting dalam pengembangannya.

Uraian di atas menunjukkan penulisan prosoporafi dalam buku tidak berbeda jauh dengan penulisan sejarah pada umumnya. Hanya saja dalam buku ini unsur-unsur prosopografisnya terlihat jelas dari sasaran yang ingin dicapainya, yakni kesaksian orang-orang Bali-Hindu yang beralih agama dari tahun 1931 – 2001. Mereka tersebar hampir di seluruh Bali. Di Badung mereka bermukim Desa Dalung dan Untal-Untal, Carangsari, Abianbase, Sading, Padangtawang, Kerobokan, dan Legian. Di Tabanan orang-orang Bali-Hindu yang melakukan konversi agama ada di Sudimara dan Blatungan. Di Buleleng mereka tinggal di Patas, Tinga-Tinga, Banyu Poh, Galungan, Liligundi, Gitgit, Kedis, Seririt. Tidak semua orang yang melakukan konversi agama berasal dari kalangan bawah, banyak juga yang dari kalangan menengah. Tidak semuanya pula dari golongan sudra (jaba), karena ada pula yang dari golongan brahmana, ksatria, dan wesia. Alasan mereka melakukan konversi agama, juga tidak sepenuhnya karena faktor kemiskinan, sebab ada juga faktor lainnya misalnya karena membayar kaul setelah penyakitnya disembuhkan oleh pendeta, karena kasepekang, perkawinan, dan tidak terbuktinya janji-janji keselamatan dilakukan melalui upacara.

I Made Titib, Guru Besar ahli Veda dari IHDN yang memberikan komentar terhadap buku ini mengatakan, umat Hindu patut berterima kasih kepada Nyoman Wijaya, karena ia bertindak bagaikan seorang dokter telah melakukan prognose, diagnose, dan terapi, sedang resep dan obatnya, perlu dicarikan pemecahan untuk mencegah semakin banyaknya umat Hindu meninggalkan agama yang dipeluknya. Nyoman Wijaya juga sudah melakukan penelitian (sayang belum dipublikasikan) Biografi Sosial Bhikku Thitaketuko Mahathera, yang menceritakan bagaimana orang Bali beragama Hindu beralih agama menjadi pengikut agama Buddha dan saya juga mendapat informasi (belum mendapatkan data yang valid) bahwa dewasa ini banyak orang Bali beragama Hindu khusus di Kabupaten Jembrana, Buleleng dan Gianyar beralih agama menjadi penganut agama Buddha dalam arti keluar dari agama. Siva-Buddha yang dianut sebelumnya, diantaranya salah satu pertimbangan mereka konon dalam agama Buddha mereka masih memiliki pamerajan/sanggan kamulan dan memuja roh suci leluhur seperti tradisi agama. [1]

Sementara, Usadi Wiryatnaya yang juga memberikan komentar terhadap SSLB mengatakan, dengan meramu berbagai faktor signifikan yang mendorong ribuan penduduk Bali beralih ke kepercayaan lain, maka apa yang disajikan oleh Nyoman Wijaya menjadi bahan bacaan dan kajian akademik yang cukup penting. Latar belakang sosiologik dan psikologik ditampilkan secara transparan dalam kaitannya dengan berbagai beban kultural sehari-hari yang dialami oleh para penganut Hindu pada umumnya dan mereka yang berganti kepercayaan. Dalam kerangka ini bisa dipahami mengapa orang yang menderita penyakit tak kunjung sembuh, yang merasa tak berdaya mengalami kehidupan terus-menerus diganggu oleh roh jahat dan pengaruh ilmu hitam (ilmu pangeleakan), menunjukkan kecenderungan tinggi untuk melakukan konversi. Suatu kesan kuat bisa mendarat di benak pembaca, terutama yang belum mengenal budaya Bali, bahwa membaca buku Nyoman Wijaya tidak menjumpai kesulitan yang berarti. Hal ini terjadi karena penulis melengkapi tulisannya dengan latar belakang historik-kultural sebelum melakukan tugas pokoknya. Tiga puluh satu halaman penuh dipergunakan untuk menulis latar belakang ini. Manfaatnya sangat terasa: orang membaca tanpa merasa seperti menjelajahi kawasan terraincognita, melainkan seperti bertamasya di sebuah taman indah yang disana-sini terdapat sudut-sudut yang sudah diakrabinya. Ungkapan-ungkapan dalam bahasa Bali yang banyak dikutip oleh penulis menghidupkan atmosfer budaya Bali yang terkait dengan peranan sang tokoh dan inti masalah yang mencuat. Dengan cara ini, paparan dan penafsiran terhadap peristiwa-peristiwa yang ditampilkan bisa berjalan lebih hidup. Lebih dari itu, bukan saja model ketat monografi yang diikuti tidak perlu berubah menjadi karya yang kehilangan jaringan pertautannya, melainkan tetap bisa mempertahankan keseimbangan antara pitungkas (message) yang disampaikan dengan kerangka sosio-kultural yang ada. Dalam hal “pemahlawan” tokoh-tokoh yang ditampilkan, Nyoman Wijaya senantiasa memberi ruang cukup untuk mengiprahkan faktor-faktor signifikan tertentu yang membuat para tokoh yang bersangkutan memang layak untuk ditokohkan.[2]

Masih menurut Usadi Wiryatnaya, dikaji dari bahan-bahan yang disajikan, karya Nyoman Wijaya bisa dikatakan padat informasi, karena ia mencoba menguak berbagai aspek yang terkait, lalu  menginterpretasikannya seobyektif mungkin berdasarkan sumber-sumber otentik yang bisa diperoleh. Tsang To Hang, misalnya, tokoh penginjilan terpenting dalam periode awal, tidak lepas dari sorotan di sana-sini bertalian dengan warna pakaian kegemarannya (yang kebetulan ada kaitannya dengan mimpi isteri I Gepek), sikapnya yang kaku-konfrontatif terhadap segala sesuatu yang terkait dengan agama Hindu dan adat-istiadatnya; pengalaman batinnya ketika mengalami usaha pembunuhan oleh orang membencinya lewat jalan pangeleakan atau ilmu hitam; kemampuannya menghadapi serangan-serangan tak kasat mata dari I Gepek dan masih banyak lagi hal-hal yang bersangkutan dengan dirinya. Dari sisi ini buku SSLB lebih mirip Kisah Rasul-Rasul (Acts) dalam Alkitab Perjanjian Baru dengan gelaran (setting) sosio-kultural Bali, yang dilengkapi dengan data-data seputar berbagai faktor-faktor wigati sebagai kerangka state of affairs yang ada.

Novel Biografis : Tana Toraja Berkalung Salib

Tandi Lallo pemain utama dalam novel biografis ini adalah tokoh sejarah. Ia lahir pada tanggal 5 Desember 1905 di Kampung Tondokratte, Distrik Pangala’, Tana Toraja Barat, Sulawesi Selatan dari lingkungan bangsawan. Ayahnya bernama Kidingallo dan Ibunya, Sobon, pengikut Aluk Todolo.  Tahun 1916, ia masuk ke sekolah rakyat di kampung To’Nanna, tak jauh dari kampungnya. Sekolah ini didirikan oleh De Greformerde Zending Bond (GZB), badan khusus pemberitaan Injil untuk etnis pedalaman Toraja dan daerah Luwu. Tahun 1919 sampai 1921 ia meneruskan ke sekolah Vervolg (Sekolah Sambungan) di Rantepao, sekitar 50 kilometer dari kampungnya. Tanggal 28 Desember 1921, ia dibaptis, dengan nama baptis Daniel, karena itu namanya berubah menjadi Daniel Tandi Lallo. Tahun 1922 ia meneruskan ke Normaalcursus di Barana’ sampai tahun 1923 untuk dididik sebagai kader calon Guru Injil. Tahun 1924 ia bertugas di Sekolah Rakyat Ponglamba’. Tanggal 13 Agustus 1925 menikah. Tahun 1933 ia meneruskan ke Sekolah Guru Injil di Barana’ sampai 1935. Saat itulah istrinya meninggal dunia. Tahun 1937 ia menikah lagi. Tahun 1938-1942 menjadi guru Injil ke Penanda Bokin. Tahun 1943 ia dimutasi ke Denpiku. Tahun 1948 kembali ke Pangala’. Di tempat ini ia mengabdi dan menghabiskan hari tuanya. Ia meninggal pada tanggal 25 November 1986.

Data tersebut di atas terungkap dengan jelas dalam buku biografi Tandi Lallo yang ditulis oleh Pendeta Menathan Tulak, S. Th., yang berjudul Sapaan Kasih Guru Injil Daniel Tandi Lallo (Tuang Guru Jalan). Biografi itu sudah mencoba memahami Daniel Lallo sebaik mungkin, namun penyajiannya sangat spesifik, hanya mudah dipahami oleh orang-orang yang satu budaya dengan penulisnya. Padahal idealnya pengalaman Tandi Lallo layak disuguhkan kepada pembaca lintaskultur, terutama komunitas Hindu di seluruh Indonesia karena sistem kepercayaannya sebelum memeluk agama Kristen,  sekarang ini disebut sebagai agama Hindu Alukta. Hindu Alukta mulai berintegrasi ke dalam komunitas Hindu Dharma di Indonesia sejak tahun 1980-an.

Berdasarkan pertimbangan itu, maka biografi Tandi Lallo dikembangkan menjadi sebuah novel sejarah. Dengan demikian, maka tercipta sebuah ruang dan waktu yang dapat saya gunakan untuk mengeksplorasi kebudayaan Tana Toraja dan membandingkannya dengan daerah-daerah lain di Indonesia, terutama Bali. Hal itu mungkin saja dilakukan, karena sebagaimana dikatakan almarhum Kuntowijoyo (2003) novel sejarah adalah sebuah karya sastra yang secara sengaja  menggunakan peristiwa sejarah sebagai bahan baku. Saya menggunakan peristiwa sejarah (pengalaman hidup Daniel Tandi Lallo) untuk membangun suatu gambaran ideal kehidupan beragama di tengah-tengah munculnya berbagai kasus kekerasan pada satu dekade terakhir ini (dekade pertama tahun 2000) yang berpangkal dari adanya individu atau kelompok-kelompok tertentu yang menyalahgunakan ajaran dan tujuan agama untuk mencapai kepentingan masing-masing. Jadi, novel biografis Tandi Lallo sekaligus merupakan jawaban intelektual dan literer saya terhadap problema masa kini, khususnya yang berpangkal pada kekerasan yang  berkedok agama.

Dalam upaya mencapai tujuan itu, saya menempatkan Tandi Lallo sebagai pemain utama, sedangkan tokoh historis lainnya yang sezaman dengannya dalam posisi minor. Sebagai penggantinya, saya munculkan tokoh-tokoh fiktif dengan berbagai kepribadian. Daniel Lallo dan tokoh-tokoh rekaan itu saya tempatkan dalam kebenaran sejarah (historical truth), namun bukan peristiwa yang sebenarnya (actual occurances). Akan tetapi ada kalanya pula Tandi Lallo saya tempatkan dalam peristiwa sejarah yang sebenarnya, namun kehadirannya seringkali (tentunya tidak selalu) sebagai pelaku fiktif, demikian pula sikapnya dalam peristiwa itu sering tidak mewakili kepribadiannya. Biarpun  penekanannya pada novel, namun saya menggambarkan semaksimal mungkin “keaslian sejarah” (historical authenticity) pada zaman kehidupan Tandi Lallo (1905-1986), yang meliputi bagaimana kira-kira gambaran kehidupan batin, moralitas, heroisme, kemampuan untuk berkorban, dan sebagainya dari para Guru Injil dan reaksi penduduk pribumi terhadap Zendeling, para pengabar Injil. Fakta-faktanya saya ambil dari buku biografi di atas dikombinasikan dengan buku-buku lainnya.

Saya juga menyajikan aspek kesetiaan sejarah (historical faithfulness) untuk menggambarkan keharusan-keharusan sejarah yang didasarkan basis sosial-politik Tana Toraja yang sesungguhnya, misalnya konflik antara Kristen versus Islam merupakan suatu keharusan sejarah pada awal tahun 1950-an yang bersumber dari perebutan sumber daya manusia pribumi antara berbagai kelompok kepentingan. Aspek sejarah lainnya yang coba saya gambarkan dalam novel sejarah ini adalah kemurnian warna lokal (local colour) untuk mengedepankan keadaan fisik, tata-cara, peralatan, dan sebagainya. Tujuannya semata-mata membantu pembaca lintaskultural menghayati  sejarah dan kebudayaan Tana Toraja. Datanya saya ambil dari hasil-hasil penelitian yang terkait, karena itu saya menggunakan daftar pustaka. Tujuannya agar para peminat kebudayaan nusantara menjadi semakin paham bagaimana sebuah kebudayaan lokal berproses mengalami perubahan atau pergeseran.

I Nyoman Kuta Ratna, Guru Besar Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Udayana yang berbicara dalam Kata Pengantar buku novel biografis ini mengatakan, dilihat dari bahasa maupun isinya, Toraja Berkalung Salib: Daniel Tandi Lallo adalah sebuah novel yang cukup segar. Sebagai genre novel sejarah seperti yang diterangkan oleh penulisnya, novel ini menyajikan unsur-unsur sejarah yang diramu dengan fiksi. Unsur sejarah terlihat dari tokoh utama dan kisah ceritanya  yang diangkat dari pengalaman hidup Daniel Tandi Lallo, seorang Guru Injil di Tana Toraja Sulawesi Selatan, sedangkan unsur fiksinya dari imajinasi sebagian ruang dan waktu yang dikarang oleh penulisnya. Novel sejarah, demikian juga novel yang sejenis seperti novel psikologis, sosiologis, antropologis, dan novel ilmu pengetahuan bertujuan menyajikan hakikat masyarakat yang sesungguhnya. Dia disusun atas pemahaman yang mendalam, bahkan sampai melakukan penelitian sebagaimana layaknya dalam penyusunan ilmu pengetahuan. Nyoman Wijaya, penulisnya melakukan hal ini. Oleh karena itu sangatlah wajar dia sampai mencantumkan sejumlah literatur yang digunakannya sebagai acuan. Penikmat sastra yang selama ini lebih banyak disuguhi novel-novel yang disusun semata-mata atas dasar kemampuan imajinasi, sudah semestinya bersyukur dengan kehadiran novel ini.

Rasa syukur itu, bukan hanya karena alasan  di atas, tetapi juga penulisnya secara tidak langsung telah mempraktekkan cita-cita multikulturalisme yang sedang kita perjuangkan akhir-akhir ini, atas kesediaannya mempelajari kebudayaan di luar komunitasnya, Bali. Belum banyak novel yang berbicara tentang kekhasan suatu daerah,  yang biasanya disebut karya sastra warna lokal, di antaranya: Sukreni Gadis Bali (Gusti Nyoman Panji Tisna) tentang masyarakat Bali. Upacara (Korrie Layun Rampan) tentang suku dayak di Kalimantan, Pulau (Aspar) tentang masyarakat Sulawesi Selatan, Sang Guru (Gerson Poyk) tentang masyarakat Nusa Tenggara Timur, dan novel-novel Balai Pustaka yang sebagian besar menceritakan masyarakat Minangkabau.

Novel-novel daerah seperti itu semakin penting artinya di saat kita sedang menggali potensi-potensi budaya lokal dalam rangka memposisikan globalisasi sebagai glokalisasi. Proses itu memerlukan saling pemahaman antara masing-masing kebudayaan di Indonesia sebagai pemahaman antaretnis, antaragama, dan antarkelompok, sehingga bangsa kita tidak hidup saling mencurigai, melainkan justru saling menghargai. Di sini pulalah sastra warna lokal berperan. Oleh karena itu Novel Toraja Berkalung Salib pantas dibaca, khususnya oleh generasi muda yang pada umumnya belum memahami keberagaman adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat Indonesia. Disamping beberapa kelemahannya, banyak manfaat positif yang akan diperoleh generasi muda atau pembaca pada umumnya; karena melalui novelnya yang perdana ini, Nyoman Wijaya, sejarawan yang kreatif menulis ini, berhasil mengkombinasikan fakta-fakta sejarah dengan imajinasi, sehingga menjadi novel warna daerah yang enak dibaca. Semoga dikemudian hari lahir novel-novel seperti ini, sehingga kekayaan masyarakat tertentu juga menjadi kekayaan bagi masyarakat lain, sebagai khasanah bangsa. Hal itu sangat mungkin terwujud jika sejumlah orang yang beruntung di masing-masing daerah mau memposisikan dirinya ala maesenas, dermawan pelindung kebudayaan, seperti halnya John Ketut Panca (JKP).

Selanjutnya, Nyoman Kuta Ratna mengatakan kehadiran novel biografis ini bukan hanya karena Nyoman Wijaya, sebagai subjek kreatornya, melainkan juga JKP sebagai maesenas, muliawan yang memberikan dukungan dan sokongan untuk menulis. Nyoman Kuta Ratna sampai pada kesimpulan itu, bukan hanya karena dirinya salah seorang sahabat JKP, tetapi juga setelah dia membaca kedua biografi JKP: ‘Biografi Si Penggembala Itik John Ketut Panca Pengalaman dan Pemikiran’ (2001); dan ‘Iman dalam Tindakan sebuah Biografi Intelektual’ (2006). Siapapun yang sempat membaca kedua buku itu dan mengetahui JKP adalah salah seorang menantu Daniel Tandi Lallo, tokoh utama dalam novel sejarah ini, akan mempunyai alur pemikiran seperti dirinya.

Melalui novel ini, JKP ingin menunjukkan bahwa dia bukan tipe orang yang suka mengabadikan perjuangan hidupnya sendiri, tetapi juga mertuanya; dan  yang sempat membaca motivasi di balik buku Serat Salib Dalam Lintas Bali: Menapak Jejak Pengalaman GKPB (2003) akan mengetahui bahwa JKP juga mengabadikan pengalaman dan perjuangan hidup orang di luar diri dan keluarganya, yakni komunitas Gereja Kristen Protestan di Bali. Tujuannya, bukan untuk meninggikan diri, melainkan mengajak pembaca ikut berpikir, berdialog, sehingga apa yang menjadi pergumulan baginya, juga menjadi semacam pengalaman bagi orang lain. Akhirnya pembaca dapat meniru hal-hal yang dianggap baik dari yang dilakukan oleh JKP ini dan sekaligus membuang yang dianggap buruk. Nyoman Kuta Ratna yakin masih banyak pejabat, pengusaha atau orang-orang yang diberkati Allah di negeri ini yang punya semangat seperti JKP, tetapi sedikit yang ingin dan mampu menyampaikannya kepada orang lain, khususnya dalam bentuk karya tulis, seperti biografi, autobiografi, fiksi, memoar, dan sebagainya.

Penutup

Dengan melihat ketiga contoh buku yang saya tulis di atas, akhirnya pertanyaan yang diajukan panitia dalam diskusi ini setidaknya bisa terjawab. Pertama, tidaklah benar biografi hanya ladang untuk orang-orang elite, para tokoh besar. Dalam kacamata sejarawan, siapapun punya hak untuk dituliskan biografinya. Seperti disebutkan dalam bait puisi di atas, biografi bukan kumpulan para hero. Kedua, memoar-memoar dalam biografi bisa dianggap sebagai dokumen sejarah, setidaknya sebagai fakta mental, yang sangat dibutuhkan dalam sejarah intelektual. Memoar-memoar itu memang tidak tidak bisa dilepaskan dari pandangan subjektif dari tokohnya, tetapi setdaknya kehadirannya tetap bisa disebut sebagai dokumen sejarah yang akan digunakan oleh para penulis berikutnya untuk menulis sejarah yang lebih luas. Memoar yang ditulis oleh para pejabat tinggi pemerintah kolonial Belanda di Bali, bahkan menjadi salah sumber primer dalam penulisan sejarah Bali zaman kolonial. Demikian pula halnya biografi, subyektivita tokoh dan penulisnya memang tak bisa dipungkiri, namun ada kaidah-kaidah keilmuan dalam Ilmu Sejarah yang menjadikan biografi dan prosopografi menjadi seobyektif mungkin. Dalam menulis biografi, terutama biografi ilmiah, bisa pula dalam biografi potret (biarpun tidak diharuskan) diperlukan juga penggunaan metodologi sejarah Biografi dan kerangka konseptual maupun teoretis. Dalam ilmu sejarah, dikenal aturan tak ada tulisan sejarah sebagai kisah yang benar-benar objektif. Objektivitas hanya terdapat dalam sejarah sebagai peristiwa, namun ketika data-data sejarah itu sudah dioleh menjadi fakta sejarah, secara otomatis statusnya sudah berubah menjadi subyektif, sebab fakta adalah intasri dari sumber sejarah, yang muncul dari pikiran sang sejarawan. Akhirnya biografi memang harus dibedakan dengan novel sejarah, yang betul dominan khayalan daripada data sejarahnya []

Kepustakaan

Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, Edisi Kedua, (Yogyakarta, Tiara Wacana, 2003).

Pemikiran Biografi dan Kesejarahan: Suatu Kumpulan Prasaran pada Berbagai Lokakarya Jilid II. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional l982/l983.

Sartono Kartodirdjo, 1992. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah, Penerbit : PT. Gramedia Pustama Utama, Jakarta 1992

Schwarz, Ted, 1990, Writing Biographies. Ohio: Writer’s Digest Books.

Titib, Made, 2006 “Bahasan Khusus: Pembaru Hindu di Bali Patut Mendapat Penghargaan,” Majalah Hindu Raditya Edisi 111, Oktober

Usadi Wiryatnaya, Resensi Serat Salib dalam Lintas Bali,  “Waskita” , Nopember 2005 (Kartasura: Universitas Kristen Satya Wacana)

Wijaya, Nyoman, 2001. Biografi Si Pengembala Itik John Ketut Pantja, Pengalaman dan Pemikiran. Denpasar-Yogyakarta; TSP & Pustaka Pelajar, 2001.

_______, 2002. “Merta Ada dan Perjalanan Bali Usada,” (manuskrip) Kerjasama Tri Sadhana Putra  (TSP) Art And Science Writing dengan Bali Usada Centre

_______, 2003 “Sang Sendi Dhamma: Biografi Sosial Bhikkhu Thitaketuko Thera,“ (manuskrip) Kerjasama Tri Sadhana Putra  (TSP) Art And Science Writing dengan CV. Mama & Leon, Denpasar Bali.

________, 2003. Serat Salib dalam Lintas Bali: Melacak Jejak Pengalaman Keluarga GKPB (Gereja Kristen Protestan di Bali) l931-2001. Denpasar: Yayasan Samaritan.

_______, 2006. “Menerobos Badai: Biografi Intelektual Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus”  (manuskrip) Kerjasama Tri Sadhana Putra  (TSP) Art And Science Writing dengan Drs. I Ketut Ngastawa, S.H., M.H., dkk.

_______, 2007. Serat Salib dalam Lintas Bali: Sejarah Konversi Agama di Bali l931-2001. Denpasar: TSPBooks.

________, 2007. “Mengabdi  Trinitas: Biografi  Dr. I Wayan Mastra, M.Th.” (manuskrip) Kerjasama Tri Sadhana Putra  (TSP) Art And Science Writing dengan Hotel Mastapa Garden

_______, 2008. “Revolusi Perbankan: Biografi I Gusti Made Oka Mantan Presdir Bank Dagang Bali” (manuskrip) Kerjasama Tri Sadhana Putra  (TSP) Art And Science Writing dengan Bank Dagang Bali

_______, 2008 Tana Toraja Berkalung Salib Daniel Tandi Lallo Sebuah Novel Sejarah. Denpasar: Yayasan Samaritan.

_______, 2009. “ Biografi Sosial Sang Penemu Sostrobahu: Tjokorda Raka Sukawati.” (manuskrip) Kerjasama Tri Sadhana Putra  (TSP) Art And Science Writing dengan Dr. Ir. Tjokorda Raka Sukawati di Puri Sosrobahu Ubud.


* Makalah yang disampaikan dalam diskusi Pustaka Bentara yang diselenggarakan oleh Kompas Gramedia pada hari Selasa, 22 Maret 2011, pukul 18.00 di Bentara Budaya Jalan By Pass Prof. IB. Mantra No. bb A, Ketewel, Gianyar.

© Sejarawan Universitas Udayana, Ketua Umum Kantor Sejarawan Profesional  Tri Sadhana Putra (TSP) Art and Science Writing tinggal di iwijayastsp@yahoo.co.id

[1] Made Titib, “Bahasan Khusus: Pembaru Hindu di Bali Patut Mendapat Penghargaan,” Majalah Hindu Raditya Edisi 111, Oktober 2006, pp. 52-53.

[2] Usadi Wiryatnaya, Resensi Serat Salib dalam Lintas Bali,  “Waskita” , Nopember 2005 (Kartasura: Universitas Kristen Satya Wacana)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s