Sandyakala Sastra #7 (Ngurah Parsua dan IDK Raka Kusuma)

DISKUSI SASTRA DEMI EDUKASI DAN APRESIASI PUBLIK

Untuk kali ketujuh, Bentara Budaya Bali (BBB), sebuah lembaga kebudayaan nirlaba dari Kompas-Gramedia, menggelar acara diskusi Sandyakala Sastra. Kegiatan yang diselenggarakan secara berkala setiap bulannya ini telah menghadirkan berbagai sastrawan yang berkiprah panjang dalam kehidupan kesusastraan di Bali dan Indonesia. Pada 21 Januari 2011 mendatang, dua penulis Bali akan hadir dan membagikan pengalaman berikut proses kreatifnya dalam mencipta karya, yakni I Gusti Ngurah Parsua serta IDK Raka Kusuma.

Tercermin dari kiprahnya selama ini, karya-karya kedua sastrawan tersebut tidak hanya mengeksplorasi keunikan akar kultur Bali, namun juga menyoroti situasi sosial pulau ini di tengah benturan antara nilai-nilai tradisi dan modern. Ngurah Parsua, kelahiran Bondalem, Singaraja, merupakan seorang pengarang yang terbilang produktif dan telah hampir tiga puluh tahun intens mengolah kreativitas menulisnya. Buku-bukunya yang telah terbit antara lain Matahari (1970), Sajak-sajak Dukana (1982), hingga yang terkini, kumpulan esai Hakikat Manusia dan Kehidupan (2009). Di sisi lain, Raka Kusuma, penyair yang pernah bergiat dalam Sanggar Biduana Klungkung dan kini bermukim di Karangasem sebagai pendidik ini juga memiliki proses kreatifnya yang menarik, sebagaimana tersirat dalam buku-bukunya, Kidung I Lontar Rograg (1991), Gambar Bulan (2006), serta berbagai karya-karya lainnya.

“Di samping itu, penting pula mencermati lebih dalam bagaimana tahapan kreatif mereka terkait dinamika zaman masing-masing, di mana Parsua bergiat semasa Lesiba (Lembaga Seniman Indonesia Bali) di tahun 1960 dan 1970-an, serta Raka Kusuma yang aktif dalam apresiasi sastra keliling Bali ala Umbu Landu Paranggi sekitar tahun 1980 dan 1990-an,” ujar Putu Aryastawa dari Bentara Budaya Bali.

Kedua sastrawan ini juga telah meraih beragam penghargaan cipta sastra tingkat lokal maupun nasional, serta kerap kali diundang dalam berbagai perhelatan sastra. Ngurah Parsua juga pernah dianugerahi Hadiah Sastra Tantular pada tahun 2008 atas dedikasinya terhadap perkembangan kesusastraan di Bali. Sementara itu, Raka Kusuma, yang bergiat mengelola Majalah Buratwangi, sebuah media apresiasi sastra berbahasa Bali, pun memperoleh Hadiah Sastra Rancage 2002.

“Selama ini, Bentara Budaya Bali turut berupaya dalam pelestarian serta pengembangan seni-seni tradisi maupun kontemporer, melalui berbagai acara apresiasi, pameran dan pertunjukan. Kesemuanya itu senantiasa berlandaskan pada semangat saling berbagi dan edukasi bagi masyarakat demi meningkatkan apresiasi terhadap kesenian dan kebudayaan. Kehadiran kedua sastrawan tersebut dalam acara Sandyakala Sastra seri ketujuh ini tentulah merupakan suatu hal yang amat bermakna, bukan hanya bagi para penggiat sastra, namun juga generasi muda,” tambah Juwitta Katrina Lasut yang juga merupakan pekerja budaya di BBB, seraya menambahkan bahwa Sandyakala Sastra kali ini akan dimulai sedari pukul 18.00 WITA, di Bentara Budaya Bali, Jalan By Pass Prof. IB. Mantra No 88A, Ketewel, Gianyar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s